Beranda Keislaman Hadis Kualitas Hadis Dunia Penjaranya Mukmin dan Surganya Kafir

Kualitas Hadis Dunia Penjaranya Mukmin dan Surganya Kafir

Harakah.idDalam salah satu hadis yang populer disebutkan bahwa dunia adalah penjara kaum beriman dan surga bagi kaum kafir. Hadis ini seringkali digunakan untuk motivasi memaklumi kehidupan duniawi yang serba kekurangan. Bagaimana kualitasnya?

Dalam salah satu hadis yang populer disebutkan bahwa dunia adalah penjara kaum beriman dan surga bagi kaum kafir. Hadis ini seringkali digunakan untuk motivasi memaklumi kehidupan duniawi yang serba kekurangan. Bagaimana Kualitas Hadis Dunia Penjaranya Mukmin?

Sejatinya, hadis ini oleh para ulama ditempatkan dalam kategori hadis-hadis tentang asketisme; sikap hidup zuhud. Imam Muslim meriwayatkan sebagai berikut:

حَدَّثَنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ، عَنِ الْعَلَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

Qutaibah bin Sa’id meriwayatkan kepadaku, dari Abdul Aziz –maksudnya Al-Darawardi, dari Al-‘Ala’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Dunia adalah penjaranya mukmin dan surganya kafir.’” (HR. Muslim).

Hadis dunia adalah penjara kaum beriman disebutkan dalam setidaknya delapan kitab hadis. Dimulai dari yang paling tua; Musnad Ahmad, Shahih Muslim, Sunan Al-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Shahih Ibnu Hibban, Mustadrak Al-Hakim, Syu’ab Al-Iman Al-Baihaqi, dan Mu’jam Al-Ausath Al-Thabarani. Selain kedelapan kitab di atas, masih ada lagi beberapa kitab yang memuat hadis ini, namun tidak dimasukkan dalam analisis ini. Kedelapan kitab dinilai sudah mencerminkan rujukan yang bernilai otoritatif dalam tradisi kajian hadis Islam. Berikut adalah skema sanad hadis tersebut.   

Berkaca pada skema sanad yang menghubungkan para penulis kitab hadis sampai kepada Rasulullah SAW, hadis dunia adalah penjara kaum beriman bersumber dari tiga orang sahabat Nabi; Abu Hurairah, Salman Al-Farisi, Abdullah bin Amr bin Ash dan Abdullah bin Umar.

Pada abad ketiga hijriah, hadis ini populer adalah melalui jalur Abu Hurairah. Ahmad bin Hanbal (w. 241 H.), Muslim bin Hajjaj (w. 261 H.), Al-Tirmidzi (w. 279 H.), dan Ibnu Majah (w. 273). Bisa dikatakan bahwa Imam Ibnu Hibban (w. 354 H.) adalah penulis kitab hadis berasal dari abad keempat hijriah yang meriwayatkan hadis ini dari jalur Abu Hurairah. Jalur selain Abu Hurairah kurang begitu populer pada abad ini.

Riwayat Abu Hurairah ini diperoleh para imam tersebut melalui tokoh bernama Al-‘Ala’ bin Abdurrahman. ‘Ala’ bin Abdurrahman memiliki empat murid. Mereka adalah Abdurrahman bin Ibrahim, Zuhair, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Darawardi dan Abdul Aziz bin Abi Hazim. Hal ini menempatkan ‘Ala’ bin Abdurrahman sebagai madar al-sanad (tempat berkumpulnya beberapa jalur sanad). Abdul Aziz bin Muhammad Al-Darawardi meriwayatkan kepada Qutaibah bin Sa’id, lalu diterima oleh Imam Muslim. Ini adalah jalur paling terpercaya (baca: sahih) dalam tradisi kajian hadis. Ia menjadi jalur utama periwayatan hadis ini. Jalur lain dapat disebut sebagai jalur penguat. Dengan demikian, Kualitas Hadis Dunia Penjaranya Mukmin adalah shahih.

Sedangkan para penulis kitab hadis dari abad keempat dan kelima, mulai mengumpulkan riwayat versi Salman Al-Farisi, Abdullah bin Amr bin Ash dan Abdullah bin Umar bin Khathab. Di antara para ulama abad keempat dan kelima yang disebut adalah Al-Thabarani (w. 360), Al-Hakim (w. 405 H.), dan Al-Baihaqi (w. 458 H.). Perlu dicatat bahwa para penulis kitab hadis abad keempat dan kelima juga memiliki riwayat dari Abu Hurairah, seperti para penulis abad ketiga. Ini dapat dipahami bahwa mereka tidak menafikan riwayat Abu Hurairah. Mereka justru menambahkan adanya jalur periwayatan lain yang belum populer pada abad ketiga hijriah. Selain dalam bentuk afirmasi terhadap riwayat tambahan, afirmasi juga dilakukan dengan menampilkan asbabul wurud (latar belakang kemunculan hadis).

Dalam riwayat Al-Baihaqi dari sahabat Salman Al-Farisi, disebutkan bahwa sahabat tersebut ditanya muridnya yang bernama Uqbah bin Amir Al-Juhani. Ia menyaksikan gurunya enggan memakan sesuatu, sampai-sampai ia terlihat sedang dipaksa memakan makanan. Ketika ditanya, mengapa ia merasa perlu mengurangi makan, Salman menjawab bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW berkata, “Orang yang paling banyak makan di dunia, akan paling lapar di Akhirat.” Salman juga menambahkan, “Dunia adalah penjara kaum beriman dan surga kaum kafir.”    

