Beranda Kolom Konsep Anti Sinonimitas Dan Corak Khas Penafsiran Aisyah Bintu Syathi’

Konsep Anti Sinonimitas Dan Corak Khas Penafsiran Aisyah Bintu Syathi’

Harakah.idAisyah Bintu Syathi’ adalah mufassir perempuan yang memiliki popularitas dan kredibilitas yang tak kalah dengan mufassir laki-laki. Kontribusinya dalam kajian tafsir al-Quran juga tidak bisa dikatakan kecil.

Sejauh ini, kebanyakan tokoh mufassir yang kita ketahui adalah seorang laki-laki. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan kualitas sumbangsih perempuan terhadap bidang tafsir berada di bawah mufassir laki-laki. Salah satu mufassir perempuan di era kontemporer yang buah pemikirannya banyak dikaji adalah Aisyah Bintu Syathi’. Bintu Syathi’ lahir pada 6 November 1913 M. Bintu Syathi’ merupakan nama pena dari Dr. Aisyah Abdur Rahman. Dilahirkan di Dumyat, daerah sebelah barat Delta Nil. Beliau lahir di tengah-tengah keluarga yang agamis. Pemakaian nama pena ini dikarenakan beliau lahir dan menghabiskan masa kecilnya di tepian sungai Nil. 

Aisyah Bintu Syathi’ menempuh pendidikan tingkat tingginya di Fakultas Sastra, Universitas Fuad I, Kairo. Pada tahun 1939 beliau berhasil mendapat gelar LC. Selanjutnya, beliau menyelesaikan masternya pada tahun 1941 dan menyelesaikan program doktornya pada tahun 1950. Semasa kuliah, Bintu Syathi’ pernah berkarir di dunia jurnalistik sebagai penulis. Beliau banyak menulis artikel yang dimuat di media massa terkenal di Mesir, misalnya di majalah Nahdhah Islamiyyah, Ahram, pada tahun 1933. Pada tahun 1970, Bintu Syathi’ menjadi profesor di bidang bahasa dan sastra Arab di Universitas ‘Ain Syams, Mesir. Semasa kuliahnya, Bintu Syathi’ bertemu dengan Amin Al Khuli yang merupakan dosen di universitas tempatnya menimba ilmu, yang di kemudian hari menjadi suaminya dan menjadi inspirasi untuk metode yang digunakan dalam penulisan karya tafsirnya. Karya tafsirnya adalah Al Tafsir al Bayani li Al Quran al Karim. Karya ini terbagi menjadi dua volume. Volume pertama diterbitkan pada tahun 1962 dan volume kedua diterbitkan pada tahun 1969 yang mendapatkan sambutan luar biasa. 

Menilik dari latar belakang pendidikannya, corak khas dari metode yang digunakan oleh Bintu Syathi’ adalah penafsiran al Quran melalui sudut pandang bahasa. Pendekatan yang dipakai Bintu Syathi’ dalam menafsirkan al Quran menggunakan teori semantik. Bintu Syathi’ memiliki prinsip bahwa sebagian ayat al Quran menafsirkan sebagian ayat yang lain. Beliau juga menafsirkan al Quran dengan mengaitkan kata atau ayat dengan kata atau ayat yang masih satu surat atau berada di dekatnya atau malah dengan kata atau ayat yang letaknya berjauhan, yang lebih dikenal dengan sebutan metode munasabah. Bintu Syathi’ memiliki prinsip bahwa ibrah atau ketentuan suatu masalah berdasarkan bunyi umumnya lafadz atau teks, bukan dari sebab khusus yang terjadi. Beliau juga meyakini bahwa tidak ada kosa kata dalam al Quran yang memiliki makna sama dengan kosa kata yang lain (anti sinonimitas). 

