Kitab Al-Amtsilah At-Tasrifiyyah, Kitab Kunci Memahami Literatur Berbahasa Arab

0
171
Kitab Al-Amtsilah At-Tasrifiyyah Kitab Tasrif

Harakah.id – Kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah terdiri dari 60 halaman dan memuat berbagai macam wazan (bentuk kalimat) dalam Bahasa Arab

Dalam tradisi belajar di pesantren, ada kepercayaan bahwa untuk mampu membaca kitab-kitab ‘gundul’ (tidak berharakat) klasik, seorang santri setidaknya harus hafal dua kitab dasar; Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah dan Al-Jurumiyah. Tanpa keduanya, mustahil seseorang mampu membaca, apalagi mengakses informasi dalam kitab berbahasa Arab tak berharakat tersebut. Kedua kitab tersebut mewakili pelajaran Nahwu dan Shorof yang memang menjadi dua fann kunci untuk memahami Bahasa Arab.

Baca Juga: Al-Amtsilah Al-Tasyrifiyah dan Filosofi di Balik Enam Bab Tsulatsi Mujarrad dalam Ilmu Shorrof

Menariknya, salah stau dari dua resep wajib tersebut adalah karya asli dan genuine dari seorang ulama Nusantara. Beliau adalah KH. Ma’shum bin Ali, pengarang kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah. Kitab yang beliau tulis, sampai saat ini, terbukti telah banyak membawa manfaat dan keberkahan.

Di antara hal yang menjadi kelebihan dari kitab shorof satu ini adalah susunan bait-baitnya yang sangat sistematis, sehingga mudah difahami dan dihafal bagi para pelajar dan santri.

Selain itu, kedahsyatan kitab ini tak hanya terletak pada caranya menjelaskan dan menyajikan ilmu shorof dalam model yang praktis dan sederhana. Bila diteliti, ternyata sistematikanya mengandung makna filosofi yang sangat tinggi. Salah satu contoh bisa dilihat, misalnya pada bab fi’il tsulasi mujarrad. Dalam enam kalimat yang dijadikan contoh, keenamnya ternyata mengandung filososfi kehidupan.

Baca Juga: Majaz Menurut Jurjani di dalam Kitab Asrar al-Balaghah, Menguak Rahasia Keindahan Bahasa Arab

Pada awalnya seorang santri atau pelajar yang menuntut ilmu haruslah dibantu oleh orang tuanya (نَصَرَ – nashara). Sesampainya di pondok pesantren dan sekolah ia ‘dipukul’ serta dididik keras (ضَرَبَ –dharaba) oleh sang guru. Setelah mengalami didikan dalam bentuk apapun, maka hati seorang murid akan terbuka (فَتَحَ – fataha).

Keterbukaan hati dan fikirannya menjadi faktor utama seorang pelajar dalam memahami dan mencerna berbagai macam pelajaran, sehingga ia pun menjadi tahu dan pintar (عَلِمَ – ‘alima). Ilmu yang didapatnya lalu menuntun seorang pelajar agar selalu berbuat baik (حَسُنَ  – hasuna). Dengan itu, seorang pelajar pun berharap masuk surga dan mendapat kemuliaan di sisi Allah Swt (حَسِبَ  – hasiba).

Baca Juga: Inilah Sebab Rasulullah Memuji Ahli Ilmu Bahasa Arab

Kitab al-Amtsilah At-Tashrifiyyah terdiri dari 60 halaman dan memuat berbagai macam wazan (bentuk kalimat) dalam Bahasa Arab, baik yang isthilahi maupun yang lughawi. Pada halaman pertama kitab tertera sambutan berbahasa arab dari Mantan Menteri Agama RI, KH. Saifuddin Zuhri.

Baca Juga: Habib Salim bin Jindan: Memahami Bahasa Arab Wajib bagi Setiap Muslim
Baca Juga: Syarat-Syarat Jadi Mufassir, Tidak Sembarang Orang Bisa Menafsirkan al-Quran, Begini Penjelasan Quraish Shihab
Baca Juga: Meskipun Kontroversial, Soal Etika Beragama, Kita Harus Belajar Kepada Vicky Prasetyo