Kisah Tobatnya Fudhail Bin Iyadh, dari Perampok hingga Menjadi Gurunya Ulama

0

Harakah.idTerdapat berbagai versi terkait kisah tobatnya Qadhi Iyadh. Di antaranya ialah yang dituturkan oleh Syekh Muhammad Mutawali asy-Sya’rawi dalam kitab Qashash ash-Shahabah wa ash-Shalihin.

Banyak dari ahli sejarah yang menuturkan bahwasannya Al-Qadhi Fudhail bin Iyadh merupakan mantan perampok yang pada akhirnya menjadi ahli ilmu. Hingga setelah beliau tersohor kealimannya, banyak dari para penuntut ilmu yang berguru kepada beliau.

Terdapat berbagai versi terkait kisah tobatnya Qadhi Iyadh. Di antaranya ialah yang dituturkan oleh Syekh Muhammad Mutawali asy-Sya’rawi dalam kitab Qashash ash-Shahabah wa ash-Shalihin.

Suatu hari Fudhail bin Iyadh akan menjalankan aksinya untuk merampok. Tak lama setelah ia menunggu di tempat biasanya, datanglah sekelompok orang yang akan menjadi sasarannya. Setelah dekat, di antara orang-orang itu ada yang berbisik, “Segeralah menjauh dari tempat ini. Di sini ada Iyadh, ia tak akan membiarkan seorang pun selamat, kecuali telah menyerahkan seluruh harta kepadanya.”

Tatkala ia mendengar kepanikan dan ketakutan orang-orang terhadap sosok Fudhail bin Iyadh, ia justru mengurungkan niatnya untuk merampok. Fudhail kemudian menemui kafilah tersebut dan berkata kepada mereka, “Wahai kafilah, aku adalah Fudhail yang kalian khawatirkan. Lewatlah kalian, aku tak akan mengganggu kalian. Aku juga berjanji tak akan bermasiat kepada Allah lagi.”

Sekembalinya di rumah, ia mencoba mawas diri dan mengintrospeksi kelakuannya. Ia kemudian tersadar dan bermunajat kepada Allah Swt., “Ya Tuhanku, ampunilah aku yang telah membuat mereka takut.” Allah pun mengijabahi doanya dan menerima tobatnya.

Cerita tobatnya Fudhal bin Iyadh dalam versi lain juga diuturkan oleh Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-‘Ushfuri dalam kitab Al-Mawa’idz al-‘Ushfuriyyah. Bahwa ketika kafilah yang akan dirampok melewati tempat singgahnya Fudhail, mereka merencanakan sesuatu untuk mengalahkan Fudhail dan kawanan perampoknya.

Mereka kemudian menyiapkan panah yang dibawanya untuk menyerang kawanan perampok. Panah pun dilemparkan oleh mereka. Panahan pertama disertai dengan bacaan surah Al-Hadid ayat 16, panahan kedua disertai dengan bacaan surah Adz-Dzariyat ayat 50, dan panahan ketiga disertai dengan bacaan surah Az-Zumar ayat 54.

Dalam setiap panahan, Fudhail merasakan sakitnya panahan Al-Qur’an. Singkat cerita, ia pun tobat dan berjanji tak akan melakukan kemaksiatan kembali.

Versi selanjutnya menyebutkan bahwa tobatnya Fudhail bermula kala ia melintasi salah satu pasar di Baghdad. Di sana ia menjumpai secarik kertas yang tidak lain adalah robekan dari mushaf Al-Qur’an di tepian jalan. Dia berhenti sejenak, lantas membungkukkan badannya untuk mengambil kertas tersebut.

Secarik kertas yang ia temuka itu sudah dalam keadaan kusam dan sangat kotor. Setelah membersihkannya, ia bergegas menuju penjual minyak. Tidak lain tujuannya adalah untuk membeli minyak wangi.

Saat itu Fudhail hanya mengantongi uang satu dirham. Dihabiskanlah uang yang ia miliki itu untuk membeli minyak wangi. Ketika ia sudah sampai di tempat singgahnya, ia mengolesi kertas yang ditemukanya dengan minyak wangi yang baru saja dibelinya. Kemudian kertas itu ia letakkan di sisi dinding paling atas.

Karena Fudhail merasa lelah akibat perjalanan yang baru saja dilalui, ia pun tertidur. Betapa kagetnya, ketika dalam mimpinya ia mendengar suara yang sangat dekat kertas yang ia temukan. “Wahai Fudhail bin Iyadh, aku akan mengharumkan namamu sebagaimana engkau mengharumkan namaku!”

Setelah bertobat, Fudhail begitu mencintai agama Islam. Beliau juga berguru kepada ulama terkemuka pada zamannya. Karena ketekunannya, dalam waktu singkat beliau mampu menguasai berbagai cabang ilmu agama. Bahkan di usia yang cukup muda, 35 tahun, beliau sudah diangkat menjadi Hakim Agung.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, kita hanya dapat menjadikannya sebagai contoh, bahwa orang yang dulunya bengal sekali pun, dapat memperoleh hidayah dari Allah Swt. Betapa luas kasih dan sayang Allah kepada hamba-Nya.