Kisah Seorang Gadis yang Berhutang Ciuman pada Seorang Lelaki yang Belum Halal

0
18448

Harakah.idJanji adalah hutang. Pernah ada seorang gadis yang berjanji memberi sebuah ciuman kepada seorang pemuda. Tetapi, setelah itu si gadis menyesal seumur hidup ketika teringat janji tersebut. Inilah kisah seorang gadis yang berhutang ciuman pada seorang lelaki yang belum halal.

Sepasang kekasih yang belum terikat dengan ikatan yang suci (pernikahan) sungguh akan banyak menemui berbagai macam godaan ketika bertemu, apalagi ketika hanya berduaan. Dalam kondisi seperti itu, setan akan dengan mudah menggoda untuk melakukan hal-hal yang mendekati zina atau bahkan langsung melakukan zina. Era serba modern ini, hal-hal yang mendekati zina sering dianggap sebagai hal yang lumrah. Bahkan jika tidak melakukan pelukan, ciuman, dan lain sebagainya; dianggap ‘norak’. 

Padahal zaman dahulu, terdapat sebuah kisah tentang seorang gadis yang sangat menyesal seumur hidupnya karena berjanji akan memberikan sebuah ciuman pada seorang lelaki. Kisah ini terdapat dalam kitab Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin karya Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Berikut kisah lengkapnya.

Sufyan bin Muhammad menyebutkan bahwa suatu hari Azzah menemui Ummu al-Banin (Saudari Umar bin Abdul Aziz). Ketika dua perempuan itu telah saling berhadapan; Ummu al-Banin bertanya pada Azzah, “Hal apa yang sesungguhnya telah terjadi antara dirimu dan Kutsayyir?”. 

Azzah menjawab, “Mengapa tiba-tiba kau bertanya tentang hal itu, wahai Ummu al-Banin?”

Ummu al-Banin berkata, “Sebab dia (Kutsayyir) berkata kepadaku bahwa setiap orang yang berutang harus segera melunasi utangnya jika dia mampu, tetapi Azzah malah selalu mengulur-ulur waktu untuk membayar utangnya. Memangnya, seberapa besar utangmu padanya?”.

Dengan wajah murung dan tampak dinaungi banyak kegelisahan; Azzah menjawab, “Aku pernah menjanjikan sebuah ciuman kepada Kutsayyir, tetapi aku tidak akan pernah bisa memenuhi janjiku tersebut. Aku takut melakukannya”. 

Ummu al-Banin dengan penuh keteguhan hati berkata kepada Azzah, “Biarkan aku yang menebus janjimu kepada Kutsayyir, sehingga dosa akibat dari janjimu tersebut telah menjadi tanggunganku.” 

Karena janji yang telah diucapkan oleh Azzah kepada Kutsayyir tersebut, Ummu al-Banin menebusnya dengan cara membebaskan empat puluh budak. Meskipun janji Azzah telah ditanggung oleh Ummu al-Banin, Azzah tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa bersalah yang bersarang di dalam hatinya.

Setiap kali Azzah mengingat janjinya tersebut, Azzah selalu bersedih dan meneteskan air mata. Dalam tangisannya, Azzah berkata, “Andai saja dulu aku lebih berhati-hati dan tidak mengucapkan janji seperti itu pada Kutsayyir, niscaya aku tidak akan pernah semenyesal ini seumur hidupku”. 

Itulah kisah Azzah yang seumur hidupnya menyesali janji yang pernah terucap kepada Kutsayyir, meskipun janji tersebut telah ditebus oleh Ummu al-Banin. Kisah ini mengajarkan umat muslim untuk senantiasa berhati-hati dalam setiap kata yang keluar dari lisannya, sebab bisa saja perkataan tersebut akan menjadi penyesalan seumur hidupnya.

Demikian kisah gadis yang berhutang ciuman. Era modernisasi membuat segala macam ucapan menjadi ‘lebih bebas’ dari sebelum-sebelumnya, sebab media sosial adalah wadah untuk mengungkapkan segala ekspresi dan segala ekspresi tersebut bisa diungkapkan dengan menyembunyikan identitas aslinya lewat akun-akun palsu. Semoga kita semua dilindungi dari ucapan-ucapan yang menimbulkan penyesalan. Amin.