Korupsi dan Nepotisme dalam Perspektif Hadis, Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Nabi

0
107

Harakah.idPenting menelusuri pandangan hadis Nabi terhadap praktik korupsi dan nepotisme. Korupsi dan nepotisme adalah praktik buruk dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Korupsi dan Nepotisme dalam Perspektif Hadis. Korupsi adalah tindakan memperkaya diri sendiri atau mengutamakan kepentingan pribadi. Tindakan korupsi dapat merugikan banyak pihak, baik masyarakat maupun negara.

Nepotisme (biasa disebut konsep ‘orang dalam’) adalah tindakan pemegang jabatan publik (aparat negara) yang cenderung kepada sanak keluarganya dalam pembagian kekuasaan dan wewenang yang terkait dengan urusan publik.

Di sini, penting menelusuri pandangan hadis Nabi terhadap praktik korupsi dan nepotisme. Korupsi dan nepotisme adalah praktik buruk dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Korupsi dalam Pengertian Penggelapan Dana Masyarakat

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعًا: «غَزَا نَبِيٌّ مِن الأَنبِيَاء -صلوات الله وسلامه عليهم- فقال لقومه: لاَ يَتبَعَنِّي رجُل مَلَك بُضْعَ امرَأَةٍ وَهُوَ يُرِيدُ أنْ يَبنِي بِهَا وَلَمَّا يَبْنِ بِهَا، وَلاَ أحَدٌ بَنَى بُيُوتًا لم يَرفَع سُقُوفَهَا، ولاَ أَحَدٌ اشتَرَى غَنَمًا أو خَلِفَات وهو يَنتظِرُ أَولاَدَها، فَغَزَا فَدَنَا مِنَ القَريَةِ صَلاةَ العَصر أو قَرِيباً مِن ذلك، فَقَال للشَّمسِ: إِنَّك مَأمُورَة وأَنَا مَأمُور، اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عَلَينَا، فَحُبِسَتْ حَتَّى فَتَحَ الله عليه، فَجَمَع الغَنَائِم فَجَاءَت -يعني النار- لِتَأكُلَهَا فَلَم تَطعَمها، فقال: إِنَّ فِيكُم غُلُولاً، فَليُبَايعنِي مِنْ كُلِّ قَبِيلَة رجل، فَلَزِقَت يد رجل بِيَدِهِ فقال: فِيكُم الغُلُول فلتبايعني قبيلتك، فلزقت يد رجلين أو ثلاثة بيده، فقال: فيكم الغلول، فَجَاؤوا بِرَأس مثل رأس بَقَرَةٍ من الذَّهَب، فَوَضَعَهَا فجاءت النَّارُ فَأَكَلَتهَا، فَلَم تَحِلَّ الغَنَائِم لأحَدٍ قَبلَنَا، ثُمَّ أَحَلَّ الله لَنَا الغَنَائِم لَمَّا رَأَى ضَعفَنَا وَعَجزَنَا فَأَحَلَّهَا لَنَا».

Dari Abu Hurairah -radiyallahu ‘anhu- secara marfu’, “Ada salah seorang di antara para Nabi -salawatullah wa salamuhu ‘alaihim- berperang lalu berkata kepada kaumnya, “Jangan mengikutiku (berperang) seorang lelaki yang baru menikah, dan ia ingin menggauli istrinya, sementara ia belum melakukannya. Tidak juga seorang yang membangun rumah sedangkan ia belum selesai memasang atapnya. Dan tidak pula seorang yang baru membeli kambing atau unta yang sedang bunting dan ia menunggu kelahiran anaknya.”

Lantas Nabi itu berangkat perang dan ketika mendekati negeri (yang diperangi) pada waktu salat Asar atau mendekati waktu itu, Nabi itu berkata kepada matahari, “Wahai matahari, sesungguhnya engkau diperintah dan aku pun diperintah. Ya Allah, tahanlah matahari itu untuk kami. Kemudian matahari itu pun tertahan jalannya sehingga Allah memberikan kemenangan kepada Nabi tersebut. Lalu Nabi itu mengumpulkan harta rampasan perang kemudian datanglah api untuk melahapnya, tetapi api itu tidak dapat melahapnya.

Nabi itu berkata, “Sesungguhnya di antara kalian ada yang berbuat ghulul (menyembunyikan harta rampasan perang), maka setiap kabilah harus mengirimkan seorang laki-laki untuk berbaiat kepadaku.” Lantas ada seorang laki-laki yang tangannya lekat dengan tangan Nabi itu, maka Nabi itu berkata, “Sesungguhnya di kalangan kabilahmu ada yang berbuat ghulul, oleh sebab itu hendaklah seluruh orang dari kabilahmu memberikan pembaiatan kepadaku.”

