Beranda Keislaman Hadis Kontroversi Penggunaan Niqab dalam Masyarakat Muslim, Ini Pandangan Rasulullah

Kontroversi Penggunaan Niqab dalam Masyarakat Muslim, Ini Pandangan Rasulullah

Harakah.idSetelah Islam datang, penggunaan cadar ini terus berlangsung. Meski begitu, Nabi Muhammad pada saat itu tidak mempermasalahkan model pakaian tersebut.

Al-Quran dan Hadis merupakan pedoman hidup dan sumber hukum Agama Islam, maka secara otomatis umat Islam dalam menjalankan kehidupan di dunia, baik dalam ranah ibadah maupun muamalah harus dalam koridor alquran dan hadis. Sehingga penerapan konsep dasar Islam yang meliputi Aqidah, Syariat dan Akhlak bisa terimplementasikan dalam keseharian umat Islam.

Salah satu dari beberapa perkara yang disinggung dan diperhatikan oleh Agama Islam ialah aurat. Aurat sendiri merupakan bahasa arab yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan arti sebagai kemaluan, bagian tubuh yang tidak dibolehkan untuk terlihat (dari segi hukum Islam). Aurat bisa juga dimaknai sebagai suatu yang memunculkan rasa malu sehingga seseorang berkeinginan untuk menutupinya. Dari beberapa uraian tersebut, bisa dipahami bahwa aurat dalam pandangan Islam ialah bagian badan yang bisa menimbulkan rasa malu sehingga tidak boleh diperlihatkan. Hal ini memperlihatkan bahwa Islam sangat memperhatikan permasalahan hingga detail yang tidak hanya berhubungan dengan rukun-rukun namun juga nilai etika dan estetika, khususnya dari segi penampilan umat Islam.

Cadar adalah kain penutup kepala atau wajah bagi perempuan. Niqab adalah istilah syar’i untuk cadar yaitu sejenis kain yang digunakan untuk menutupi bagian wajah. Cadar dikenakan oleh sebagian kaum perempuan Muslimah sebagai kesatuan dengan jilbab.

Niqab atau sering disebut cadar menjadi trending topik yang masih hangat diperbincangkan dewasa ini. Terjadi kontroversi argumentasi yang muncul ketika membahas hal ini. Dilihat dari kondisi sosial dan kultur kebudayaan bangsa Indonesia yang majemuk, tentu sangat wajar terjadi perbedaan pandangan. Atas dasar pro dan kontra yang terjadi, tentu hal ini menjadi kajian yang menarik dibahas oleh khalayak umum, terkhusus kaum hawa.

Berbicara tentang cadar, masyarakat pasti sudah sangat familiar dengan berita yang belum lama viral di kalangan warganet. Pawai anak TK yang menggunakan cadar dan membawa senjata di Probolinggo yang dilaksanakan dalam rangka HUT RI ke-73 tersebut mengundang banyak komentar negatif. Banyak orang menganggap kegiatan tersebut merupakan pengajaran dan penyebaran faham radikalisme dan terorisme. Sehingga, untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu adanya pemeriksaan dan penyelidikan khusus atas kasus tersebut.

Setelah diwawancarai wartawan, kepala sekolah TK Kartika V 69 tersebut memberikan penjelasan bahwa seragam yang dikenakan anak didiknya saat pawai budaya, bukan seragam baru, melainkan memfungsikan seragam lama yang dimiliki sekolahnya untuk menghemat beban biaya wali murid. Ia juga menegaskan tidak ada niatan untuk mengajarkan kekerasan kepada anak didiknya, apalagi yang berbau terorisme.

“Anak-anak mengenakan seragam pawai bercadar dan menenteng senjata itu mengangkat tema Perjuangan Bersama Rosulullah Untuk Meningkatkan Iman dan Taqwa. Bukan menunjukkan hal yang berbau teroris yang dimaksud warganet, saya minta maaf kalau memang saya salah,” tegasnya saat ditemui wartawan.

