Beranda Keislaman Muamalah Konsep Mahram Lelaki dan Perempuan Menurut Madzhab Syafi'i

Konsep Mahram Lelaki dan Perempuan Menurut Madzhab Syafi’i [1]

Harakah.id – Mahram dari sisi batas berlakunya terbagi kepada dua pembagian. Pertama, mahram muabbad, hubungan mahram yang tidak akan dibatalkan dengan sebab apapun. Kedua, mahram muaqqat, ikatan mahram yang bisa saja batal oleh sebab-sebab tertentu.

Islam memberikan batas-batas dan aturan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satu yang paling penting di dalamnya adalah berkaitan dengan interaksi antara lawan jenis, laki-laki dan perempuan. Islam membuat dua kategori lawan jenis bagi setiap orang, yaitu mahram dan Ajnabi. Kedua kategori tersebut menghasilkan batas interaksi yang berbeda, sederhananya mahram adalah kategori lawan jenis yang memiliki hubungan tertentu dengan seseorang, sehingga ia tidak boleh dinikahi. Selain itu ada batas-batas interaksi yang diperbolehkan dengan lawan jenis dalam kategori mahram, tetapi ia terlarang dengan lawan jenis kategori Ajnabi.

Kriteria dan hukum-hukum yang berkaitan dengan mahram adalah permasalahan yang dibahas secara mendalam dalam kajian fiqih. Pada pembahasan ini kita akan menjelaskan tentang batas-batasan mahram menurut mazhab Syafi’i.

  1. Mahram dari sisi batas berlakunya terbagi kepada dua pembagian. Pertama adalah mahram muabbad (abadi), maksudnya adalah hubungan mahram yang tidak akan dibatalkan dengan sebab apapun. Kedua, mahram muaqqat (terbatas waktu) yaitu ikatan mahram yang bisa saja batal oleh sebab-sebab tertentu.
  2. Mahram berdasarkan sebab-sebabnya terbagi kepada tiga, yaitu mahram karena sebab nasab atau keturunan, mahram karena sebab ridha’ atau persusuan, dan mahram karena sebab mushaharah atau rumah tangga. Pada pembahasan ini hanya dijelaskan tentang mahram karena sebab nasab saja.
  3. Mahram muabbad bagi laki-laki karena sebab nasab ada tujuh yaitu: al-Ummuhat (mencakup ibu, nenek dari pihak ibu maupun ayah dan seterusnya ke tingkat generasi berikutnya), al-Banat (mencakup anak perempuan dan cucu perempuan dan seterusnya pada tingkat generasi di bawahnya), al-akhawat (saudara perempuan baik seayah seibu maupun salah satunya saja), al-’ammat (bibi atau saudara perempuan dari ayah kita baik yang seayah seibu maupun salah satunya saja), al-Khalat (bibi atau saudara perempuan dari ibu kita baik yang seayah seibu maupun salah satunya saja), Banat al-Akh (anak perempuan dari saudara laki-laki yang seayah seibu maupun salah satunya saja), dan Banat al-Ukht (anak perempuan dari saudara perempuan yang seayah seibu maupun salah satunya saja).

Definisi dari al-Ummuhat adalah:

كلّ من ولدتك أو ولدت من ولدك

Setiap ”orang yang melahirkanmu” atau “melahirkan orang yang kamu lahir darinya”.

Definisi dari al-Banat adalah

كلّ من ولدتها أو ولدت من ولدها

Setiap” orang yang lahir darimu” atau “orang yang lahir dari orang yang lahir darimu”

Definisi dari al-akhawat adalah:

كلّ أنثى شاركتك فى أصليك أو أحدهما

Setiap perempuan yang membersamaimu  dalam dua orang tuamu atau salah satunya.

Definisi dari al-’ammat adalah

كلّ أنثى شاركت أباك فى أصليه أو فى أحدهما

Setiap perempuan yang membersamai ayah mu dalam dua orang tua mereka atau salah satunya.

Definisi dari al-Khalat adalah:

كلّ أنثى شاركت أمّك فى أصليه أو فى أحدهما

Setiap perempuan yang membersamai ibumu dalam dua orang tua mereka atau salah satunya.