Kemudian ada dua atau tiga orang (dari kabilah tersebut) yang tangannya lekat dengan tangan Nabi itu, lalu Nabi itu berkata, “Dari kalanganmu ada yang berbuat ghulul.” Lalu mereka membawa emas sebesar kepala sapi, kemudian meletakannya. Lantas datanglah api dan melahapnya. Ghanimah tidak dihalalkan bagi siapa pun sebelum kita. Kemudian Allah menghalalkan ghanimah untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita. Dia pun menghalalkannya untuk kita.”

Pengertian ghulul secara umum ini sejalan dengan pengertian korupsi secara umum pula. Sama dengan korupsi, ghulul bermakna perbuatan khianat terhadap segala jenis amanah. Dalam korupsi dan ghulul ada unsur khianat atau penyalahgunaan; sementara objeknya adalah amanah atau kepercayaan orang lain atau publik. Dengan demikian, konsep ghulul merupakan konsep yang maknanya paling dekat dengan konsep korupsi.

Korupsi dalam Pengertian Suap

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قاَلَ رَسُو لُ اللهِ – صَلَى اللهُ عَلَيْهِ ؤَسلَّمَ لَعَنْ اللهُ الرّاشِىَ وَالْمُرْ تَسِىَ فى الْحُكْمِ (رَوَاهُ اَحْمَدُ)

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasul SAW bersabda: Allah SWT melaknat penyuap dan yang di suap (HR. Imam Ahmad).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Definisi dosa besar yang terbaik adalah: dosa yang ada had (hukuman tertentu dari agama) di dunia, atau ancaman di akhirat, atau peniadaan iman, atau mendapatkan laknat atau kemurkaan (Allah) padanya”. [Taisir Karimirrahman, surat an-Nisa’/4:31]

Nepotisme dalam Pengertian Mendahulukan Kepentingan Pribadi

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي كَمَا اسْتَعْمَلْتَ فُلَانًا قَالَ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أُثْرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ

Dari Anas bin Malik dari Usaid bin Hudlair radliallahu ‘anhum; ada seseorang dari kalangan Anshar yang berkata; “Wahai Rasulullah, tidakkah sepatutnya baginda mempekerjakanku sebagaimana baginda telah mempekerjakan si fulan?”. Beliau menjawab: “Sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap-sikap utsrah (individualis, egoism, orang yang mementingkan dirinya sendiri). Maka itu bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku di telaga al-Haudl (di surga).” (HR. Al-Bukhari)

Terhadap   permintaan   Usayd   tersebut,   secara   arif   rasul menanggapinya dengan ungkapan (kalian akan menyaksikan setelahku perilaku atsarah) إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً . Jawaban rasul tersebut dimaksudkan untuk menolak permintaan Usayditu secara halus berdasarkan pertimbangan tertentu beliau.Tampaknya permintaan tersebut dikemukakan Usayd di hadapan orang banyak, terbukti dengan jawaban yang diberikan Rasul menggunakan frase (Sungguh kalian) إِنَّكُمْ dan فَاصْبِرُوا (Bersabarlah kalian). Dengan demikian, pernyataan tersebut tidak hanya ditujukan khusus kepada Usayd, tetapi bersifat umum.

Mengenai kata   أَثَرَةً berasal dari akar kata أَثَرَ yang berarti bekas dan dapat pula berarti kecenderungan. Dalam konteks hadis tersebut, menurut Abu Ubayd, أَثَرَةً berarti mementingkan diri sendiri dalam hal pembagian al-fay’ (Al-Mubarakfuri,1979:427). Pengertian ini dikuatkan oleh al-Kirmani yang mengartikan أَثَرَةً dengan sikap penguasa yang selalu mengutamakan dirinya dan keluarganya dalam mendapatkan keuntungan duniawi. Dewasa ini kecenderungan sikap seperti itu identik dengan nepotisme.

Berdasarkan keterangan di atas, dapat dipahami bahwa pengertian ghulul sama dengan korupsi, ghulul bermakna perbuatan khianat terhadap segala jenis amanah. Nepotisme sesuai dengan pengertiannya,  bertujuan  “mengawetkan” atau dalam batas-batas tertentu “memaksakan” kehendak dan kepentingan untuk “merajai” kekuasaan (politik) dan kekuasaan ekonomi (bisnis), sehingga salah satu dampaknya adalah praktek monopoli yang didominasi oleh keluarga atau orang-orang dekat tertentu. Nabi saw. menyarankan agar menghadapi suasana demikian, haruslah disertai kesabaran.

Artikel “Korupsi dan Nepotisme dalam Perspektif Hadis, Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Nabi” adalah kiriman dari Ripa Sayid Ramadan, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta