Beranda Headline Berpotensi Besar Melahirkan Kecongkakan Sosial, Para Sufi Kritik Ritual Ibadah Haji

Berpotensi Besar Melahirkan Kecongkakan Sosial, Para Sufi Kritik Ritual Ibadah Haji

Harakah.idKetika berhaji diniatkan hanya untuk mendapatkan status sosial, maka sejatinya ia telah hilang dari visi awal ibadah haji itu sendiri. Para sufi sudah lama mengajukan kritik terhadap ritual haji yang telah melenceng semacam itu.

Tak bisa dipungkiri, haji sebagai salah satu di antara rukun Islam merupakan ritual yang paling diimpikan oleh setiap kaum muslim dunia. Meski butuh biaya besar, haji tak pernah sepi akan peminat. Bahkan, di Indonesia sendiri butuh beberapa tahun hanya untuk antri berangkat menuju ke Mekkah. Hal tersebut menabalkan akan fakta, bahwa begitu besar orang-orang Muslim yang berkeinginan untuk berangkat menunaikan ibadah haji ke sana.

Namun, yang musti digaris bawahi. Dalam melaksanakan haji, seringkali orang-orang melupakan akan tujuan ibadah. Mereka yang melaksanakan ibadah haji seringkali, berangkat hanya berkeinginan untuk mengejar status sosial gelar “pak/bu haji’, dan tak jarang ketika sampai di sana terlena akan kebesaran Ka’bah hingga lupa pada Allah Swt., dan seringkali pula mereka lebih memilih belanja oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Haji pada gilirannya cuma sekadar menjadi sebuah simbol materialis, hanya difungsikan untuk meningkatkan kehormatan serta menaikkan status sosial masyarakat. Bukan sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Baca Juga: Sejarah Kelahiran Istilah Sufi dan Tasawwuf

Oleh sebab fakta-fakta serupa itu agaknya, para sufi dulu pernah merasa resah, hingga kemudian mereka memiliki cara pandang yang barangkali sebenarnya merupakan sebuah kritik atas fenomena haji serupa di atas. Para sufi memiliki pandangan unik yang jauh berbeda dengan pandangan pada umum para fuqaha tentang haji.

Akibat pandangan-pandangan ini pula mereka akhirnya mendapat reaksi keras dan pertentangan dari para fuqaha. Sejarawan Mesir, Ahmad Amin dalam Zhuhr Al-Islam mencatat; konflik antara fuqaha dan para sufi dari satu masa ke masa terjadi dalam beberapa hal. Di antaranya adalah kebanyakan para sufi mengemukakan pendapatnya dengan istilah-istilah yang sulit dipahami oleh umumnya fuqaha. Pula pendapat-pendapat mereka (para sufi) pun cenderung tidak biasa (gharib).

Karenanya, para fuqaha kerap melayangkan tuduhan-tuduhan kepada para sufi yang terkadang tidak berdasar. Al-Hallaj pernah dituduh sebagai orang yang tidak mewajibkan haji dan menganggap cukup haji dengan hanya berdiam diri di kamar. Begitu pula Abu Hayyan At-Tauhidi yang disebut-sebut memiliki karya kitab berjudul Al-Haj Al-Aql Idza Daqa Al-Fadla` An Al-Haj Asy-Syar’i (Ziarah Akal Jika Tidak Memungkinkan Untuk Melaksankan Haji Secara Syari’at), meski naskah kitab itu tidak pernah ada dan tak pernah diketemukan sampai sekarang.

Haji dalam pandangan sebagian sufi memang sekilas cenderung ekstrim dan kontroversial jika dibaca dengan pendekatan umumnya. Namun, barangkali apa yang dikemukakan oleh mereka sebenarnya tidak lebih semata merupakan pandangan kritis atas fenomena ritual haji yang telah bergeser dari ibadah keagamaan ke simbol materialis.

Baca Juga: Apakah Semua Sufi Sesat?

Sebentuk kritik atas ‘pemberhalaan’ Ka’bah, misalnya. Hal ini pernah disuarakan oleh Muhammad Ibn Fadhl Al-Balkhi, ia mencoba untuk mengupayakan agar menjauh dari memberhalakan Ka’bah untuk menuju ke Pemilik Ka’bah (Allah Swt.). Dikutip dari Risalah al-Qusyairiyyah Ibn Fadhl Al-Balkhi berkata: “Ini mengejutkanku bahwa orang-orang ini menghadapi kesulitan untuk menaklukkan gurun demi mencapai Rumah Tuhan dan melihat benda-benda peninggalan Nabi, tetapi mereka tidak berupaya untuk menekan hawa nafsu mereka sendiri untuk mencapa hati itu dan merenungkan tanda-tanda Tuhan di dalamnya”.

Diceritakan pula, pada suatu ketika Syibli terlihat berlari dengan obor menyala di tangannya. Ditanya tentang tujuannya, dia menjawab: “Aku akan pergi ke Ka’bah dan membakarnya, agar orang-orang yang menyembah Rumah Tuhan itu menjadikan Pemilik Rumah (Allah Swt.) sebagai fokus ibadah mereka”.

Rabi’ah Al-‘Adawiyyah pun demikian. Diriwayatkan ketika Rabi’ah melaksanakan ibadah haji, ia menjawab: “Inilah Ka’bah yang disembah di muka bumi, sedangkan Tuhan tidak pernah masuk atau meninggalkannya”.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...