Kritik Atas Cocokologi Ustadz Adi Hidayat Tentang Hubungan Agama dan Sains dalam Islam

0
2400

Harakah.idAgama dan sains dalam Islam punya hubungan rumit. Tidak sedikit ilmuwan sains di masa lalu yang dituduh menyimpang oleh para pendukung ortodoksi. Agak aneh jika sebagian umat Islam hari ini mengelukan saintis Muslim, sebagai “Para penemu yang terinspirasi Al-Quran”. Padahal di masa lalu mereka dikafirkan. Agama dan sains dalam Islam memang rumit.

Membicarakan Agama dan Sains tidak pernah membosankan. Keduanya merupakan saluran yang dijalani umat manusia untuk mencapai kebenaran. Meskipun tentu saja, jika keduanya di-personifikasi-kan layaknya dua orang laki-laki, agama adalah kakek-kakek yang ribuan tahun lebih tua sedangkan sains lebih mirip seperti remaja yang masih muda dan enerjik.

Dari sekian agama besar di dunia, Islam adalah agama memiliki hubungan yang begitu rumit dan membingungkan dengan sains. Antara cinta dan benci, dari segenap kegemilangan sains yang pernah diraih oleh beberapa peradaban, hanya kegemilangan peradaban sains di dunia Islam, yang sekaligus dijadikan nilai-nilai kebanggaan oleh penganutnya. 

Di sisi yang berbeda, Islam dan sains juga bergesekan dengan hebatnya. Banyak tokoh ilmuwan yang tidak mendapat penilaian baik dari para ulama, kadang mereka dipandang sesat, namun tidak jarang mereka juga diseret lebih jauh kepada tuduhan kafir. Selain itu ada banyak fakta-fakta Sains yang mendapat penolakan hebat dari para agamawan.

Berkaitan dengan hubungan yang harmonis dan mesra antara Islam dan Sains, Kita banyak mendengar ujaran sebagian umat Islam bahwa Islam tidak sebatas melahirkan peradaban yang menjadi episentrum sains pada masanya. Lebih jauh dari itu, Islam juga berperan sebagai fasilitator dan penunjang kegemilangan tersebut. Sepanjang kurun abad kedelapan hingga abad 13, para ilmuan yang lahir pada era itu adalah orang-orang taat nan religius, bahkan penemuan mereka diklaim sebagai hasil kontemplasi terhadap ayat-ayat Alquran, kitab suci umat Islam.

Klaim semacam ini pernah disampaikan oleh Ustadz Adi hidayat. Salah seorang ustadz dan penceramah yang begitu populer dalam beberapa tahun kebelakang. Dalam salah satu ceramah beliau, ust Adi Hidayat menyampaikan peranan Islam dalam perkembangan ilmu kimia, yang diwakili oleh Jabir Ibn Hayyan, seorang ilmuwan Kimia yang hidup pada abad kedelapan.

Ust Adi Hidayat menyebutkan bahwa Jabir Ibn Hayyan adalah penemu dan pencetus teori Atom, sebelum kemudian disempurnakan oleh peradaban Barat. Selain itu penemuan besar Ibn Hayyan ini ternyata diperoleh setelah mengkaji surat Al-Hadid ayat 25 dan 26. Cuplikan ceramah ini dapat dilihat di Youtube dengan mengetikkan keyword pencarian “Ustadz Adi Hidayat Jabir Ibn hayyan”.

Dua klaim yang disampaikan ustadz Adi Hidayat terkesan terlalu simplifikatif dan memaksa. Sebuah teori dan penemuan Sains adalah sesuatu yang berproses secara bertahap, melonjak dari satu titik ke titik lain, dirumuskan dan dikembangkan oleh banyak tokoh lintas generasi dan peradaban. Amat jarang atau bahkan tidak ada, satu penemuan yang terjadi begitu praktis dan melonjak dari satu titik kehampaan sama sekali.