Untuk menerapkan metode ini dalam penafsiran, langkah yang dapat kita ambil adalah mengumpulkan kata tersebut dan melihat bagaimana penggunaannya. Kita ambil contoh kata yang memiliki terjemah “manusia”. Dalam al Quran ada empat kosa kata yang diterjemahkan sebagai “manusia”, yaitu basyar, nas, ins, dan insan. Secara harfiah keempat kosa kata itu memiliki terjemah yang sama. Akan tetapi jika ditilik lebih lanjut dengan memperhatikan penggunaan dan kata ataupun ayat yang ada di sekitarnya, maka keempat kosa kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Penyebutan manusia dengan menggunakan kata basyar menunjukkan makna manusia secara umum. Makhluk secara materi, makhluk yang memiliki jasad dan membutuhkan makan. Kata basyar dengan makna seperti ini salah satunya dapat dilihat pada surat Ibrahim ayat 10. Dapat juga dilihat pada surat Hud ayat 27. 

Selanjutnya adalah kata nas. Kata ini menunjukkan makna manusia sebagai nama jenis yang berasal dari satu keturunan yang sama yakni adam.  Bintu Syathi’ memberikan penjelasan, jika kata nas disandingkan dengan kata malaikah maka menunjukkan kebaikan dengan mengutuk kekafiran atau menjadi utusan Allah. Salah satu ayat yang menunjukkan makna ini ada di surat al Baqarah ayat 161. Sedangkan kata nas yang menunjukkan kejelekan, kejahatan, dan kekafiran yang mengakibatkan masuk neraka adalah ketika disandingkan dengan kata jinnah. Contohnya dapat dilihat pada surat Hud ayat 119. 

Dua kosa kata selanjutnya yang memiliki terjemah manusia adalah ins dan insan. Keduanya berasal dari akar kata yang sama dan memiliki makna yang sama yaitu lawan kata dari kebuasan. Bintu Syathi’ memberi kesimpulan bahwa kata ins adalah lawan kata al jinn. Kata ins ini menunjukkan makna antonim dari sesuatu yang menakutkan, tidak diketahui, dan memiliki kehidupan berbeda dari manusia. Contohnya dapat dilihat pada surat al An’am ayat 128. Sedangkan untuk kata insan, Bintu Syathi’ memberikan beberapa pemaknaan. Pemaknaannya yaitu menunjukkan manusia sebagai makhluk yang unik dan multidimensi, diciptakan dari sesuatu yang bergantung atau menempel (‘alaq), diciptakan dari tanah dan air, dan makhluk yang dianugerahi ilmu dan bayan. Pada ayat pertama al Quran yang diturunkan, surat al ‘Alaq ayat 1-5, kata nas disebutkan sebanyak tiga kali dan ketiganya memiliki makna yang berbeda. Kata nas pertama memiliki makna bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dari ‘alaq. Yang kedua memiliki makna bahwa manusia diberi ilmu. Dan yang ketiga memiliki makna manusia sebagai makhluk yang memiliki sifat yang suka melampaui batas. 

Contoh kata lain yang memiliki terjemah sama tetapi dengan makna yang berbeda adalah kata hulmun dengan bentuk jamaknya ahlam dan ru’ya. Dua kosa kata itu memiliki terjemah yang sama, yakni “mimpi”. Akan tetapi, Bintu Syathi’ menyebutkan bahwa kata ahlam menunjukkan makna “bunga tidur”, sedangkan kata ru’ya bermakna mimpi yang benar. Seperti yang tertera di surat Yusuf ayat 43-44. 

Begitu juga dengan kata halafa dan aqsama. Keduanya memiliki terjemah sumpah/bersumpah. Perbedaannya adalah halafa merupakan kata yang digunakan untuk menunjukkan sumpah palsu dan kata aqsama menunjukan sumpah yang sesungguhnya.

Dari teori dan metode yang dikemukakan Aisyah Bintu Syathi’, tidak cukup memahami al Quran secara leterlek dari terjemah semata. Kita tetap harus menilik lebih lanjut model bahasa yang digunakan dan bagaimana keterkaitannya dengan kata atau ayat yang lain. Karena jika secara leterlek dapat menimbulkan salah kaprah dalam memahaminya, mengingat makna yang terkandung berbeda-beda meski secara harfiah sama. 

Wallahu a’lam 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...