Beranda Keislaman Hikmah Kisah Umat Nabi Muhammad yang Tak Mempan Dibakar Api

Kisah Umat Nabi Muhammad yang Tak Mempan Dibakar Api

Harakah.id Mukjizat yang Allah anugerahkan kepada Nabi Ibrahim AS ternyata juga pernah dianugerahkan kepada salah seorang umat Nabi Muhammad SAW., namun dengan istilah karomah (kemuliaan bagi para kekasih Allah). Abu Muslim Abdullah bin Tsaub Al Khaulani adalah orang yang Allah selamatkan dari kobaran api yang dibuat oleh nabi palsu, Al-Aswad Al-Ansi, untuk membakarnya.

Nabi Ibrahim AS adalah seorang nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi. Gelar yang disematkan sebagai wujud penghormatan bagi para nabi dan rasul yang memiliki ketabahan atau kesabaran yang luar biasa ketika mengemban dakwah risalah kenabian. 

Begitu banyak ujian yang diterima Nabi Ibrahim AS ketika berdakwah kepada kaumnya agar mereka mengesakan Allah SWT. serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Namun dengan berbekal iman yang kokoh serta kesabaran hati yang tanpa batas setiap ujian dakwah dapat dilalui oleh Nabi Ibrahim AS  

Di antara ujian terbesar yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS yakni ketika Namrud beserta bala tentaranya membakar Nabi Ibrahim AS di dalam kobaran api yang sangat besar.

Saking besarnya kobaran api sehingga dapat bertahan lama 40 sampai 50 hari. Namun Nabi Ibrahim AS berhasil selamat dari panasnya kobaran api tersebut berkat pertolongan Allah. 

Allah SWT. berfirman dalam QS Al Anbiya: 69

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”

Mukjizat yang Allah anugerahkan kepada Nabi Ibrahim AS ternyata juga pernah dianugerahkan kepada salah seorang umat Nabi Muhammad SAW., namun dengan istilah karomah (kemuliaan bagi para kekasih Allah). Abu Muslim Abdullah bin Tsaub Al Khaulani adalah orang yang Allah selamatkan dari kobaran api yang dibuat oleh nabi palsu, Al-Aswad Al-Ansi, untuk membakarnya. 

Diriwayatkan oleh Syurahbil Al Khaulani dalam kitab Hilyatul ‘Auliya wa Thabaqat Ashfiya’ karya Abu Nu’aim, bahwa ketika Aswad Al-Ansi bertemu dengan Abu Muslim Al Khaulani, ia berkata kepadanya “Apakah kamu bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad SAW. adalah utusan Allah?”

Abu Muslim Al Khaulani menjawab “Iya, aku bersaksi.” Kemudian Aswad kembali berkata, “Maka bersaksilah kamu bahwa aku (Aswad Al-Ansi) adalah utusan Allah” Abu Muslim Al Khaulani menjawab “Apa? Aku tidak dengar.”

Jawaban Abu Muslim tersebut merupakan bentuk pengingkaran dirinya terhadap Aswad, sebab Al Khaulani hanya berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah nabi terakhir sekaligus penutup para nabi dan rasul, sehingga mustahil ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW. 

Mendengar jawaban tersebut Aswad marah kepadanya dan memerintahkan pengikutnya agar membuat api yang besar untuk membakar Abu Muslim Al Khulani.

Maka ketika Abu Muslim dilempar ke dalam kobaran Api yang sangat besar, akan tetapi api itu tidak membahayakannya sedikit pun dan Abu Muslim Al Khulani selamat dari panasnya kobaran Api tersebut.

Penduduk kota yang menyaksikan kejadian tersebut berkata kepada Abu Muslim “Tinggalkanlah negeri ini, daripada nantinya kamu akan dianiaya atau bahkan dibunuh disini.” Maka mereka pun menyuruh Abu Muslim Al Khaulani agar pergi menuju ke kota Madinah. 

Saat itu Rasulullah SAW. telah wafat dan kekhalifan dijabat oleh Sayydina Abu Bakar Ash-Shidiq. Abu Muslim Al Khaulani yang telah menyadari bahwa perjalanannya telah sampai di depan pintu Masjid Nabawi, maka ia pun berdiri di dekat salah satu tiang masjid untuk melaksanakan salat.

Sayyidina Umar bin Khathab yang melihatnya, kemudian menghampiri dan berkata kepadanya, “Dari mana kamu wahai pemuda?” Dia menjawab “Saya dari Yaman.” 

Umar bin Khathab berkata, “Apakah kamu mengetahui perbuatan musuh Allah terhadap sahabat kami yang mana ia telah dibakar dengan api, akan tetapi api itu tidak membahayakannya” Abu Muslim menjawab, “Orang itu adalah Abdullah bin Tsaub.” Sayydina Umar berkata, “Aku berkeyakinan bahwa itu adalah kamu?!” Abu Muslim pun menjawab, “Iya.” 

Lantas, Umar bin Khathab mencium kening yang berada di antara kedua mata Abu Muslim, dan membawanya menghadap kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq.

Setelah mendengar kisah dari Abu Muslim, lalu Sayyidina Abu Bakar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak mewafatkan aku, sehingga diriku dapat menyaksikan di antara umat Nabi Muhammad SAW. yakni orang yang diperlakukan oleh Allah sebagaimana apa yang pernah diperlakukan kepada Nabi Ibrahim AS sang Khalilur Rahman”

Berkat keteguhan iman Abu Muslim Al Khaulani dalam membela kebenaran risalah kenabian Muhammad SAW. di hadapan seorang nabi palsu Aswad Al-Ansi, maka Allah SWT. selamatkan dirinya dari kobaran api besar yang disediakan sang nabi palsu untuk membakarnya.

Apa yang dilakukan Abu Muslim Al-Khaulani sama halnya dengan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS ketika menegakkan dakwah tauhid di hadapan Namrud beserta rakyatnya yang menyekutukan Allah SWT.

Maka dapat disimpulkan bahwa keteguhan iman seseorang dalam menegakkan agama Islam akan mendatangkan pertolongan Allah SWT. sehingga setiap hambatan atau rintangan dakwahnya dapat dilalui dengan mudah berkat pertolongan-Nya. 

Artikel kiriman dari Muhammad Fani, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di IAIN Surakarta.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...