Kisah Sufi Ibnu Zaid Yang Diusir dan Dinasihati Calon Istri Surgawi

0
1077

Harakah.id Allah mengabulkan doa Ibnu Zaid. Memberitahunya, jodohnya ada di kota Kufah. Ia mendatangi calon istrinya. Tidak disambut, Ibnu Zaid diusir dan dinasihati calon istri surgawi. Kenapa?

Imam Dzahabi dalam Tarikh al-Islam mengatakan, Abdul Wahid bin Zaid, selanjutnya ditulis Ibnu Zaid, adalah seorang ahli ibadah, panutan, dan guru besar sufi di Basrah. Ia memiliki kunyah Abu ‘Ubaidah al-Bashri. Ia meninggal pada tahun 177 H. Banyak keistimewaan yang dimilikinya. Salah satunya adalah doanya yang cepat dikabulkan. 

Dalam Hilyatul Auliya`, diriwayatkan dari Abu Sulaiman Ad-Darani, suatu ketika ia pernah menderita kelumpuhan, ia meminta kepada Allah agar lumpuhnya dihilangkan pada waktu wudhu. Ketika ia hendak mengambil air wudhu, seketika lumpuhnya langsung hilang. Sayangnya, pada waktu kembali ke tempat tidur, lumpuhnya balik lagi. 

Masih dalam Hilyatul Auliya`, diriwayatkan dari Fudhail bin Iyadh, suatu hari Ibnu Zaid penasaran dengan siapa pendampingnya kelak di surga. Rasa penasaran ini membuat ia berdoa kepada Allah setiap malamnya. Baru tiga malam berdoa, ia merasa seolah-olah ada yang mengatakan kepadanya bahwa calon istrinya di surga sekarang sedang berada di Kufah. Namanya adalah Maimunah as-Sauda`. 

Karena penasarannya yang begitu tinggi, ia kemudian bergegas menuju Kufah dan mencari informasi tentang Maimunah. Qila wa Qala, ternyata perempuan yang dicari adalah perempuan yang tampilannya seperti orang gila dan tiap hari kesibukannya hanya menggembala kambing di gurun. Mendapat informasi itu, semangatnya tak kendur dan rasa penasaran untuk melihat calon istri surgawi tetap tinggi sekali. 

Ia bergegas menuju gurun supaya bisa bertemu dengan Maimunah. Sesampainya di sana, kebetulan calon pendamping surganya tersebut sedang menunaikan salat, memakai jubah dari kain wol yang bertuliskan “Tidak Dijual dan Tidak Dibeli”, di sekitarnya ada tongkat untuk menggembala, dan ada domba-domba yang bersama serigala di mana serigala tidak memangsa domba dan domba tidak takut pada serigala. 

Kedatangan Ibnu Zaid yang bakal menjadi pendampingnya di surga tidak lantas membuat shalat Maimunah semakin khusyuk. Ia justru mempercepat shalatnya. Selesai salat, ia langsung mengeluarkan kata-kata manis layaknya pesan yang turun langsung dari surga. Katanya, “Pulang kamu Ibnu Zaid, bukan sekarang ini dan bukan di sini tempat kita bertemu, tapi nanti di sana (surga)”. 

Ibnu Zaid pun langsung terkejut mendengar itu. Belum basa-basi memperkenalkan diri ternyata sudah diusir. Kata Ibnu Zaid, “Kamu tahu dari siapa kalau aku Ibnu Zaid?” Pertanyaan ini membuat Maimunah agak terkejut mengingat Ibnu Zaid adalah seorang sufi besar. Kata Maimunah, “Apa kamu tidak tahu kalau: ruh-ruh itu seperti para pasukan yang berkelompok-kelompok, yang saling mengenal di antara mereka akan bersatu sementara yang tidak saling mengenal akan berselisih (HR. Bukhari-Muslim)?”

Bukan menjawab tahu atau tidak, Ibnu Zaid yang mendengar pertanyaan balik Maimunah dengan sebuah hadis malah justru meminta nasihat kepada Maimunah. Sekali lagi, Maimunah sebagai calon istri surgawinya kembali dibuat heran oleh Ibnu Zaid. Kata Maimunah, “Duh, kamu kok aneh, suka memberi nasihat kok minta dinasihati.”

