Kisah Tokoh Persis Ahmad Hassan Kalah Debat dengan Kiai Tanah Sunda

0
19048
Kisah Tokoh Persis Ahmad Hassan Kalah Debat dengan Kiai Tanah Sunda

Harakah.idAhmad Hassan dalam perdebatan dengan siapapun tak terkalahkan. Namun dalam sebuah riwayat dalam buku Api Sejarah jilid 3 halaman 492 karya Ahmad Manshur Suryanegara disebutkan Ahmad Hassan kalah debat dengan seorang Kiai.

Ahmad Hassan dikenal pandai berdebat. Perdebatan A. Hassan melibatkan ulama-ulama tradisional yang berlangsung keras dihadiri ribuan orang. Namun konon, pernah Ahmad Hassan kalah debat dari seorang Kiai Sunda.

Bagaimana kisah polemik perdebatan di era A. Hassan yang demikian sangat keras dan sengit  saat itu. Sejumlah riwayat kisah polemik perdebatan di era A. Hassan dapat dilihat sebagai berikut yang berasal dari berbagai sumber antara lain:

1) Polemik debat pertama berlangsung saat debat terbuka dengan kelompok Ahmadiyah Qodian yang diwakili oleh Rahmat Ali dan Abu Bakar Ayatullah  .

Ketika  A. Hassan saat itu mewakili pihak Pembela Islam. Risalah resmi yang merilis hasil perdebatan ini telah dicetak dan diterbitkan oleh kedua belah pihak, baik Ahmadiyah maupun Pembela Islam.

2) Polemik  debat terbuka terjadi saat berdebat dengan salah seorang pendiri NU, KH. Abdul Wahhab Chasbullah tentang taqlid. Tentang debat ini, A. Hassan menerbitkannya dalam bentuk buku berjudul Debat Taqlid.

3) Polemik debat terbuka  selanjutnya tak kalah sengit juga terjadi saat berdebat dengan seorang anggota PKI yang berpaham atheis bernama Muhammad Akhsan tentang eksistensi Tuhan dan keadilan Tuhan. 

Debat ini kemudian dibukukan dan dikembangkan pembahasannya lebih lanjut menjadi sebuah buku berjudul Adakah Tuhan.

4) Polemik debat yang lain tak kalah menarik saat berdebat dengan Husain Al-Habsji Surabaya tentang masalah bermazhab.

Perdebatan A. Hassan dengan Husain Al-Habsji tidak dilakukan secara dialog  terbuka melainkan lewat tulisan yang dipublikasikan melalui buku.

Debat ini terjadi bermula dari terbitnya buku A. Hassan berjudul “Risalah Al-Madzhab”  dan “Halalkah Bermadzhab?

Pemikiran A. Hassan tentang Mazhab kemudian oleh Husain Al-Habsji dijawab dengan menerbitkan 2 buku berjudul “Risalah Lahirnya Madzhab yang Mengharamkan Madzhab-Madzhab” dan “Risalah Haramkan Orang Bermadzhab?”

Kedua buku ini ditulis oleh Husain Al-Habsji  untuk membantah pendirian A. Hassan tersebut. A. Hassan tak terima dengan serangan Husain.

A. Hassan  menyerang balik dengan menerbitkan bantahannya di Majalah Pembela Islam edisi 8 Januari 1957 dengan judul “Menjawab Buku Bantahan Tuan Haji Husain Al-Habsyi, Surabaya.”

5) Polemik debat di era A. Hassan yang menarik lainnya saat berdebat dengan Hasbi Ash-Shiddieqy tentang mushafahah (jabat tangan antara pria dan wanita non mahram). 

Kisah perdebatan antara A. Hassan dan Hasbi Ash Shiddieqy demikian sengit. Tak jarang mereka saling  saling bantah, menyerang antara keduanya, sampai kemudian A. Hassan menantang Hasbi berdebat secara terbuka, namun Hasbi tidak menyanggupinya. 

Tentang bantahan A. Hassan terhadap Hasbi ini dapat dijumpai dalam buku berjudul Wanita Islam

6) Kisah polemik  debat yang menjadi fenomenal ketika A. Hassan berdebat  dengan Soekarno tentang tema Islam dan kebangsaan.

Debat A. Hassan dengan Sukarno tentang Islam dan kebangsaan demikian keras sehingga muncul saling menyerang. A. Hassan tak terima serangan Sukarno lewat tulisan- tulisannya yang dianggap perkataan Sukarno yang kasar.

Bantahan terhadap tulisan Sukarno tentang Islam dan Kebangsaan lewat Al-Lisan kemudian A. Hassan menerbitkan buku Islam dan Kebangsaan sebagai jawaban dari Sukarno.

