Kisah Sunan Drajat, Karomah, Keteladanan, hingga Makamnya di Lamongan

0
1329

Harakah.idSunan Drajat adalah salah satu Walisanga yang terkenal menyebarkan agama Islam di Lamongan, Jawa Timur. Inilah kisah Sunan Drajat, Karomah, Keteladanan hingga Makamnya di Lamongan.

Sunan Drajat adalah salah satu Walisanga yang terkenal menyebarkan agama Islam di Lamongan, Jawa Timur. Sunan Drajat yang memiliki nama kecil Syarifudin, atau  Raden Qasim bin Muhammad Ali Ramatullah bin Ibrahim Assamaraqandi. Ia lahir tahun 1470 M  dari seorang ulama masyhur sekaligus guru para wali, yaitu Sunan Ampel (Muhammad Ali Rahmatullah, dan ibunya bernama Retna Ayu Manila (Dewi Candrawati). 

Sunan Ampel  bersaudara dengan Sunan Bonang, seorang dai besar sekaligus pendiri kerajaan Demak. Sejak kecil, dikenal cerdas menguasai berbagai ilmu pengetahuan agama Islam. Menginjak remaja Raden Qasim Ia mulai berpetualang menyebarkan ajaran Islam di Desa Drajat. Desa ini disebut sebagai perdikan yang diberikan oleh Kerajaan Demak, yang terletak di daerah Kecamatan Paciran, Jawa Timur, Desa Drajat inilah sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad ke-15 dan ke-16 Masehi selama 36 tahun. Sunan Drajat yang dikenal salah satu  Walisanga ternyata  memiliki banyak nama, yaitu: Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, dan Maulana Hasyim. 

Mengubah Pesisir Gersang menjadi  Lebih Maju

Sunan Drajat dikenal jiwa sosial yang tinggi dan memiliki keahlian bidang pertanian, agama serta ekonomi. Dari bekal keahlian inilah Ia datang ke daerah pesisir di Lamongan bernama Desa Jelak, yang menganut agama Hindu, dan Budha. Melihat kehidupan keagamaan desa itu,  Sunan dengan sabar mengajak masyarakat desa setempat masuk Islam lewat pembangunan mushala sebagal tempat Ibadah tahun 1428 M.

Tahun 1429 M, Ia kembali berpetualang ke kawasan hutan belantara yang berada di Paciran, Lamongan. Daerah itu sejak kedatangan Sunan mengalami perubahan yang luarbiasa. Perlahan, tapi pasti berkembang  menjadi daerah subur dikenal dengan sebutan Desa Drajat. Di Desa ini Ia membangun Pesantren Dalem Duwur, yang  konon kabarnya daerah  ini diberikan oleh Raja Demak Raden Patah, Sultan Demak tahun 1520 M, diberi gelar Sunan Mayang Madu tahun 1484 M dari sinilah pula  Ia mendapat gelar Sunan Drajat.

Memindahkan Masjid dalam Satu Malam

Dikisahkan, Sunan Sendang Dhuwur mendatangi Sunan menyampaikan keinginannya memiliki masjid di Desa Sendang Dhuwur. Keinginan Sunan Sendang Dhuwur seperti tertunda mengingat ada beberapa syarat, salah satunya harus dipindahkan dalam waktu semalam. Syarat lain dalam pemindahan masjid tersebut, yaitu tidak boleh ada yang tercecer di jalan.

Konon kabarnya, pemindahan masjid tersebut berhasil dilakukan, dan menurut penjaga museum Sunan Drajat di Paciran, Jawa Timur  bernama Nurhayati menyebutkan atas bantuan Allah masjid itu pindah ke Sendang Dhuwur. Melihat masjid telah pindah dan tertancap kuat di Desa Sendang Dhuwur dalam waktu tak sampai semalam membuat Sunan Drajat senang.

Masyarakat setempat pun kaget, karena keesokan harinya telah berdiri dengan megahnya bangunan masjid di tengah pemukiman warga. Namun, mereka mempergunakannya masjid sebagai tempat shalat dan berbagai kegiatan umat Islam yang lain

Metode Dakwah Kesenian Tembang Pangkur

Cara dakwah Sunan dalam menyebarkan ajaran Islam berbeda dengan anggota Walisongo lain. Cara ini dilakukannya supaya orang lain mau mendengarkan dakwahnya dan tertarik belajar Islam. Salah satunya lewat metode kesenian, dengan alasan kesenian digandrungi oleh masyarakat setempat, yaitu: tembang Pangkur. Lewat alunan tembang pangkur, masyarakat lebih tertarik untuk mendengarkan sambil belajar Islam mengingat sebagian besar masyarakat saat itu masih memeluk ajaran Hindu, 

Metode dakwah Sunan yang disebut mampu membuat masyarakat Hindu terpikat.Tembang pangkur diiringi seperangkat gamelan yang diberi nama Singo Mengkok digunakan dalam berdakwah. Seperangkat gamelan Singo Mangkok, 9 hingga kini masih disimpan secara lengkap dalam museum Sunan Drajat, yang letaknya satu komplek dengan makam.