Barangkali, keterkejutan Maimunah didasari oleh ketidaktahuan bahwa Ibnu Zaid lemah dalam penguasaan hadis. Ibnu Zaid memang meriwayatkan hadis, namun banyak ulama yang meninggalkannya. Kata Ibnu Hibban, “Ibnu Zaid adalah salah satu orang yang terlalu banyak ibadah sampai-sampai ia lupa atas penguasaan [pen. hadis], maka dari itu banyak hadis-hadis mungkar darinya” (Tarikh al-Islam).

Maimunah kemudian memberi nasihat agak panjang dan filosofis kepada Ibnu Zaid, hingga membuatkan syair untuknya. Berikut nasihat dan syairnya. 

“Hai Ibnu Zaid, andaikan kamu sudah menetapkan aturan-aturan yang adil pada dirimu sendiri niscaya saya akan memberitahukanmu rahasia yang tersimpan di dalamnya.

Hai Ibnu Zaid, memang tidak ada seorang hamba yang setelah memberikan sesuatu [pen. ceramah] kemudian mau mencari lagi untuk kedua kalinya [pen. belajar lagi], kecuali Allah sudah menghilangkan rasa cintanya untuk khalwat bersama-Nya, menempatkannya di kejauhan setelah sebelumnya ia berada dekat dengan-Nya, dan menggantinya dengan kesedihan setelah sebelumnya ia memperoleh kesenangan.” 

“Hai pemberi nasihat yang menyuruh untuk muhasabah * yang mencegah suatu kaum dari berbuat dosa

Kamu melarang namun kamu sebenarnya sedang sakit * ini adalah perkara mungkar yang aneh

Seandainya kamu sudah memperbaiki aibmu sendiri sebelumnya * atau bertaubat dalam waktu dekat

Maka ketika kamu berkata [kepada orang lain], wahai kekasihku, * [kamu sudah] berada di tempat yang benar dari hati

Kamu mencegah perbuatan sesat dan yang terus menerus berbuat sesat * sementara kamu sendiri ketika mencegahnya seperti orang yang ragu-ragu

Ada perbedaan versi terkait syair ini. Redaksi syair di atas adalah versi dari kitab Hilyatul Auliya` dan Shifat al-Shafwah. Sementara itu, dalam Tafsir al-Qur`an al-Adhim karya Ibnu Katsir, syair kelima ditempatkan di posisi ketiga, syair ketiga di syair keempat, dan syair keempat di syair kelima. 

Perbedaan ini sebenarnya juga mencakup narasi asal-muasal Ibnu Zaid meminta nasihat. Dalam Tafsir al-Qur`an al-Adhim, setelah Ibnu Zaid disuruh pulang oleh calon pendampingnya di surga, ia kemudian bertanya tentang kambing dan serigala yang bisa bersama tanpa harus ada fenomena kambing dimangsa serigala.

Jawab Maimunah, “karena saya dan tuanku sudah tidak ada masalah, maka hubungan antara kambing dan serigala bisa baik”. Atas jawaban ini, Ibnu Zaid langsung meminta nasihat kepada Maimunah. 

Ini berbeda dengan yang ada dalam Hilyatul Auliya`dan Shifat al-Shafwah, yang mana permintaan nasihat diawali oleh pertanyaan balik Maimunah tentang sebuah hadis kepada Ibnu Zaid seperti yang sudah digambarkan dari awal. Dalam kedua kitab ini juga, pertanyaan Ibnu Zaid tentang kambing dan serigala ditempatkan setelah Maimunah memberi nasihat panjang lebar hingga membuat syair untuk Ibnu Zaid. 

Terlepas perbedaan versi yang ada, inti dari cerita ini masih tidak kabur. Ada semacam pesan khusus kepada para pemberi nasihat agar selalu instropeksi diri sebelum memberi nasihat, sebagaimana Ibnu Katsir menukil cerita ini ketika menafsirkan surat al-Baqarah ayat 44.