Beranda Gerakan Konflik Libya dan Kontestasi Antar Kepentingan, Pertikaian Abadi di Kawasan Timur Tengah...

Konflik Libya dan Kontestasi Antar Kepentingan, Pertikaian Abadi di Kawasan Timur Tengah yang Tiada Henti

Harakah.idKonflik Libya terus menyala. Pertikaian terjadi untuk kesekian kalinya, Kontestasi dan perebutan antar kepentingan mengisi konflik yang terus menerus terjadi di salah satu kawasan Timur Tengah tersebut.

Konflik Libya masih menjadi pertikaian di kawasan Timur Tengah yang terus berjalan. Apalagi masing-masing kubu tak mau berdamai. Pihak Libyan National Army (LNA) yang dipimpin oleh Jenderal Khalifa Haftar menguasai Tripoli. Sedangkan, pihak Government of National Accord (GNA) yang dipimpin oleh Perdana Menteri Fayez al-Sarraj di Libya timur. 

Melihat pertikaian antar keduanya, masih belum ada solusi untuk mengakhiri permasalahan. Pihak LNA yang didukung oleh Mesir dan GNA didukung Turki. Konstelasi konflik pun bertambah kompleks. Antar aliansi politik saling berseteru atas dasar kepentingan politik masing-masing.

Dampaknya, konflik Libya sejak mundurnya Moammar Khadafi pada tahun 2011. Hingga akhirnya perseteruan berlanjut hingga saat ini. Membuat konstelasi politik Libya tengah berkecamuk hebat.

Konflik Kekuasaan

Pertikaian antara Libyan National Army (LNA) dan Government of National Accord (GNA) telah membuat konstelasi politik dan konflik Libya semakin memanas. LNA sendiri didukung penuh oleh Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Rusia. LNA memiliki kekuatan di Tobruk, wilayah Libya bagian timur. 

Serangan antar kubu yang dimulai sejak akhir Maret lalu. Pasukan GNA berhasil menghancurkan empat helikopter serang, dua drone, sejumlah tank, artileri, kendaraan lapis baja, dan senjata berat lainnya. 

Mereka juga mengancam untuk terus menyerang pasukan LNA yang masih bertahan di pangkalan militer di al-Wattia. Kini mereka bersiap untuk memasuki Kota Sirte, Libya bagian tengah. 

Situasi ini yang membuat jengkel dan marah Presiden Mesir Abdul Fattah as-Sisi. Ia pun mengancam mengintervensi langsung militer Mesir di Libya. Menurutnya, intervensi itu memiliki legitimasi internasional. Yaitu untuk mempertahankan diri atau atas permintaan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 

Adapun yang dimaksud yakni satu-satunya otoritas terpilih yang sah di Libya. Tentu yang dimaksud adalah DPR yang bermarkas di Tobruk yang mendukung Jenderal Khalifa Haftar.

Mengapa Sirte dan al-Jufra sangat penting bagi Mesir? Sirte sendiri berjarak sekitar 1.000 kilometer dari perbatasan Mesir. Posisinya berada ditengah antara ibu kota Tripoli dan Benghazi di pantai Libya yang menghadap Laut Mediterania. Karena itu, bagi yang menguasai Sirte akan dengan sangat mudah mengontrol pelabuhan minyak di wilayah bulan sabit sumur minyak di timur Libya, yang mengandung cadangan minyak terbesar di Libya.

Selain itu, di selatan Sirte terletak pangkalan udara penting al-Jafra, yang berjarak hanya 300 kilometer. Pangkalan al-Jafra merupakan salah satu pangkalan udara Libya terbesar, dengan infrastruktur yang kuat, selalu dimodernisasi sehingga bisa mengakomodasi senjata terbaru. Pangkalan ini adalah ruang operasi utama bagi pasukan Jenderal Haftar.

Posisi al-Jafra juga penting karena terletak di bagian tengah Libya, sekitar 650 kilometer tenggara Tripoli. Ia merupakan poros penghubung antara timur, barat, dan selatan. Karena itu, siapa yang mengendalikan pangkalan al-Jafra, ia akan bisa menguasai setengah dari Libya.

Selain itu, bagi Turki, pemerintahan Erdogan, yang merupakan pendukung Ikhwanul Muslimin (IM), mengecam keras pengambilalihan kekuasaan oleh Jenderal as-Sisi dari Presiden Muhammad Mursi pada 2013. Hingga sekarang, Erdogan menyebutnya sebagai kudeta militer terhadap pemerintahan yang sah dan terpilih secara demokratis. Mursi adalah presiden dari IM.

Maka, Presiden as-Sisi menyebut pengambilalihan kekuasaan yang dilakukannya justru untuk menyelamatkan bangsa Mesir dari perang saudara. Ia kemudian membubarkan IM dan menganggap mereka sebagai kelompok teroris. Mesir juga menuduh Turki sebagai pelindung para tokoh teroris IM.

Perseteruan politik Turki-Mesir ini terus berlanjut ke perang saudara yang kini berlangsung di Libya. Mesir menuduh GNA sebagai teroris yang didukung oleh teroris. Tuduhan ini mengarah kepada GNA dan Turki yang berhaluan IM yang dianggap teroris oleh Mesir. Sebaliknya, Turki menuduh LNA sebagai kelompok kudeta yang didukung pemerintah hasil dari kudeta. 

Perseteruan Mesir-Turki di Libya juga melibatkan negara pendukung masing-masing. Bersama dengan Mesir ada Arab Saudi, UEA, dan Rusia. Sedangkan, Turki didukung oleh Qatar. Masing-masing pihak menuduh lawannya sebagai intervensi asing di Libya yang melibatkan para tentara bayaran. 

Sebenarnya pemerintah Libya yang diakui PBB adalah GNA yang bermarkas di Tripoli. Namun, pengakuan internasional itu menjadi tidak berarti ditengah konflik, perseteruan, dan kepentingan politik. Kini dua kelompok yang bertikai di Libya, beserta negara-negara pendukung lainn, masing-masing mengklaim sebagai pihak yang sah dan menganggap lainnya kelompok ilegal.

Akankah Konflik Berakhir?

Perseteruan antara pasukan LNA dan GNA masih akan terus berjalan. Tetapi, menurut kabar terbaru, Perdana Menteri Fayez al-Sarraj akan mundur dari jabatannya untuk meredam konflik tersebut. Situasi ini bakal memunculkan spekulasi dan analisis bahwa upaya Sarraj merupakan representasinya sebagai “pahlawan” bagi perdamaian konflik Libya.

Tetapi, keputusan Sarraj dinilai upaya mengelabui pihak GNA yang pemerintahannya tekah mendapatkan persetejuan dari PBB. telah berkuasa sejak 2015 untuk menstabilisasi Libya stelah Muammar Qaddafi lengser. Keputusan Al-Sarraj untuk mundur dikhawatirkan menambah ketidakpastian di Libya.

Pada Juni 2020, pemerintah Tripoli baru saja berhasil memukur mundur pasukan dari timur yang berusaha menyerang ibu kota. Berbagai usaha saling serang antara kedua kubu menyebabkan pasukan GNA harus mengalami kekalahan dan pihak LNA berada “diatas angin”.

Kita nantikan proses perjalanan perseteruan Libya yang memunculkan banyak entitas yang mendukung masing-masing kubu. Dukungan tersebut merupakan atas dasar kepentingan dan faktor politik yang melingkupinya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...