Definisi dari Banat al-Akh adalah:

كلّ أنثى لأخيك عليها ولادة مباشرة أم بواسطة

Setiap perempuan yang memiliki hubungan wiladah (peranakan) dari saudara lakimu baik langsung (anak langsung dari saudara) atau dengan perantara (keturunan dari saudara)

Definisi dari Banat al-Ukht adalah:

كلّ أنثى لأختك عليها ولادة مباشرة أم بواسطة

Setiap perempuan yang memiliki hubungan wiladah (peranakan) dari saudara perempuanmu baik langsung (anak langsung dari saudara) atau dengan perantara (keturunan dari saudara.

  1. Mahram muabbad bagi perempuan karena sebab nasab juga ada tujuh yaitu: al-Aba’ (mencakup ayah, kakek dari pihak ibu maupun ayah dan seterusnya ke tingkat generasi berikutnya), al-Abna’ (mencakup anak laki-laki dan cucu laki-laki dan seterusnya pada tingkat generasi di bawahnya), al-Ikhwan (saudara laki-laki baik seayah seibu maupun salah satunya saja), al-A’’mam (paman atau saudara laki-laki dari ayah kita baik yang seayah seibu maupun salah satunya saja), al-Akhwal (paman atau saudara laki-laki dari ibu kita baik yang seayah seibu maupun salah satunya saja), Abna’ al-Akh (anak laki-laki dari saudara laki-laki yang seayah seibu maupun salah satunya saja), dan Abna’ al-Ukht (anak laki-laki dari saudara perempuan yang seayah seibu maupun salah satunya saja). Definisi dari ketujuh istilah tersebut sama seperti penjelasan tentang mahram nasab bagi laki-laki, hanya saja jenis kelaminnya diganti.
  2. Mahram mua’qqat adalah ikatan mahram temporal, jadi ikatan mahram tersebut hanya mengharamkan pernikahan saja tetapi tidak membolehkan interaksi seperti melihat aurat atau bersentuhan sebagaimana mahram muabbad.
  3. Mahram Mua’qqat bagi laki-laki adalah:
  • Dilarang memiliki ikatan pernikahan secara berbarengan dengan seorang perempuan dan saudaranya (saudara ini berlaku baik seayah & seibu maupun salah satunya, atau saudara sepersusuan).
  • Diilarang memiliki ikatan pernikahan secara berbarengan dengan seorang perempuan dan al’ammatnya (bibi: saudara perempuan dari ayah baik seayah & seibu maupun salah satunya, atau sepersusuan).
  • Dilarang memilki ikatan pernikahan secara berbarengan dengan seorang perempuan dan al-Khalatnya (bibi: saudara perempuan dari ibunya baik saudara seayah seibu maupun salah satunya atau sepersusuan).
  • Dilarang memiliki ikatan pernikahan secara berbarengan dengan seorang perempuan dan Banat al-Akh-nya (anak perempuan dari saudara laki-laki yang seayah seibu maupun salah satunya saja, atau sepersusuan)
  • Dilarang memiliki ikatan pernikahan secara berbarengan dengan seorang perempuan dan Banat al-Ukht (anak perempuan dari saudara perempuan yang seayah seibu maupun salah satunya saja, atau sepersusuan).

Sederhananya mahram mua’qqat bagi laki-laki adalah kerabat perempuan dari istrinya yang disebutkan di atas yang tidak dapat dinikahi selama kita ia masih terikat pernikahan dengan istri nya, seandainya ikatan pernikahan itu putus dengan sebab kematian istri atau perceraian maka Mahram Mua’qqat tersebut menjadi orang Ajnaby seperti biasa.

  1. Mahram mua’qqat bagi perempuan adalah:
  • Saudara dari suaminya (baik seayah & seibu maupun salah satunya, atau saudara sepersusuan).
  • ‘Amm dari suaminya (paman: saudara laki-laki dari ayah suaminya baik seayah & seibu maupun salah satunya, atau sepersusuan).
  • Khal dari suaminya (paman: saudara laki-laki dari ibu suaminya baik saudara seayah seibu maupun salah satunya atau sepersusuan)
  • Ibn al-Akh dari suaminya (anak laki-laki dari saudara laki-laki suaminya yang seayah seibu maupun salah satunya saja, atau sepersusuan)
  • Ibn al-Ukht dari suaminya (anak laki-laki dari saudara perempuan suaminya yang seayah seibu maupun salah satunya saja, atau sepersusuan).

Berkaitan dengan mahram mua’qqat bagi perempuan tidak perlu disebutkan tentang larangan memilki ikatan pernikahan secara berbarengan, mengingat seorang perempuan memang tidak dapat memiliki ikatan pernikahan dengan lebih dari satu orang dalam satu waktu pada keadaan apapun.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...