Lika-Liku Islam Transnasional, Dari Melawan Barat Sampai Memusuhi Sesama Muslim

0
186

Harakah.idPaham keagamaan (transnasional) memberi fenomena baru bagi kehidupan keagamaan di tengah-tengah masyarakat.

Pada awal kedatangan Islam di Indonesia, penduduk pribumi telah memiliki keyakinan spiritual tersendiri, baik oleh pengaruh Hindu, Buddha maupun keyakinan lokal masyarakat. Persentuhan penduduk pribumi dengan Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab, melahirkan tradisi dan dialektika budaya Tiongkok dan lainnya di beberapa tempat, Islam diterima sepenuhnya.

Seperti masyarakat Minangkabau, Aceh, Melayu, dan Bugis, Islam menjadi salah satu bagian dari identitas budaya. Akulturasi ini sangat kuat dan menyatu seperti dua sisi mata uang dalam sistem simbol masyarakat etnik tersebut. Dengan adanya penerimaan dari suku-suku bangsa Nusantara, Islam yang bukan Indonesia menjadi identitas bagi semua suku-suku besar.

Fakta di atas menggambarkan yakni, yang lahir bukan asli dari bangsa Indonesia, ketika diterima oleh masyarakatnya akan menjadi bagian dari kepribadian bangsa tersebut. Hampir semua identitas budaya di Indonesia melalui proses itu misalnya, sebelum Islam, ada budaya Hindu-Buddha yang datang dari India.

Ketika Islam telah menjadi agama penduduk beberapa wilayah nusantara, terjadilah interaksi dengan gerakan Islam internasional. Dan hal tersebut bukan persoalan yang baru. Rentang abad 18-20, terjadi hubungan yang intensif antara Nusantara dengan Dunia Islam, para intelektual muslim berangkat ke Timur Tengah (Mesir dan Saudi Arabia) untuk memperdalam ilmu agama kemudian memberi pengaruh pada gerakan Islam di Indonesia. Pengaruh itu adalah pada upaya pemurnian praktek keagamaan dari unsur khurafat, takhayul dan bid’ah.

Persinggungan tersebut menjadi salah satu sebab munculnya tokoh-tokoh Islam di Indonesia pada awal abad ke 20 seperti KH. Ahmad Dahlan (dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah) dan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) yang sama-sama pernah belajar pada Imam Masjidil Haram, Syech Ahmad Khathib Al-Minangkabawi.

Namun demikian, sejarah Islam mencatat perbedaan pemikiran ke dalam beberapa madzhab, masing-masing berargumen yang kuat baik itu madzhab i’tiqad, siyasy (politik) maupun madzhab fiqih (hukum syari’at). Akan tetapi, perbedaan tersebut tidak memasuki wilayah pokok agama, melainkan hanya masalah cabang-cabang (furu’) agama.

Hubungan intelektual Islam antara Timur Tengah dengan Indonesia masih berlangsung hingga kini. Paham dan gerakan Islam kontemporer di Indonesia tetap datang dari kawasan itu. Indonesia masih tetap dalam status sebagai penerima paham dan gerakan, belum dapat mengekspor gagasan keagamaan ke luar negeri, terutama Timur Tengah. Padahal Islam Indonesia telah berhasil membangun ideologi Islami yang bercorak multikultural, yakni Pancasila.

Alih-alih belum mengeskpor gagasan keagamaan, sekarang gerakan dan paham keagamaan (transnasional) memberi fenomena baru bagi kehidupan keagamaan di tengah-tengah masyarakat. Gerakan itu menunjukkan skope gerakan yang tidak hanya terbatas pada wilayah nasional atau lokal seperti halnya, organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), namun bentuk utama organisasi dan aktifitasnya melampaui sekat-sekat teritorial negara-bangsa (nation-state).

Misalkan ritme gerakan dakwah para aktivis Tarbiyah, Syabab Hizbut Tahrir, aktivis Jamaah Tabligh dan pemuda Salafi hadir di tengah-tengah umat Islam, turut menyemarakkan kontestasi merebut hati umat yang notabene mayoritas bermadzhab Syafi’i. Disadari atau tidak, para aktivis tersebut yang dipelopori kaum muda berhasil menakhkodai aktivitas beberapa masjid, terutama di wilayah perkotaan. Akan tetapi, di beberapa tempat muncul kasus berupa letupan reaksi masyarakat terhadap eksistensi mereka disebabkan cara pandang yang berbeda dalam memahami dakwah.