Teori dan konsep atom sendiri telah menjadi bahasan para pemikir sejak era Yunani, Leucippus (sekitar tahun 450-370 SM). Ia telah menggagas keberadaan unit partikel terkecil yang menyusun segala materi dimana unit terkecil ini tidak bisa dipecahkan lagi, gagasan ini baru kemudian dapat disempurnakan dan diuji secara mantap di abad ketujuhbelas (lihat: Routes of Science Atoms and Molecules, terjm: Rachmat Isnanto, hlm. 8).

Peranan besar seorang Jabir Ibn hayyan adalah peletak dasar Kimia sebagai ilmu pengetahuan yang lepas dari praktek primitif sihir, jampi-jampi dan khurafat. Beliau juga merupakan perintis keberadaan laboratorium dan berbagai peralatan dalam eksperimen Kimia. Peranan beliau sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan metode saintifik yang menjadi pijakan perkembangan sains hingga sekarang (Lihat: Muhammad Gharib Jaudah, 147 ilmuwan terkemuka dalam sejarah islam, hlm. 94).

Berkaitan dengan penemuan besi yang dikaitkan dengan surat Al-hadid sendiri juga memunculkan pertanyaan apakah yang dimaksud oleh ustadz Adi Hidayat adalah penemuan unsur besi itu sendiri atau pengelompokkannya dibandingkan unsur-unsur kimia yang lain?

Jika yang dimaksud penemuan dan penggunaan unsur besi, maka ini sudah terjadi ribuan tahun sebelum masehi. tidak sama sekali berkaitan dengan eksperimen dan penelitian Jabir Ibn Hayyan. Sedangkan jika yang dimaksud adalah pengelompokkan unsur-unsur kimia dan sifatnya, maka hal ini juga tidak nyambung. Era jabir Ibn Hayyan hidup, capaian penelitian Kimia belum sampai ke tahap tersebut. 

Jauh setelah masa Jabir, di masa Lavoisier (1789) saja misalnya, pengelompokkan zat-zat kimia masih sebatas pada sifat-sifat gas, logam, non logam dan tanah. Penelitan dan eksperimen Jabir Ibn Hayyan kebanyakannya masih pada tahap percampuran berbagai senyawa-senyawa dan mencatat hasilnya, meski hal ini tidak lantas mengurangi besarnya peranan Jabir dalam perkembangan ilmu Kimia.

Ustadz Adi Hidayat terlihat hanya menggunakan permainan pencocokan kata al-hadid yang bermakna besi (salah satu unsur kimia) yang dipakai sebagai salah satu nama surat di dalam Alquran. Berbekal keberadan surat ini, beliau kemudian loncat memperkenalkan sosok Jabir Ibn Hayyan sebagai ilmuwan Kimia, menyebutkan peranan besar Jabir, namun alih-alih memaparkan  fakta-fakta historis dari kehidupan dan penemuan jabir, Ustadz Adi Hidayat hanya menyebutkan wawasan dasar ilmu Kimia yaitu konsep Atom. 

Tiga variabel ini: “surat Al-Hadid”, “Atom” dan “Jabir Ibn Hayyan” kemudian secara sederhana dikaitkan satu sama lain. “Jabir Ibn Hayyan adalah ilmuwan Islam penemu atom, dan penemuan ini diperoleh dari hasil kontemplasi terhadap surat Al-Hadid”.

Bentuk-bentuk ceramah yang simplikatif dan dangkal ini tentu bukan asupan yang baik bagi masyarakat. Para penceramah seharusnya berpegang pada prinsip pengambilan data yang jelas dan jujur agar dapat mencerahkan pendengar mereka. Bukan sebatas memberi penjelasan dangkal dan penuh pemaksaan, hanya demi meraih simpati dan ketertarikan pendengar.

Akan lebih bijak jika sosok Jabir Ibn Hayyan diperkenalkan dengan lebih elegan. Berbagai data tentang beliau seperti sejarah hidup, sumber data penelitian, eksperimen, capaian ilmiah, sisi religius dan keimanan beliau disampaikan secara jujur, mendalam dan apa adanya. Bukan sebatas pencocokkan dangkal demi menghasilkan kesimpulan yang enak didengar dan menghanyutkan para pendengar.