fbpx
Beranda Keislaman Hadis Kritik Ibnul Jawzi Pada Ahli Hadis di Masanya, Sibuk Ngurus Perkara Gak...

Kritik Ibnul Jawzi Pada Ahli Hadis di Masanya, Sibuk Ngurus Perkara Gak Penting

Harakah.idPada masa beliau, Ibnul Jawzi mengkritik sebagian muhaddits yang hanya fokus pada kegiatan seputar hadis seperti mendengar hadis, mengumpulkan variasi sanadnya, mendalami sanad-sanad berkualitas dan matan-matan hadis yang asing.

Setiap manusia tidak pernah lepas dari kesalahan. Tidak terkecuali para pelajar bahkan ulama sekali pun.

Ibnul Jawzi menulis sebuh kitab berjudul Talbis Iblis, di dalamnya beliau menulis berbagai tipuan iblis yang rentan melanda manusia dari berbagai latar belakang, tidak terkecuali para pegiat ilmu agama. Salah satunya Ibnul Jawzi merangkum beberapa kekeliruan yang melanda para muhaddits di masa beliau.

Ibnul Jawzi adalah seorang ulama besar dari kalangan Hanabillah. Beliau sendiri termasuk salah seorang muhaddits yang punya jasa besar dalam keilmuan hadis.

Nama lengkap beliau adalah Jamaluddin Abu Al-Faraj Abdurrahman Ibn Ali. Nasab beliau sampai ke atas bersambung dengan Abu Bakar As-Shiddiq. Beliau lahir pada tahun 510 H di kota Baghdad.

Dalam kajian hadis, Ibnul Jawzi sebenarnya tidak menghabiskan waktu dengan melakukan rihlah, atau perjalanan untuk memperoleh hadis, akan tetapi beliau giat menghafal banyak kitab-kitab hadis.

nucare-qurban

Namun sebagian ulama membantah perkataan ini, karena beliau sebenarnya juga memiiki beberapa riwayat rihlah ke berbagai tempat.

Porsi yang paling besar dalam kajian hadis yang menjadi fokus Ibnul Jawzi adalah pemetaan hadis-hadis berdasarkan kualitasnya.

Ibnul jawzi banyak menulis kitab yang mengumpulkan riwayat-riwayat hadis yang menurut beliau palsu, salah satunya adalah kitab Al-Maudhu’at. Meskipun di kemudian hari Ibnul Jawzi banyak dikritik karena dinilai terlalu mudah dalam menilai palsu sebuah hadis.

Pada masa beliau, Ibnul Jawzi mengkritik sebagian muhaddits yang hanya fokus pada kegiatan seputar hadis seperti mendengar hadis, mengumpulkan variasi sanadnya, mendalami sanad-sanad berkualitas dan matan-matan hadis yang asing. Hal ini sebenarnya baik jika diniatkan sebagai upaya proteksi syariat dengan menyisihkan riwayat-riwayat bermasalah dari yang shahih.

Akan tetapi tidak jarang para pegiat hadis ini justru luput dari kegiatan yang lebih prioritas, dan justru tenggelam dalam obsesi kajian hadis yang sebenarnya tidak terlalu mendesak.

Menurut Ibnul Jawzi, pada era muhaddits besar seperti Imam Bukhari, Yahya Ibn Ma’in atau Ibn Al-Madini, tuntutan dan peran para muhaddits masih benar-benar krusial. Kitab-kitab hadis yang layak jadi rujukan umat masih terbatas, rangkaian sanad hadis juga masih cenderung pendek dan memudahkan.

Sedangkan di era Ibnul Jawzi, kitab-kitab hadis sudah sangat banyak, rangkaian sanad hadis sudah demikian panjang karena rentang generasi yang semakin jauh dari Rasulullah SAW.

Urgensi dari kegiatan-kegiatan muhaddits di masa lalu mulai berkurang, atau berubah menjadi peran yang berbeda. Sayangnya menurut Ibnul Jawzi, masih banyak para pegiat hadis yang merasa bahwa mereka hidup di era yang sama dengan Yahya Ibn Ma’in, dan meniru persis kegiatan-kegiatan hadis mereka.

