Beranda Khazanah Konflik Terjadi Bukan Sebab Agama, Tapi Inilah Faktor Sebenarnya

Konflik Terjadi Bukan Sebab Agama, Tapi Inilah Faktor Sebenarnya

Harakah.idKonflik atas nama “agama” mewarnai perjalanan kehidupan manusia. “Fields of Blood”, buku yang ditulis oleh Karen Amstrong ini memberi pemahaman luas terhadap berbagai konflik yang terjadi atas nama agama.

Konflik atas nama “agama” mewarnai perjalanan kehidupan manusia. “Fields of Blood”, buku yang ditulis oleh Karen Amstrong ini memberi pemahaman luas terhadap berbagai konflik yang terjadi atas nama agama. Memberi pemahaman kalau berbagai konflik yang terjadi bukan karena agama, melainkan keserakahan kekuasaan, watak kekerasan, dan ego diri manusia yang menyebabkan ketidak mampuan manusia dalam melihat serta menjaga hubungan sesama manusia.

Kajian Karen fokus pada agama Ibrahim–Yahudi, Kristen, dan Islam–agama monoteis yang konon katanya sebagai agama yang rentan menghasilkan kekerasan dan intoleransi. Sebelum membahas agama Ibrahim, Karen terlebih dulu memeriksa budaya-budaya sebelumnya–cerita dewa-dewa Sumeria, agama-agama China, India, dan lainnya. Dia mendapati, sejak awal, ada orang-orang yang meragukan dilema kekerasan yang konon dibutuhkan, kemudian mengusulkan jalan agama untuk melawan dorongan agresif dan menyalurkannya ke arah yang lebih welas asih.

Misalnya, Qong Qiu, perenungannya atas berbagai konflik yang terjadi di daratan China menghasilkan satu pandangan yang luar biasa: jangan lakukan sesuatu yang kamu sendiri tak ingin diperlakukan seperti itu. Pandangan yang memberi kesadaran untuk senantiasa menjaga sikap welas asih antar sesama manusia.

Berbagai macam konflik atas nama agama menghiasi catatan sejarah manusia, baik konflik antar pemeluk agama maupun penganiayaan atas nama agama. Ini dipengaruhi sebab iman adalah kekuatan yang sangat berpengaruh bagi manusia. Sehingga agama sering di-kambing hitamkan untuk suatu hal bernama “kepentingan”. Selain itu, Karen menjelaskan kalau: “Ritual kambing hitam merupakan upaya untuk memutuskan hubungan masyarakat dengan kejahatan….” Nama agama dijadikan alasan untuk membenarkan sikap kejahatan.

Mereka yang kurang sreg dengan agama, kemudian menyimpulkan kalau agama (keimanan) hanya menyebabkan manusia saling ber-konflik dan ujung-ujungnya adalah perpecahan, kekacauan, intoleransi, bahkan peperangan. Dengan kata lain, selama ada agama konflik pun akan selalu terjadi. Namun, Karen membuktikan kalau tak demikian. Konflik terjadi bukan karena agama, melainkan watak kekerasan dan keserakahan kekuasaan manusia.

Dalam catatan sejarah, Paus Gregory VII merasa amat terganggu dengan gerombolan Turki (muslim) yang berhasil menguasai wilayah Bizantium. Pada 1074 M, lewat suratnya, dia berusaha menghimbau orang-orang Kristen untuk bergabung dengannya dalam agenda pembebasan saudara-saudara mereka di Anatolia. “Libertas (pembebasan)” adalah kata kunci saat itu. Namun, sesungguhnya itu hanya bagian dari rasa terganggunya Gregory VII. Dia pun berusaha menghimpun kekuatan atas nama perang salib, namun gagal. Sebab perang salib Gregory VII tak mendapat dukungan dan pengikut.

20 tahun kemudian, pada 27 November 1095 M, Paus Urban II berkhotbah di hadapan Konsili Perdamaian di Clermont Prancis Selatan dan menyuarakan perang salib pertama. Paus Urban mendesak para kesatri Prancis untuk berhenti menyerang sesama Kristen, dan beralih menyerang para musuh Allah (yang dimaksud adalah umat muslim).

Pasukan salib pun melakukan perjalanan ke tanah suci Yerusalem untuk membebaskannya (merebut) dari kekuasaan muslim. Sebuah awal, untuk kemudian dikenal sejarah melahirkan perang panjang antara umat muslim dan kristiani, yang tak cukup puluhan tahun, namun hingga ratusan tahun.

Di tempat lain, dalam berbagai lintasan waktu, berbagai konflik atas nama agama juga terjadi. Dalam “Fields of Blood”, Karen menjelaskan berbagai macam peperangan atas nama agama: perang suci Yosua, Perang Salib, Perang Agama Eropa, dan perang lainnya yang dibaluti doktrin perang suci membela agama.

Selalu akan ada manusia-manusia yang sadar bahwa konflik/perang bukanlah hal baik, dan agama tak menghendaki jalan yang demikian. Maka alih-alih tetap mendambakan konflik, mereka justru mencoba mewujudkan perdamaian.