Dari sekian kisah, riwayat perdebatan A. Hassan memang boleh dikatakan tak terkalahkan. Dari sejumlah riwayat hidup A. Hassan dalam berdebat Ia berhasil menyadarkan golongan Atheis anti Tuhan, mengislamkan beberapa orang Kristen.

A. Hassan juga berhasil meluruskan ajaran yang bersumber dari Al Quran, Sunnah yang sudah dibaurkan dengan tradisi Islam .

Sisi lain yang menarik kegiatan perdebatan yang digelar A. Hassan adalah muncul isu- isu kontroversial pun mulai dimunculkan di masa itu.

Persis (Persatuan Islam) dalam hal ini juga mendapat energi yang luar biasa dari kegiatan perdebatan A. Hassan sehingga A. Hassan identik dengan Persis dan Persis identik dengan A. Hassan 

Kisah Kekalahan dalam Debat

A. Hassan dalam perdebatan dengan siapapun tak terkalahkan, namun dalam sebuah riwayat dan catatan sejarah sebagaimana dilansir dalam buku Api Sejarah jilid 3 halaman 492 karya Ahmad Manshur Suryanegara disebutkan Ahmad Hassan pernah kalah debat Mama Adjengan Gedong Pesantren Sukamiskin dan KH Hidayat tentang bid’ah.

Perdebatan tentang Bid’ah berlangsung sengit. Ketika itu A. Hassan menyebutkan segala sesuatu yang tidak mengikuti petunjuk Rasulullah adalah bid’ah.

Saat itu Mama Adjengan tidak puas jawaban A. Hassan kemudian Mama bertanya pada A. Hassan Apakah Rasulullah pernah mengajarkan dan menjelaskan adanya hadis shahih atau dha’if? Kemudian A Hassan menjawab tidak pernah.

Mama Adjengan terus menyerang A. Hassan dengan bertanya padanya, “Lalu siapa yang mengategorisasikan hadis menjadi shahih atau dha’if, dan lain-lainnya? Kemudian A. Hassan menjawab Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Jawaban A. Hassan membuat Mama Adjengan menyebutkan A. Hassan tidak mengikuti Rasulullah, tetapi mengikuti Imam Bukhari dan Imam Muslim. Apa itu bukan bid’ah? 

Karena tadi A. Hassan mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak bersumber dari Rasulullah adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah dhalalah 

Dari riwayat ini diceritakan A.Hassan kalah debat mengakui kehebatan Mama Adjengan Sukamiskin dan membuatnya meninggalkan Bandung.

Dengan kata lain A. Hassan pindah ke Bandung akibat kalah debat dengan Mama Adjengan Sukamiskin dan KH Hidajat.

Spekulasi bermunculan sejak A. Hassan pindah dari Bandung. Ada yang menyebutkan A. Hassan pindah dari Bandung  atas permintaan Bibi Wantee, seorang sahabat A. Hassan, yang melihat penghidupan A. Hassan di Bandung kurang menggembirakan.

Versi lain menyebutkan sebagaimana dilansir Zainal Abidin Ahmad dalam tulisannya yang berjudul Mengenal A. Hassan sebagaimana dicatat oleh Akh Minhaji dalam buku biografinya tentang A. Hassan menyebutkan  A. Hassan pindah ke Bangil karena Bandung sudah tidak kondusif lagi bagi kehidupan santri-santrinya, biaya hidup di Bandung saat itu terlalu mahal, dan juga berbagai tempat hiburan yang ada di Bandung akan mengganggu fokus belajar para santri.

Kisah lain menyebutkan semenjak Ahmad Hassan kalah debat dengan Mama Adjengan Sukamiskin, A. Hassan pindah ke Bangil tahun 1941.

Setelah kepindahan ke Bangil A.Hassan diriwayatkan tidak mengalami perubahan sikap terutama masalah bid’ah dan tetap berpegang teguh pada pendapatnya, mempublikasikannya lewat buku, tulisan-tulisannya berjudul “Apa Dia Islam” yang dicetak dan dipublikasikan pada tahun 1951.

Semenjak A. Hassan kalah debat dengan Mama Adjengan tidak membuatnya patah semangat, bahkan A. Hassan tetap rajin mempublikasikan tulisan-tulisannya. Mama Adjengan dalam hal ini bisa saja melakukan berbagai bantahan atas pandangan Hassan hingga kemudian tercipta opini publik yang menggiringnya masyarakat tidak percaya lagi  pada pemikiran atau fatwa-fatwanya. Hal tersebut tidak terjadi sehingga membuat A. Hassan tetap konsisten dengan pendapatnya hingga akhir hayatnya.