Ibnul Jawzi melanjutkan, orang-orang sekelas Imam Bukhari adalah manusia istimewa, mereka di tengah kesibukan penelitian hadis, tetap memilki wawasan dasar syariat yang memadai. Sedangkan di era Ibnul Jawzi, banyak pegiat yang terjun dalam kajian hadis tetapi wawasan pendukung mereka belum memadai.

Ibnul Jawzi pernah melihat para penghafal hadis yang tidak mampu memahami hadis-hadis yang mereka hafal dengan baik. Ada orang yang secara keliru memahami sebuah hadis yang berbunyi نهى رسول الله عن الحلق قبل الصلاة يوم الجمعة , kata الحلق dibaca dengan sukun lam yang bermakna mencukur rambut, sehingga orang ini selama 40 tahun tidak pernah memotong rambutnya pada hari jumat.

Padahal yang dimaksud dengan الحلق di sini adalah jamak dari halaqah yang artinya berkumpul-kumpul dan berbicara. Rasulullah SAW melarang hal ini karena dapat mengalihkan perhatian dari khutbah Jumat.

Dalam kitab beliau, Ibnul Jawzi memberikan berbagai contoh kekeliruan pemahaman terhadap hadis. Kesalahan ini disebabkan terburu-buru mendalami hadis tanpa wawasan pelengkap yang mencukupi.

Hal lain yang dikritik oleh Ibnul Jawzi adalah motivasi yang melenceng dari sebagian peneliti hadis. Penelitian hadis tidak lagi bertujuan demi kemaslahatan agama dan syariat, tetapi hanya mengejar capaian-capaian tertentu demi kebanggaan diri.

Di kalangan pegiat hadis kala itu ada kebanggan tertentu jika memperoleh matan-matan hadis yang langka dari sumber dan sanad Aly (sanad yang paling dekat kepada nabi).

Oleh sebab itu ada sebagian pegiat hadisyang sengaja menempuh perjalanan untuk bertemu orang-orang tertentu dan memperoleh hadis darinya, namun ini semata-mata demi kebanggaan pribadi, bukan atas tujuan ilmiah.

Obsesi semacam ini tentu dinilai telah melenceng jauh dari karakter para ulama hadis yang berpegang pada nilai-nilai keikhlasan dan perjuangan.

Kritik seorang Ibnul Jawzi sembilan abad yang lalu tentu masih relevan untuk para pelajar Islam masa kini, khususnya para pelajar hadis, semoga kita semua diberikan petunjuk oleh Allah SWT dalam menuntut ilmu.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Berpotensi Besar Melahirkan Kecongkakan Sosial, Para Sufi Kritik Ritual Ibadah Haji

Harakah.id - Ketika berhaji diniatkan hanya untuk mendapatkan status sosial, maka sejatinya ia telah hilang dari visi awal ibadah haji itu...

Meskipun Kontroversial, Soal Etika Beragama, Kita Harus Belajar Kepada Vicky Prasetyo

Harakah.id - Sedang marak berita penahanan Vicky Prasetyo. Meski kontroversial, Vicky tetap bisa kita jadikan acuan soal etika beragama. Dalam sebuah...

Ada Pahala Besar di Balik Anjuran Berpuasa di 10 Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah

Harakah.id - Ada amalan lain yang disunnahkan bagi umat Islam pada bulan Dzul Hijjah, yaitu berpuasa. Di Bulan ini, kita sangat...

Lima Nilai Keutamaan Bulan Dzul Hijjah yang Harus Kamu Ketahui!

Harakah.id - Pada dasarnya, semua hari maupun bulan itu sama. Hanya kualitas perbuatan pribadi masing-masing saja yang membedakannya. Akan tetapi, Islam...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Satu Kata dalam Al-Quran Yang Cara Bacanya Aneh

Harakah.id - Di antara kata Alquran terdapat kata yang cara bacanya tidak lazim. Berikut adalah contohnya. Membaca Alquran harus...

Jangan Tertipu, Ini 10 Ciri-Ciri Al-Mahdi yang Datang di Akhir Zaman

Harakah.id ­- Keterangan datangnya dan ciri-ciri Al-Mahdi bersumber dari hadis-hadis Nabi Saw. Di antara tanda-tanda akhir zaman adalah...