Beranda Keislaman Hikmah Kufu’ dan Pentingnya Kesepadanan Di Berbagai Aspek dalam Pernikahan

Kufu’ dan Pentingnya Kesepadanan Di Berbagai Aspek dalam Pernikahan

Harakah.id Kufu’ atau al-kafa’ah, kesepadanan dalam pernikahan menurut fikih hanya bersifat anjuran. Tujuannya membantu dalam menentukan pilihan.

Dalam pernikahan kita mungkin sering mendengar kata kufu’. Secara bahasa istilah itu diambil dari bahasa Arab yaitu al-kafa’ah (الكفاءة) yang bermakna sepadan, sesuai atau semisal. Dalam konteks fikih munakahat, istilah kufu’ digunakan sebagai simbol seorang kesepadanan dan kesesuaian antara sepasang calon suami-istri. Namun yang perlu diperhatikan, masalah al-kafa’ah atau kufu’ tidak menyebabkan akad pernikahan batal ataupun sah.

Apa saja yang harus sepadan? Para ulama berbeda pendapat soal aspek apa saja yang harus disepadankan antara diri si laki-laki dan perempuan yang hendak menikah;

  1. Madzhab Hanafi mengarahkan soal kufu’ kepada enam hal, yaitu: nasab, islam, pekerjaan, status (seorang yang merdeka atau tidak), kualitas beragama, dan kondisi
  2. Madzhab Maliki hanya mengarahkan soal kufu’ kepada dua hal saja; kesamaan dalam kualitas beragama dan kesamaan dalam kesehatan jasmani. Keterangan ini bisa ditemukan dalam jilid III kitab Taj Al-Iklil.
  3. Madzhab Syafi’i menyatakan bahwa yang dimaksud kufu’ dalam pernikahan adalah menyangkut empat hal; nasab, agama, starata sosial (merdeka atau budak), dan pekerjaan.
  4. Madzhab Hanbali menyatakan bahwa ia terbatas pada lima aspek; agama, pekerjaan, strata ekonomi, status sosial (merdeka atau budak), dan nasab.

Dari keempat poin di atas, secara umum para ulama mengarahkan kufu’ ke dalam beberapa aspek inti; agama, status sosial, kondisi ekonomi dan keturunan. Kesamaan seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang akan menikah dalam kelima aspek tersebut akan membantu bagi terwujudnya pernikahan yang sakinah, mawaddah dan penuh kasih sayang.

Namun kelima aspek itu tidak menjadi syarat mutlak dan ukuran pasti. Pada akhirnya, kecocokan dan kesesuaian sangatlah relatif. Maka para ulama mengembalikan soal kufu’ kepada orang tua atau wali serta pasangan yang hendak menikah. Kalau mereka sudah merasa cocok, meskipun ada satu aspek yang tidak kufu’, maka tidak ada masalah dalam Islam.

Jadi kembali kepada statement di awal, bahwa soal al-kafa’ah atau kesepadanan dalam fikih hanya bersifat anjuran yang bertujuan untuk membantu mereka yang hendak menikah dalam menentukan pilihan. Kesepadanan dan kesesuaian akan mengantarkan sepasang suami istri ke dalam kehidupan pernikahan yang baik. Di samping itu, tetap saja masalah kufu’ tidak menjadi hal yang bisa membatalkan akad pernikahan ataupun mengurangi fadilahnya.[]

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...