Beranda Khazanah Konsep Pendidikan Islam, Mengajarkan dan Mendidik Agama

Konsep Pendidikan Islam, Mengajarkan dan Mendidik Agama

Harakah.idPendidikan Islam adalah proses mendewasakan generasi muda dengan dididik berdasarkan nilai-nilai Islam untuk bekal hidup di dunia dan sebagai keselamatannya di akhirat.

Pendidikan merupakan hal penting bagi sebuah bangsa. Sebab untuk mewujudkan bangsa yang ber-peradaban dibutuhkan peran pendidikan.

Hal ini dapat dilihat dalam UU Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003, Bab 2, Pasal 3 yang menjelaskan kalau fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Meminjam fungsi pendidikan nasional, kita bisa memahami kalau untuk mewujudkan peradaban Islam yang bermartabat, maka dibutuhkan pendidikan Islam yang baik.

Pendidikan Islam telah dimulai sejak Nabi Muhammad SAW, di mana saat itu Nabi SAW adalah gurunya dan para sahabat adalah murid-muridnya. Dan hingga sekarang, pendidikan Islam terus berlanjut dalam berbagai bentuknya di majelis-majelis, halakah-halakah, pesantren, mata pelajaran PAI di sekolah, dan lainnya.

Kata Islam dalam pendidikan Islam menunjukkan warna suatu pendidikan, yaitu pendidikan yang berwarna atau bernafaskan nilai-nilai Islam. Kata “Islam” berkedudukan sebagai kata sifat yang menyifati kata “pendidikan”. Sehingga pendidikan Islam berarti sebagai pendidikan yang Islami yang berdasarkan nilai-nilai dalam ajaran Islam.

Menurut Ahmad Tafsir dalam bukunya berjudul “Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam”, bahwa pendidikan Islam ialah bimbingan maksimal sesuai dengan ajaran Islam. Bila disingkat, pendidikan Islam ialah bimbingan terhadap seorang agar dia benar-benar menjadi muslim.

Jika kita memadukan konsep tujuan pendidikan secara umum, yaitu sebagai usaha memanusiakan manusia, dengan pandangan Ahmad Tafsir di atas, maka dapat dipahami pendidikan Islam sebagai usaha memanusiakan, dan manusia yang dimaksud adalah menjadi manusia Islam (muslim) yang maksimal.

Mahmud dalam bukunya “Pemikiran Pendidikan Islam”, mengemukakan pandangan tentang pendidikan Islam yang sejalan dengan pengertian pendidikan Islam di atas.

Bahwa pendidikan Islam adalah aktivitas bimbingan yang disengaja untuk mencapai kepribadian muslim, baik yang berkenaan dengan dimensi jasmani, rohani, akal, maupun moral.

Selain itu, menurut Ramayulis dalam bukunya “Ilmu Pendidikan Islam”, kalau pendidikan Islam merupakan proses terinternalisasi pada peserta didik. Proses itu melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan potensi peserta didik. Gunanya adalah untuk mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat.

Menurut Hasan Langgulung dalam “Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam”, bahwa pendidikan adalah proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. 

Dari beberapa pandangan pendidikan Islam yang dikemukakan para tokoh pendidikan di atas, dapat dipahami, kalau pada dasarnya pendidikan Islam adalah proses pendidikan dalam upayanya memanusiakan manusia. Dan manusia yang dimaksud adalah muslim sebagai manusia yang hidup dengan mencerminkan nilai-nilai ke-Islaman.

Pendidikan Islam adalah proses mendewasakan generasi muda dengan dididik berdasarkan nilai-nilai Islam untuk bekal hidup di dunia dan sebagai keselamatannya di akhirat.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik, dijelaskan kalau tujuan Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia adalah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia.

Dari hadis ini dapat dipahami kalau pendidikan Islam itu sejalan dengan pendidikan akhlak. Sebab pendidikan Islam yang berupaya membentuk muslim yang punya nilai-nilai Islam dalam hidup, sejatinya merupakan upaya untuk mewujudkan muslim yang berakhlak sesuai tujuan Nabi SAW adalah menyempurnakan akhlak pada umatnya.

Nabi Muhammad SAW juga bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat (berakhlak) pada manusia lainnya.

Ini memberikan pengertian, kalau baru sekadar pengajaran ilmu-ilmu ke-Islaman saja itu namanya baru pengajaran agama Islam belum pendidikan Islam. Sebab dalam pendidikan Islam juga harus ada upaya pembinaan akhlak dalam diri peserta didik. 

Buya Hamka dalam bukunya “Lembaga Hidup”, memberi kritik terhadap beberapa lembaga pendidikan Islam yang hanya sekadar mengajar agama, namun tak mendidik agama: Pendidikan dan pengajaran tidak sama.

Apa gunanya bersembunyi, bahwasanya pada masa ini pun (masa Buya Hamka) banyak terdapat sekolah-sekolah yang mengajarkan agama, tetapi tidak mendidik agama.

Maka keluar pulalah anak-anak muda yang alim ulama, bahasa Arabnya seperti air mengalir, tetapi budinya (akhlaknya) rendah. Sama sajalah sekolah macam ini dengan sekolah-sekolah yang tidak mengajarkan, pun tidak mendidik agama.

Dari kritik Buya Hamka, bisa dipahami bahwa pendidikan Islam tak hanya sekadar sebagai upaya pengajaran untuk menanamkan berbagai teori seputar agama Islam.

Namun, lebih dari itu adalah upaya untuk mewujudkan nilai-nilai Islam dalam diri peserta didik sebagai seorang muslim. Sebab agama bukan lah sekadar rangkaian teori untuk dihapalkan, melainkan merupakan pedoman hidup yang menuntun jalan manusia pada keselamatan.

Namun, tak bisa dipungkiri bahwa pengajaran merupakan salah satu sarana yang juga harus ada dalam upaya pendidikan. Sebagaimana dalam budaya Pesantren, para santri selain diajarkan agama, juga dididik untuk mengamalkan agama.

Misalnya, para santri dibiasakan untuk salat 5 waktu bahkan salat tahajud dan duha, dibiasakan puasa senin dan kamis, serta dibiasakan untuk mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya.

Konsep seperti ini harus dipahami betul oleh para Pendidik Islam baik di pesantren, lembaga pendidikan Islam, maupun sekolah umum. Sehingga tak hanya sekadar mengutamakan dan menilai kecakapan peserta didik dalam menghapal pelajaran agama Islam, namun juga membiasakan dan menilai pengamalan agama peserta didik.

Dengan demikian, pendidikan Islam dapat menjadi upaya untuk menyiapkan generasi muslim yang paham, cinta, dan mengamalkan agamanya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...