Saladin, saat berhasil menaklukkan Yerusalem dari tentara salib, memilih sikap memaafkan dan mencoba melupakan sakit hati atas pembantaian umat muslim pada 1099 M (Perang Salib I, penaklukkan Yerusalem pada 15 Juli 1099 M). Dendam dan pembalasan bukan jalan keluar terbaik, pemaafan adalah jalan awal untuk sebuah perdamaian dan kemenangan sejati dengan kehidupan damai bersama.

Karen menjelaskan kalau: “Tak seorang Kristen pun dibunuh, orang Frank Yerusalem ditebus dengan jumlah yang sangat sepadan, dan banyak yang diantar sampai ke Tirus tempat benteng pertahanan Kristen. Orang Kristen Barat dengan gelisah menyadari bahwa Saladin telah berperilaku lebih manusiawi daripada tentara salib mereka sendiri dan mengembangkan legenda yang membuatnya dihormati orang Kristen.”

Di Indonesia, konflik itu pun ada. Kerusuhan Poso, Ambon, perusakan rumah ibadah, dan lainnya tercatat sebagai konflik antar agama yang tak pernah diharapkan terjadi di negeri Bhineka Tunggal Ika ini.

Sesungguhnya konflik terjadi bukan karena agama, melainkan ulah manusia sendiri: watak kekerasan dan ketidak mampuan manusia dalam menjalin hubungan antar sesama. Banyak konflik peperangan yang terjadi justru bukan atas nama agama. Ribuan nyawa manusia melayang di Jepang dalam insiden bom di Nagasaki dan Hirosima oleh Amerika. Ribuan nyawa manusia melayang di Indonesia akibat serangan penjajah. Semua itu bukan ulah agama dan bukan atas nama agama, melainkan atas nama negara-bangsa.

Karen menjelaskan: “John Locke percaya bahwa pemisahan gereja dan negara adalah kunci perdamaian, tapi negara-bangsa sama sekali tak menolak perang. Masalahnya tak terletak pada aktivitas multifaset yang kita sebut ‘agama’, tapi dalam kekerasan yang tertanam dalam watak manusia dan negara, yang dari awal memerlukan penaklukkan paksa atas setidaknya 90% populasi.”

Dalam perang salib, sesungguhnya yang berperang bukan agama Islam dan Kristen. Melainkan para pemeluk 2 agama pada waktu itu. Sebab baik Islam maupun Kristen tak pernah mengajarkan peperangan. Bahkan dalam surah al-Ankabut ayat 46, Tuhan menyuruh agar muslim menghormati keyakinan orang-orang ahli kitab. “Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.”

Ajaran Kristen pun mengajarkan untuk bersikap welas asih pada muslim dan semua manusia. Dalam Injil Lukas surah 10 ayat 27, diajarkan: “Kasihanilah sesamamu sama seperti kamu mengasihani dirimu sendiri.” 

Selain itu, agama-agama lainnya–Hindu, Budha, Kong Hu Chu, dan lainnya–juga mengajarkan untuk bersikap welas asih pada sesama manusia dan makhluk Tuhan lainnya.

Jadi ajaran Islam, Kristen, dan agama lainnya mengupayakan agar manusia (pemeluknya) hidup dalam welas asih. Namun, pemeluknya yang kemudian terjebak dalam lingkaran konflik, akibat keserakahan kekuasaan, watak kekerasan, dan ego diri sebagai manusia yang paling benar.

Karen menjelaskan: “Perang, konon, disebabkan ‘oleh ketidak mampuan kita untuk melihat hubungan. Hubungan kita dengan situasi ekonomi dan sejarah kita. Hubungan kita dengan sesama kita. Dan di atas semua itu hubungan kita dengan ketiadaan. Dengan kematiaan.” Jadi, konflik adalah bagian perwujudan dari ketidak mampuan manusia dalam melihat dan menjaga hubungan antar sesama manusia.

Agama justru mengajak manusia pada kedamaian hidup untuk saling menjaga dan mewujudkan kehidupan yang harmonis. Dalam Islam, kehidupan seperti ini telah dicontohkan sendiri oleh Nabi Muhammad saw. Misalnya, sikap Nabi saw yang sangat suka memberi makan orang-orang kelaparan tanpa melihat status agamanya. Sikap Nabi saw yang menghormati pemuka agama-agama lain baik Kristen maupun Yahudi di Madinah. Sikap Nabi saw yang sangat menghormati setiap manusia tanpa melihat status agamanya.

Sikap seperti itu yang harus dicontohi oleh para pemeluk agama. Sehingga agama tak menjadi alat pembenaran untuk menyerang manusia lain, melainkan benar-benar menjadi jalan keselamatan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.

Judul        : Fields of Blood: Mengurai Sejarah Hubungan Agama dan Kekerasan

Judul Asli    : Fields of Blood: Religous and the History of Violence

Karya        : Karen Amstrong

Penerjemah    : Yuliani Liputo

Penerbit    : Penerbit Mizan

Cetakan    : I, November 2016

Tebal        : 696 halamanISBN        : 978-979-433-969-5

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...