Jika versi Salman Al-Farisi memberikan tambahan keterangan berkaitan dengan konteks kemunculan hadis, maka versi Abdullah bin Amr bin Ash memiliki tambahan berupa tafsir atas hadis “Dunia penjara bagi mukmin”. Versi Abdullah bin Amr bin Ash diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mubarak (w. 181 H.), Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H.) dan Al-Hakim (w. 405 H.).

Imam Ibnu Al-Mubarak meriwayatkan,

أَخْبَرَكُمْ أَبُو عُمَرَ بْنُ حَيَوَيْهِ، وَأَبُو بَكْرٍ الْوَرَّاقُ قَالَا: أَخْبَرَنَا يَحْيَى قَالَ: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ قَالَ: أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ قَالَ: حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ جُنَادَةَ  الْمَعَافِرِيُّ أَنَّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيَّ حَدَّثَهُ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَسَنَتُهُ، فَإِذَا فَارَقَ الدُّنْيَا فَارَقَ السِّجْنَ وَالسَّنَةَ

Abu Umar bin Hayawaih dan Abu Bakr Al-Warraq meriwayatkan kepada kalian, dari Yahya, dari Al-Husain, dari Ibnu Al-Mubarak, dari Yahya bin Ayyub, bin Yahya bin Junadah Al-Ma’afiri, dari Abu Abdurrahman Al-Hubuli, dari Abdullah bin Amr bin Ash, dari Nabi yang bersabda, “Dunia adalah penjara bagi kaum beriman dan penderitaannya. Ketika seorang mukmin meninggal dunia, ia meninggalkan penjara dan penderitaannya.” (HR. Ibnu Al-Mubarak dalam Al-Zuhd Wa Al-Raqa’iq).

Ibnu Al-Mubarak meriwayatkan dengan sanad yang sama,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: إِنَّ الدُّنْيَا جَنَّةُ الْكَافِرِ وَسِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَإِنَّمَا مَثَلُ الْمُؤْمِنِ حِينَ تَخْرُجُ نَفْسُهُ كَمَثَلِ رَجُلٍ كَانَ فِي سِجْنٍ، فَخَرَجَ مِنْهُ فَجَعَلَ يَتَقَلَّبُ فِي الْأَرْضِ، وَيَتَفَسَّحُ فِيهَا

Dari Abdullah bin Amr yang berkata, “Dunia adalah surganya kafir dan penjaranya mukmin. Perumpamaan seorang mukmin ketika nyawanya keluar adalah seperti seseorang yang berada dalam penjara, lalu ia keluar. Ia bisa berbolak-balik di bumi dan merasakan luasnya bumi.” (HR. Ibnu Al-Mubarak dalam Al-Zuhd Wa Al-Raqa’iq).

Dalam versi Ibnu Al-Mubarak, terdapat tambahan kata “Wa Sanatuhu.” Menurut para pensyarah hadis, arti “Sanah” adalah masa kesusahan karena kemarau panjang (al-qahthu wa al-jadbu). Versi lain milik Ibnu Al-Mubarak menyebut arti dari penjaranya mukmin adalah seperti seseorang yang dipenjara, lalu ketika ia keluar. Ketika telah berada di luar, ia bisa merasakan keluasan dan kebebasan.

Imam Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Mushannaf-nya, pengertian penjara dalam hadis ini. Ibnu Abi Syaibah meriwayat,

غُنْدَرٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ قَمْطَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ، فَإِذَا مَاتَ الْمُؤْمِنُ يُخْلَى بِهِ يَسْرَحُ حَيْثُ شَاءَ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

Dari Ghundar, dari Syu’bah, dari Ya’la bin Atha’, dari Yahya bin Qamthah, dari Abdullah bin Amr yang berkata, “Dunia adalah penjaranya mukmin dan surganya kafir. Ketika seorang mukmin mati, dia dilepaskan, ia bisa pergi kemana pun dia mau. Wallahu A’lam.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf).

Baik riwayat Ibnu Al-Mubarak maupun Ibnu Abi Syaibah meriwayatkannya dari Abdullah bin Amr. Kata-kata tersebut bukan kata-kata Nabi. Tetapi, kata-kata Abdullah bin Amr sendiri. Dengan demikian, dalam kedua riwayat terakhir, hadis ini tergolong mauquf. Hal ini dapat dipahami sebagai tafsir atas kata-kata Nabi SAW.

Para ulama pensyarah hadis menjelaskan bahwa dunia menjadi tempat yang mana seorang Mukmin harus menahan diri dari banyak hal yang dinilai mengandung kenikmatan dan kebebasan. Hal ini karena selama di dunia seorang Mukmin diharuskan mentaati perintah Allah SWT yang pada umumnya akan membatasi kebebasannya. Ketika seorang mukmin wafat, di alam akhirat ia akan mendapatkan balasan atas kebaikannya. Ia mendapatkan nikmat surgawi, kebebasan dan kelapangan hidup. Mukmin ingin meninggalkan dunia ini dan merengkuh kenikmatan di akhirat. Berbeda dengan orang yang tidak beriman dimana ia merasa bebas melakukan apapun karena tidak terikat dengan ketentuan Tuhan. Di dunia, ia dapat melakukan apapun. Tetapi, di akhirat dia akan mendapat hukuman yang membuatnya tidak bebas dan penuh dengan siksaan (lihat dalam Al-Thaibi, Al-Kasyif ‘An Haqa’iq Al-Sunan, 10/3315).

Demikian penjelasan tentang Kualitas Hadis Dunia Penjaranya Mukmin dan surganya kafir. Semoga penjelasan ini menambah wawasan kita bersama.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...