Kisah Su’airah Al-Asadiyyah, Sahabat Perempuan yang Menolak Didoakan Sembuh dan Memilih Sabar Atas Penyakit Ayannya

0
7183
Kisah Su'airah As-Sa'diyyah, Sahabat Perempuan yang Menolak Didoakan Sembuh dan Memilih Sabar Atas Penyakit Ayannya

Harakah.idKisah Su’airah Al-Asadiyyah patut dijadikan cermin motivasi, bukan hanya untuk wanita muslimah, tapi juga umat Muslim. Kesabarannya atas penyakit ayan yang dideritanya membuahkan hasil berupa tempat khusus di surga.

Su’airah Al-Asadiyyah adalah salah satu shahabiyah pada zaman Rasulullah. Wanita shalihah yang menjadi bukti nyata kesabaran dan keridhaan seorang hamba atas apa yang Allah takdirkan kepadanya. Kisah perjalanan hidupnya tidak tertulis secara rinci dalam sejarah, hanya tercantum dalam sebuah hadits shahih. Kisah Su’airah Al-Asadiyyah dapat menjadi tauladan bagi muslimah masa kini.

Ummu Zufar panggilan yang dikenal olehnya merupakan seorang wanita yang berasal dari Habsyah (Ethiopia). Dalam buku Muslimah, Tetaplah Shalihah Meski Zaman Berubah! dijelaskan bahwa ia  merupakan wanita berparas hitam dan mengidap penyakit ayan atau epilepsi. Meskipun banyak kekurangan yang dimilikinya, tidak sedikit pun menghalanginya untuk beriman dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini justru membuat dirinya terkenal dengan keimanannya yang tidak diragukan lagi.

Berawal dari kegelisahan atas penyakit yang dideritanya, menghantarkannya untuk datang menemui Rasulullah. Ia malu, setiap kali penyakit epilepsinya kambuh pakaiannya tersibak dan tampaklah auratnya. Ia berharap agar penyakitnya lekas sembuh dan dapat menjaga kesucian dirinya. Kisahnya ini termaktub dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari dari Atha’ bin Abi Rabbah.

…حَدَّثَنِي عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ، قَالَ: قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ: أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي، قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ» فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا

“…Dari Atha’ bin Abi Rabbah, ia berkata: ‘Suatu ketika Ibnu Abbas berkata kepadaku: ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?’ ‘Tentu saja’ jawabku. Ibnu Abbas berkata: ‘Wanita hitam itulah orangnya. Ia datang kepada Rasulullah dan berkata: ‘Sesungguhnya aku menderita penyakit ayan yang setiap kali kambuh pakaianku tersingkap dan auratku terbuka. Berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku.’ Rasulullah bersabda: ‘Jika engkau mau bersabar dengan penyakit yang engkau derita, maka surga yang akan engkau peroleh. Namun, jika engkau memilih doa maka aku akan mendoakan kesembuhanmu kepada Allah.’ Wanita itu kemudian menjawab: ‘Aku akan memilih bersabar’. Kemudian ia berkata lagi: ‘Tetapi apabila kambuh pakaianku selalu tersingkap dan auratku terbuka, maka doakanlah agar pakaianku tidak tersingkap dan auratku tidak terbuka.’ Maka Rasulullah pun mendoakannya.” (HR. al-Bukhari/5652)

Hadits ini merupakan bukti betapa mulianya keteguhan iman yang dimiliki Su’airah al-Asadiyyah. Dalam kondisi sakit yang dideritanya, ia malu dan takut kepada Allah jika auratnya terbuka. Ia lebih memilih sabar daripada kesembuhan penyakitnya karena ia yakin bahwa musibah yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang sabar akan berganjar surga untuknya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam potongan ayat Q.S. al-Baqarah [02]: 155 dan Q.S. az-Zumar [39]: 10.

…وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“…dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” 

…إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“…sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Inilah yang menjadi visi Su’airah al-Asadiyyah. Lalu bagaimana sikap kita sebagai wanita muslimah generasi masa kini? Hendaknya kita kembali meneladani sosok wanita muslimah yang berjalan di muka bumi namun statusnya telah resmi menjadi penghuni surga. Dengan kesehatan jasmani yang dianugrahi Allah kepada kita hendaknya kita lebih berhati-hati dalam menjaga aurat agar tidak terlihat yang bukan mahram. Sebagaimana perintah Allah dalam Q.S. an-Nur [24]: 31 untuk setiap wanita agar menutup auratnya.

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman; Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka….”

Lain halnya jika seorang wanita muslimah harus membuka auratnya kepada yang bukan mahram karena ada hajat, seperti berobat ke dokter yang mengharuskannya membuka aurat untuk diperiksa selama tidak menimbulkan fitnah, maka hal itu diperbolehkan. Sebagaimana yang diringkas dari penjelasan Syaikh Sholih al-Munajjid dalam Fatawa Al-Islam Sual wal Jawab (nomor 5693).

Demikianlah sekelumit kisah Su’airah As-Asadiyyah dan ibrah yang dapat diambil dari indahnya rasa malu dan kesabarannya yang memilih akhirat dibandingkan dunia karena ia menyadari bahwa kesenangan dunia itu hanyalah fatamorgana. Ia yang memilih jannah dengan bersabar atas penyakit epilepsinya.

Oleh sebab itu, hendaknya wanita muslimah dengan kesehatan yang dimilikinya senantiasa bersyukur kepada Allah dengan menutup auratnya dan berpegang pada hijab syar’inya agar Allah juga menutupinya dengan memberikan perlindungan di dunia dan di akhirat. Semoga kisah Su’airah al-Asadiyyah kembali menginspirasi wanita muslimah dan menjadi tauladan agar dapat menjadi penghuni surga yang dirindukan Allah.