Beranda Keislaman Hadis Kualitas Sanad Hadis Vaksin Adalah Racun Pembunuh, Kajian Hadis "Summu Sanatin"

Kualitas Sanad Hadis Vaksin Adalah Racun Pembunuh, Kajian Hadis “Summu Sanatin” [2]

Harakah.idJika diamati, akan ditemukan setidaknya tiga masalah utama dalam sanad hadis summu sanatin. Terputusnya sanad, perawi daif, dan perawi majhul.

Kualitas Sanad Hadis Vaksin Adalah Racun Pembunuh. Dalam video yang menggunakan logo lembaga المعلم (al-mu’allim) ini, disebutkan satu buah hadis yang kita sebut saja “Hadis summu sanatin”. Karena kata-kata itu, agaknya, dinilai penting oleh sang narator. Sang narator juga menyebutkan sumber hadis yang dikutip berikut nomor hadisnya.

Berdasarkan penjelasan narator, penyebutan hadis dalam video ini bertujuan untuk mengajarkan umat Islam agar tidak mudah heran, karena teknologi racun yang baru tampak efeknya setelah satu tahun, sudah ada pada zaman Nabi Muhammad SAW. Kita tidak tahu betul apakah tujuan pernyataannya adalah menyamakan vaksin dengan apa yang disebutnya “Summu sanatin” itu. Tetapi, dengan memperhatikan dari awal hingga akhir, agaknya memang demikian yang diinginkan sang narator. Ia ingin menyamakan antara vaksin dengan “Summu sanatin” yang ada dalam hadis. Jika demikian, patut diduga, jika sang narator ingin agar masyarakat meninggalkan vaksinasi. Namun demikian, maksud sebenarnya dari narasi berikut motivasinya hanya sang narator yang tahu.

Penulis akan mengomentari hadis yang dikutip sang narator dan Kualitas Sanad Hadis Vaksin Adalah Racun. Agaknya, sang narator sangat lihai dalam menjelaskan teks hadis tersebut. Tetapi, agaknya perlu diimbangi dengan pendalaman ilmu hadis. Karena, hadis merupakan objek kajian keislaman yang memiliki ilmu khusus. Tidak semua yang disebut hadis, adalah benar-benar hadis. Tidak semua hadis, adalah berasal dari Rasulullah SAW. Tidak semua hadis adalah perkataan Rasulullah SAW. Karena itu, harus benar-benar dipilah. Itulah fungsi ilmu hadis.

Terkait dengan hadis “Summu sanatin”, memang benar, hadis ini ada dalam kitab Al-Mustadrak karya Imam Al-Hakim dan Al-Thibb Al-Nabawi karya Abu Nu’aim Al-Ashfahani. Dengan sanad yang lebih lengkap, berikut adalah redaksi utuh hadis tersebut.

حَدَّثَنِي الْأُسْتَاذُ أَبُو الْوَلِيدِ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الْأَشْعَثِ، ثنا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ جَدِّي، عَنْ عَقِيلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ رَجُلًا أَهْدَى يَوْمًا لِأَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ صَحْفَةً مِنْ خَزِيرَةٍ، وَعِنْدَهُ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْحَارِثُ بْنُ كَلَدَةَ، وَعِنْدَهُ عِلْمٌ، فَلَمَّا أَكَلَا مِنْهَا، قَالَ ابْنُ كَلَدَةَ فِيهَا سُمٌّ سَنَةٍ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَمْ يَمُرَّ الْحَوْلُ حَتَّى مَاتَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ رَأْسِ السَّنَةِ

Meriwayatkan kepadaku, Al-Ustadz Abul Walid, dari Abdullah bin Sulaiman bin Al-Asy’ats, dari Abdul Malik bin Syu’aib bin Al-Laits, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Aqil, dari Ibnu Syihab; bahwa suatu hari seorang lelaki memberi hadiah kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, satu mangkuk daging yang direbus. Di sisi Abu Bakar, ada seorang yang bernama Al-Harits bin Kaladah. Ia punya pengetahuan tentang ilmu kedokteran. Ketika keduanya memakan daging rebus itu, Ibnu Kaladah berkata, “Di dalamnya terdapat racun satu tahun.” Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidak berlalu satu tahun sampai keduanya mati, pada hari yang sama, di akhir tahun itu.”

Imam Al-Hakim meriwayatkan hadis ini dalam Al-Mustadrak, pada Kitab Ma’rifat Al-Shahabah. Secara umum, Imam Al-Hakim sedang menyampaikan hadis-hadis yang menceritakan wafatnya Sayyiduna Abu Bakr. Jika demikian, maka sebenarnya hadis semacam ini adalah hadis mauquf; yaitu hadis yang berhenti hanya sampai seorang sahabat. Bukan cerita, kisah, atau riwayat tentang Nabi. Peristiwanya, tidak terjadi pada zaman Nabi SAW. Tetapi, peristiwanya terjadi setelah beliau wafat. Itulah konsep hadis mauquf.

Jadi, kandungan hadis di atas adalah terjadi bukan pada zaman Nabi, tetapi zaman Abu Bakr. Sebagaimana kita tahu, Abu Bakar wafat sekitar dua atau tiga tahun setelah Rasulullah SAW wafat. Kemudian, teks “Fiha summua sanatin” yang berarti “Racun satu tahun” adalah kata-kata Ibnu Kaladah. Ibnu Kaladah sendiri tidak diketahui secara pasti apakah termasuk sahabat atau bukan. Ia merupakan tokoh yang masih diperselisihkan status sahabatnya. Ada yang menyebut dia sudah masuk Islam, ada yang menyebut bahwa ia belum masuk Islam. Orang yang berada dekat dengan Nabi SAW atau dekat dengan sahabat Nabi SAW tidak selalu berarti ia sahabat Nabi SAW.