Ketujuh Tingkatan Tangga atau Sap Tangga, Filosofi Dakwah Sunan Drajat

Sunan dikenal ulama yang cerdas dengan menciptakan filosofi dakwah yang disebut 7  Tingkat Tangga atau Sap Tangga, Pertama: Memangun Resep Tyasing Sasamo, yang artinya selalu membuat hati orang lain menjadi senang, dan gembira, Kedua: Jroning Suka Kudu Eling lan Waspada,  yang berarti: Meskipun sedang dalam keadaan senang dan bahagia, kita harus tetap ingat dan waspada

Ketiga: Laksmitaning Subrata Tan Nyipta Marang Pringgabayaning lampah: dalam perjalanan meraih cita-cita luhur, maka jangan takut akan segala rintangan. Keempat: Meper Hardining Pancadriya: selalu berusaha  menekan hawa nafsu. Kelima: Heneng-hening-henung, yaitu: Di dalam keadaan diam akan memperoleh keheningan atau ketenangan  dan di dalam keheningan kita bisa meraih dan mencapai cita-cita yang luhur. 

Keenam: Mulya Guna Panca Waktu, yaitu; Suatu kebahagian lahir batin akan diperoleh, jika kita  mengerjakan dan menuaikan shalat lima waktu. Ketujuh, Catur Piwulang: berilah tongkat pada orang yang buta( tidak dapat melihat), berilah makanan pada orang yang kelaparan, berilah payung pada untuk orang yang kehujanan, dan berilah pakaian kepada orang yang tidak berpakaian. 

Dari metode dakwah  Sunan Drajat berdasar filosofi Sap Tujuh inilah menurut buku, ” Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual terbitan Kompas,  muncul 3 hal yang difokuskan Sunan Drajat, yaitu: pendidikan, dakwah, dan sosial. Dalam pendidikan diajarkan di masjid, pesantren, dakwah dilakukan gending, dan tembang Pangkur, sedang sosial kemasyarakatan  

dilakukan membenahi kondisi sosial. Perjuangan Sunan dalam berdakwah oleh masyarakat setempat disebut Catur Piwulang. Catur Piwulang disebut merupakan ajakan untuk memberi pertolongan, makan, pakaian, serta melindungi masyarakat yang membutuhkan. 

Berjiwa Sosial Tinggi

Sunan dikenal sebagai wali yang berjiwa sosial tinggi, memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Ia disebut pemerhati masalah sosial yang tinggi, yang terlihat dari upayanya kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran sosial. Tidak hanya kesejahteraan sosial, Ia juga menekankan etos kerja untuk mengetaskan kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Sunan Drajat menurut Agus Sunyoto, dalam bukunya berjudul,”Atlas Wali Songo, tahun 2012 selalu mendidik masyarakat sekitar peduli nasib fakir miskin, kesejahteraan umat, maupun empati. 

Peninggalan Sunan  Drajat

Pertama, Makam Sunan Drajat. Makam Drajat yang berada di daerah perbukitan Paciran yang disebut Ndalem Dhuwur. Di kawasan ini terdapat beberapa makam wali lainnya, Makam Sunan Drajat, tepatnya berada di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Paciran, Jawa Timur. 

Kedua: Masjid Sunan Drajat. Masjid peninggalan Sunan terletak di satu kompleks dengan makam yang masih terawat, meski sudah mengalami pemugaran.

Ketiga: Museum Sunan Drajat. Museum Sunan Drajat dibangun oleh pemerintah, sebagai tempat menyimpan dan mengenang jasa-jasanya mengajarkan Islam. Museum Sunan Drajat yang terletak di timur kompleks pemakaman menyimpan berbagai koleksi mulai dari gamelan Singo Mangkok, tembang Pangkur, keramik,  hingga terakota. Dari sini dapat melihat perjuangan, jasa dalam menyebarkan ajaran Islam, seperti beberapa filosofi hidup yang dimiliki Sunan Drajat bisa jadi pelajaran, pedoman, dan  patut untuk diteladani