Dari kasus tersebut, dapat ditemukan banyak anggapan miring terkait cadar atau niqab itu sendiri. Hakikatnya, cadar adalah kain penutup kepala atau muka (bagi perempuan). Niqab (Arab: نقاب, niqāb) adalah istilah syar’i untuk cadar yaitu sejenis kain yang digunakan untuk menutupi wajah. Niqab dikenakan oleh sebagian kaum perempuan Muslimah sebagai

kesatuan dengan jilbab (hijab). Niqab banyak dipakai wanita di negara-negara Arab sekitar Teluk Persia seperti Arab Saudi, Yaman, Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman dan Uni Emirat Arab. Ia juga biasa di Pakistan dan beberapa wanita Muslim di Barat.

Asal Usul Cadar Wanita

Umat Islam menganggap cadar berasal dari budaya masyarakat Arab yang akhirnya menjadi pembahasan dalam Islam. Asal-usul cadar semakin ditujukan kepada bangsa Arab sebagai budaya mereka. Padahal bisa terjadi tradisi cadar tidak berasal dari mereka.

Cadar sebenarnya telah digunakan sebelum Islam datang. Saat itu, cadar merupakan jenis pakaian yang digunakan oleh perempuan di wilayah gurun pasir. Hal ini diketahui dari beberapa sumber. Salah satunya adalah riwayat dari Abdullah bin Umar. Dalam riwayat itu, Aisyah bertemu Nabi Muhammad ketika Aisyah menggunakan cadar. Aisyah merupakan istri Nabi Muhammad.

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa ia berkata, “Ketika Nabi Muhammad SAW menikahi Shafiyyah, beliau melihat Aisyah mengenakan niqab (cadar) di tengah kerumunan para sahabat dan Nabi mengenalnya.” (Thabaqat Ibn Sa’d).

Setelah Islam datang, penggunaan cadar ini terus berlangsung. Meski begitu, Nabi Muhammad pada saat itu tidak mempermasalahkan model pakaian tersebut. Dengan kata lain, tidak ada aturan untuk perempuan muslim menggunakan cadar. Jadi, cadar diartikan hanya sebatas jenis pakaian yang dikenal dan dipakai oleh sebagian perempuan.

Meski begitu, perdebatan soal cadar terus berkembang. Perdebatan ini mengenai hukum penggunaan cadar. Menurutnya, hukum tersebut dianggap berkaitan dengan aurat perempuan. Jadi perbedaan penafsiran soal aurat inilah yang kemudian menyebabkan perbedaan pendapat.

Berdasarkan perbedaan tersebut, tidak heran jika ada kalangan yang menggunakan cadar atau pun tidak. Dirasa hal itu adalah wajar selagi punya dasar masing-masing. Tidak terpuji ketika saling mendiskriminasi satu dengan yang lain. Hal ini pasti berujung pada perpecahan yang tidak diinginkan.

Namun, permasalahan cadar ini juga tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya masyarakat di suatu wilayah. Jika kultur budaya wilayah tersebut asing dengan penggunaan cadar itu sendiri, sebab ada alasan tertentu semisal rawan radikalisme atau terorisme, maka mengambil maslahat atau mencegah hal tersebut tentu lebih baik. Kaidah Fiqh berikut sesuai dengan uraian tersebut, “Menolak mudharat (bahaya) lebih didahulukan dari mengambil manfaat”.

Dengan begitu, persoalan cadar di Indonesia yang menjadi sorotan publik dan terkesan sensitif, menjadi hal yang maklum. Dilihat dari karakter budaya Indonesia sendiri, katakan berbeda dengan bangsa Arab. Sehingga, kaum bercadar di Indonesia harus siap mendapat komentar yang sangat plural dari masyarakat. Namun, hal tersebut seharusnya tidak menjadikan hal serius yang kemudian berujung pada konflik antar saudara.

Zihan Halwa Putri , Mahasiswi Prodi Ilmu Hadis, Fakultas Usuludin UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...