Sedangkan Imam Abu Nu’aim, menyebutkan hadis ini dalam kitab Al-Thibb Al-Nabawi. Berikut riwayat lengkapnya;

أخبرنا أحمد بن محمد في كتابه، حَدَّثَنا عبد الله بن محمد بن زياد النيسابوري، حَدَّثَنا يوسف بن سعيد بن مسلم، حَدَّثَنا حجاج، حَدَّثَنا الليث بن سعد، عَن عقيل، عَن ابن شهاب: أن رجلا أهدى لأبي بكر يوماً صحفة من حريرة وعنده رجل يقال له: الحارث بن كلدة عنده علم فلما أكلا منها قال الحارث بن كلدة: فيها سم سنة والذي نفسي بيده لا يمر بي وبك أكثر من حول فماتا في يوم واحد على رأس السنة من أكلها.

Ahmad bin Muhammad meriwayatkan kepada kami dalam kitabnya, dari Abdullah bin Muhammad bin Ziyad Al-Naisaburi, dari Yusuf bin Sa’id bin Muslim, dari Hajjaj, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Aqil, dari Ibnu Syihab bahwa suatu hari seorang lelaki memberi hadiah kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, satu mangkuk daging yang direbus. Di sisi Abu Bakar, ada seorang yang bernama Al-Harits bin Kaladah. Ia punya pengetahuan tentang ilmu kedokteran. Ketika keduanya memakan daging rebus itu, Ibnu Kaladah berkata, “Di dalamnya terdapat racun satu tahun.” Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidak berlalu satu tahun sampai keduanya mati, pada hari yang sama, di akhir tahun itu.”

Imam Abu Nu’aim menyebutkan hadis ini dalam “Bab Summu Sanatin”. Riwayat ini berasal dari jalur riwayat yang berbeda, tetapi bertemu pada perawi Al-Laits bin Sa’d-Aqil-Ibnu Syihab. Berikut adalah alur jalur periwayatan hadis summu sanatin.

Sanad hadis “Summu sanatin”, terdapat beberapa permasalahan di dalamnya.

Tiga Masalah dalam Sanad

Kualitas Sanad Hadis Vaksin Adalah Racun pembunuh. Jika diamati, akan ditemukan setidaknya tiga masalah utama dalam sanad hadis summu sanatin. Pertama, adanya inqitha’ (terputusnya sanad). Diduga, dalam sanad hadis ini terdapat unsur yang menyebabkan hadis bernilai daif. Yaitu inqitha’ atau terputusnya sanad. Lokasinya ada pada perawi antara Ibnu Syihab dengan Abu Bakar Al-Shiddiq. Kita dapat mengamatinya dengan mata telanjang.

Ibnu Syihab wafat tahun 125 Hijriah. Sedangkan Abu Bakar wafat tahun 13 Hijriah. Ada jarak 112 tahun antara wafatnya Abu Bakar dan Ibnu Syibah. Jika kita andaikan Ibnu Syihab berusia 60 tahun, berarti ia lahir sekitar tahun 65 H. Puluhan tahun setelah Abu Bakar wafat. Dan kenyataannya, menurut keterangan para ulama Ibnu Syihab, yaitu Ibnu Syihab Al-Zuhri lahir pada tahun 50-an Hijriah. Disebutkan pula keterangan bahwa Ibnu Syihab hanya meriwayatkan dari 10 orang sahabat Nabi. Tidak ada nama Abu Bakar di dalamnya.

Di sini, tentu saja Ibnu Syihab tidak bertemu dengan Abu Bakar. Jika tidak bertemu Abu Bakar, dari mana Ibnu Syihab dapat kisah ini? Karena itu, kemungkinanannya, ada satu orang perawi yang menghubungkan Ibnu Syihab dan Abu Bakar, yang mana perawi tersebu hilang! Inilah inqitha’.

Kedua, adanya perawi yang diperselisihkan oleh para ulama tentang kualitasnya. Perawi tersebut adalah Abdullah bin Sulaiman bin Al-Asy’ats (w. 316 H.). Beliau adalah putera Imam Abu Dawud Al-Sijistani, penulis kitab Sunan Abi Dawud. Para ulama lebih banyak yang menilainya sebagai perawi yang terpercaya (tsiqah). Tetapi, anehnya, ayahnya sendiri menyebut Abdullah bin Sulaiman sebagai pendusta (kadzdzab). Dampaknya tentu saja tidak ringan pada hadis yang diriwayatkannya. Karena, perawi yang digelari dengan sebutan ini, berarti hadis yang diriwayatkannya berstatus maudhu’ atau palsu. Imam Al-Daruquthni menilainya tsiqah tetapi memiliki banyak kesalahan dalam periwayatan hadis.

Ketiga, perawi yang majhul. Dalam jalur riwayat Imam Abu Nu’aim ditemukan perawi bernama Ahmad bin Muhammad. Tidak diketahui siapa beliau sebenarnya. Sejauh penelusuran, hingga artikel ini ditulis, belum ditemukan profilnya. Karena itu, sementara, status beliau adalah sebagai perawi yang berkualifikasi majhul. Keberadaan perawi majhul dalam sebuah sanad, menyebabkan riwayat ini mengalami inqitha’ atau terputusnya sanad.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...