Beranda Sajian Utama Fatimah Binti Al-Walid, Perempuan Petarung yang Jadi Konsultan Perang di Masa Nabi

Fatimah Binti Al-Walid, Perempuan Petarung yang Jadi Konsultan Perang di Masa Nabi

Harakah.idFatimah binti al-Walid adalah sosok perempuan petarung yang berbeda dengan perempuan pada umumnya. Sahabiyah satu ini punya pemikiran cemerlang soal strategi perang. Maka tidak heran ketika ia kemudian didapuk sebagai konsultan perang.

Fatimah binti al-Walid merupakan sosok terkemuka di era Jahiliyah. Beliau adalah putri bangsawan kaya raya yang pernah menanggung separuh biaya perawatan Ka’bah yaitu Al-Walid bin Mughirah. Fathimah binti al-Walid merupakan adik perempuan dari panglima Islam, yaitu Khalid bin Walid dan juga istri tokoh terkemuka Harits bin Hisyam.

Sahabiyah ini merupakan sosok yang selalu melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Tidak hanya pada persoalan ibadah saja, tetapi juga dalam berinteraksi dengan orang lain dan perihal lainnya. Fathimah binti al-Walid masuk Islam pada waktu Fathu Makkah. Beliau juga salah satu wanita yang ikut berbaiat di hadapan Rasulullah SAW secara langsung.

Selain itu, Fatimah binti al-Walid merupakan sosok perempuan di kalangan Sahabiyah yang selalu menemani suaminya ketika pergi Syam. Fathimah binti al-Walid juga menjadi tempat bersimpuh dan tempat curhat saudaranya, yaitu Khalid bin Walid tentang strategi perang, ketika  ditunjuk sebagai panglima dalam penaklukan Persia dan Romawi.

Baca Juga: Mengenal Sumayyah Binti Khubbat, Perempuan Sahidah Pertama Dalam Sejarah Islam

Dalam Kitab Nisa’ Haula Rasul, diceritakan suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab memberhentikan Khalid bin Walid dari jabatannya sebagai panglima perang. Ia kemudian mendatangi saudarinya untuk meminta pendapat tentang pemberhentiannya. Setelah curhat dan mendengarkan pendapat adiknya, Khalid bin Walid mencium kening adiknya sambil berkata, “Benar apa yang kamu katakan, sesungguhnya Umar bin Khattab lebih mengetahui urusan yang dihadapinya dari pada saya dan dia tidak akan membohongi dirinya sendiri.”

nucare-qurban

Fathimah binti al-Walid merupakan sosok saudari teladan, yang paham akan arti sebuah persaudaraan. Yaitu saling menasihati dan bertukar pikiran antara yang satu dan yang lainnya. Begitulah para sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW mencotohkan arti sebuah persaudaraan. Ketika saudaranya sedang terkena masalah, rela menjadi tempat curhat dan menjadi penasehat bagi saudaranya yang sedang terkena masalah.

Apa yang dilakukan Fathimah binti al-Walid yang berkenan mendengarkan curhatan kakaknya, dan berani memberi nasihat kepada kakaknya, adalah sebuah tauladan yang harus dicontoh oleh umat Islam, agar mampu menjalani kehidupan yang harmonis dengan persaudaraan. Khalid bin Walid yang bestatus sebagai kakak dan lebih tua, tidak canggung curhat dan meminta pendapat kepada adiknya. Begitu juga Fathimah binti al-Walid, yang lebih muda tidak canggung dalam memberi nasihat kepada kakaknya.

Baca Juga: Kisah Asiyah Istri Fir’aun, Potret Perempuan Salihah yang Dikisahkan oleh Allah dalam Al-Quran

Khalid bin Walid begitu beruntung mempunyai seorang saudari yang statusnya bukan hanya seorang adik, tetapi juga sekaligus motivator kepribadian dan penasehat militer. Bahkan ketika Khalid bin Walid diberhentikan dari jabatannya sebagai panglima, Khalid bin Walid tidak marah dan berburuk sangka kepada Umar bin Khattab. Justru Khalid bin Walid mendukung keputusan yang diambil oleh Umar bin Khattab, yang bisa jadi dukungan itu muncul hasil konsultasinya kepada Fathimah.

Begitulah arti sebuah saudara dalam sebuah persaudaraan, selain berfungsi sebagai pengayom, penyemangat, dan pelindung bagi saudaranya, ia juga menjadi penasehat sekaligus motivator. Selain itu, apa yang ditunjukkan oleh fathimah adalah sebuah pelajaran penting bagi kita semua.  Dimana ketika ada saudara yang sedang terkena masalah, tidak memanas-manasi situasi dengan berkata ini dan itu. Tetapi memberinya nasehat dan memotivasi agar menerima apa yang terjadi dan mampu berbuat lebih baik lagi.

REKOMENDASI

Mengenal Gagasan Ibn Haitsam: Ilmuwan dan Filosof Muslim yang Terlupakan

Harakah.id - Ibn Haitsam mungkin adalah salah seorang ilmuan dan filosof Muslim yang jarang sekali dibicarakan. Popularitasnya kalah dengan ilmuan dan...

Kisah Perempuan dalam Jaringan Pendukung ISIS di Indonesia

Harakah.id - Perempuan memiliki peran jauh lebih penting dalam proses pembentukan klaster kelompok radikal. Kisah para perempuan berikut akan menunjukkan hal...

Dalam Pertempuran Melawan Virus, Dunia dan Kemanusiaan Tak Lagi [Hanya] Membutuhkan Kepemimpinan

Harakah.id - Virus, yang kemudian dikenal dengan nama Corona, sudah menyebar setahun dan menjangkiti jutaan manusia. Sebuah artikel dari Yuval Noah...

Peran Habib Rizieq dalam Lahirnya Sentimen Anti-Arab di Indonesia

Harakah.id - Habib Rizieq berikut Front Pembela Islam harus dilihat bukan hanya sebagai organisasi yang soliter, tapi juga percikan dari...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Harakah.id - Gerakan Habib Rizieq dan FPI-nya mendapat sorotan sejak lama. Para pemimpin Muslim di Indonesia tercatat pernah berseberangan dengannya. Inilah...