Beranda Kabar Konsolidasi Pengelola Media Islam Moderat, Optimis Menghadapi Masa Depan

Konsolidasi Pengelola Media Islam Moderat, Optimis Menghadapi Masa Depan

Harakah.idRedaksi Harakah.id berkesempatan menghadiri pertemuan pengelola media Islam. Inilah catatan kegiatan tersebut.


El-Bukhari Institute bekerja sama dengan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag RI menyelenggarakan pertemuan Konsolidasi Pengelola Media: Promoting Moderasi Beragama untuk Sindikasi Media Islam, di Hotel Bluesky, Raden Saleh, Jakarta Pusat, pada Jumat (11/12) pagi.

Pertemuan tersebut dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan sangat ketat dan dihadiri oleh perwakilan pengelola beberapa media Islam moderat. Di antaranya NU Online, Alif.id Islami.co, bincangsyariah.com, bincangmuslimah.com, dan harakah.id yang berdiskusi untuk mengarusutamakan informasi di dunia digital dengan konten moderasi beragama.

Pada kesempatan itu, Direktur Numedia Digital Indonesia Savic Ali menceritakan awal perjalanan NU Online. Mulanya, para kiai di daerah tidak mengenal Situs Resmi NU ini. Namun berkat konsistensi dan membuat berbagai konten keislaman, saat ini semua pengurus NU di seluruh tingkatan kenal dengan NU Online.

“Bahkan generasi muda NU saat ini mengenal NU Online dan menjadikan situs keislaman ini menjadi inspirasi mereka,” kata Savic.

Ia mengakui bahwa tidak akan sanggup dan mustahil untuk bisa terlibat langsung ke berbagai komunitas NU di daerah karena waktu yang sangat terbatas. Sementara itu ada sekitar 900 juta warga NU di seluruh Indonesia.

“Kita tidak mungkin bisa menjangkau warga NU. Makanya kita terus melakukan terobosan-terobosan dan berbagai langkah yang bisa memantik kepalanya orang NU,” tuturnya.

Akhirnya, pada kemudian hari baru ditemukan sebuah pola untuk bisa menjangkau warga NU dengan tanpa bersentuhan langsung. Savic menuturkan, banyak yang tidak pernah bisa hadir secara langsung tapi karena ‘layar kapal digital’ dikembangkan dan diarahkan ke mana-mana, maka kini NU Online telah dikenal secara luas.

“Bahkan hari ini pengurus NU banyak sekali generasi NU yang bikin website. Saya merasa selalu ada faktor X yang tidak pernah kita tahu, yang bukan semata soal finansial. Ada faktor kecil yang kita belum tentu tahu. Kadang dipengaruhi karena momentum,” ujarnya.

Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa saat ini, banyak warga NU di daerah yang memiliki web dan membuat konten keislaman karena terinspirasi atau mendapat sumbangsih dari NU Online.

“NU itu kuat karena jumlah masjid, madrasah, dan pesantren yang banyak. Kegiatan mereka selalu jalan dan dinamis sehingga NU bisa bertahan sampai puluhan tahun. Begitu juga dengan dunia digital. Kalau kita mau kuat dan menang di online ya harus bikin website ribuan tapi juga harus hidup semua,” katanya.

“Di media online, sama. Kalau website kita banyak maka kita bisa menang lawan salafi. Karena mereka belum tentu bisa membuat itu,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Savic berpesan kepada perwakilan pengelola media keislaman yang hadir agar jangan pernah berhenti untuk belajar dan mencari tahu. Lebih lanjut ia menyebut bahwa masa depan dunia digital adalah konten-konten video di youtube.

“Kita semua harus memperkuat di lini itu (youtube). Walaupun tidak bikin web, yang penting bikin konten. Dinamika di dunia digital memaksa kita untuk melakukan kontranarasi terhadap kelompok lain yang kontra terhadap NU,” ungkap Savic.

Dengan rasa optimis, ia mengatakan bahwa semakin banyak web yang dikelola oleh generasi muda NU saat ini, maka NU akan semakin maju di dunia digital. Kapal NU akan lebih kuat di lautan digital dari kelompok-kelompok lain.

“Kalau ada konten setiap hari, sebagaimana pesantren yang selalu ada kegiatan, maka kita akan maju,” katanya.

Inovasi harus terus jalan

Sementara itu, Pemimpin Redaksi NU Online Ahmad Mukafi Niam mengungkapkan bahwa media-media Islam moderat harus tetap optimis. Tantangan yang ada di depan harus dihadapi dengan berbagai persiapan yang matang.

“Sekarang (tugas kita) menyelamatkan ‘kapal’ dan kita harus bisa optimis. Insyaallah dengan inisiatif yang sudah kita lakukan, kita optimis bisa berkembang dengan cepat. Kompetitor kita di tetangga sebelah juga melakukan hal sama, kita tidak boleh terdiam. Inovasi harus tetap kita lakukan,” katanya.

Niam juga menjelaskan bahwa selama pandemi Covid-19, NU Online mencoba untuk menjelajahi platform media sosial yang lain. Misalnya di youtube dengan mengejar produksi konten secara rutin. Konten-konten yang tergarap sejauh ini adalah soal tutorial keislaman.

“Karena kalau kita diam maka akan mengalami keterlambatan. Sementara pihak lain terus berjalan. Kita selalu bergandengan tangan untuk terus maju bersama,” katanya.

“Nilai bersama kita (adalah) untuk memperjuangkan Islam rahmatan lil alamin dan untuk bergerak bersama menjadikan Indonesia yang damai dan sejahtera,” harap Niam.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...