Setiap gerakan keagamaan akan mengalami proses lahir, berkembang dan klimaks lalu menurun. Pada saatnya, diperlukan usaha revitalisasi gerakan (dakwah) agar tetap mampu menjalankan maksud utama sesuai dengan tujuan gerakan itu sendiri. Tentunya, kemunculan gerakan-gerakan dakwah akibat kebersinggungan dengan pergerakan di negara-negara lain, sebenarnya dapat dijadikan motivator sebuah gerakan dakwah secara positif dan simultan dengan kelompok atau ormas yang telah ada, dalam mengembangkan masyarakat Islam serta bergandengan tangan dalam mengemban tugas tersebut.

Syahdan, Gerakan Islam Transnasional (HT, Salafi dan Jama’ah Tabligh) merupakan gerakan yang aktifitasnya melampaui sekat-sekat teritorial negara-bangsa (nation-state). Gerakan Islam tersebut memiliki visi dan misi perjuangan berbeda mulai dari yang konsen dengan aktivitas dakwah sampai yang konsen dengan perjuangan politik. Kemunculannya, dimulai dari kebangkitan dan semangat juang para tokohnya atas penderitaan umat Islam di berbagai penjuru dunia, oleh kolonialisme barat atas negara-negara berpenduduk muslim. Pan Islamisme dan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hizbut Tahrir di Libanon, Jama’ah Tabligh di India dan gerakan-gerakan Islam lainnya, terinspirasi oleh semangat dan perlawanan kaum lemah terhadap kekuatan kaum penindas barat yang telah menancapkan kaki imperialisme dinegeri mereka.

Perjuangan HT melawan kaum imperialis memang tidak memakai kekerasan dalam mencapai cita-citanya, apalagi terhadap sesama Muslim. Namun HT tidak sungkan-sungkan mengkritik dan menyalahkan kalangan Muslim yang mengadopsi pandangan dan praktik kehidupan yang dianggap bukan berasal dari Islam. Apa yang dipandang HT sebagai sesuatu yang bukan Islam hampir semuanya berasosiasi dengan budaya Barat. Setidaknya, itulah yang sering menjadi sasaran kritik utama HT, seperti demokrasi, kapitalisme, nasionalisme, negara-bangsa (nation-state), dan hak asasi manusia.

Tidak sekadar mengkritik, HT cenderung menempatkan budaya Barat sebagai antitesis Islam, dan bahkan berkeyakinan keterpurukan umat Islam disebabkan oleh dominasi Barat. Tidak sepenuhnya keliru jika disebutkan HT berpendapat bahwa, Islam versus barat merupakan wujud dari perlawanan pemikiran (ghazw alfikr) dunia Islam atas barat dan benturan peradaban, sebagaimana yang dipopulerkan oleh Samuel Huntington dalam the clash of civilizations di awal 1990-an.

Lalu bagaimana sebenarnya perlawanannya terhadap Barat dan Kapitalisme?

Pandangan dikotomis Islam-Barat tidak hanya membuat HT intoleran terhadap Barat, tetapi juga kritikal terhadap Muslim yang mengadopsi budaya Barat. HT meyakini khilafah sebagai satu-satunya sistem negara Islam, para aktivisnya menyalahkan Muslim yang mempraktikkan demokrasi, mendirikan partai, dan menerima konsep negara-bangsa. Dari sisi ini, HT tidak hanya bersikap fundamentalis karena ingin menerapkan ajaran Islam secara utuh, tetapi juga radikal karena menolak segala sesuatu yang dianggap bukan berasal dari Islam.

Akibatnya, sikap inklusifnya yang tidak membeda-bedakan kelompok Muslim berubah menjadi eksklusif begitu melihat corak pemikirannya yang cenderung dikotomis, atau bahkan antagonis, dalam menyikapi hubungan Islam dengan kelompok lain.

Sementara itu di dalam negeri, benih-benih gerakan Islam global yang tumbuh di Indonesia ditandai dengan gerakan bawah tanah sejak tahun 1970-an dan 1980-an diakibatkan oleh sikap represif rezim waktu itu (Orde Baru), dan pengaruh kebangkitan Islam di berbagai belahan dunia. Revolusi Islam Iran yang digelorakan oleh Imam Khomeini tahun 1979 turut meramaikan suasana kebangkitan tersebut. Sikap represif pemerintah RI kala itu cukup menekan berbagai gerakan. Namun, meninggalkan efek domino perlawanan yang makin keras para aktivis gerakan, hingga rezim orde baru tumbang pada puncaknya 21 Mei 1998 dan dimulainya era reformasi.

Era tersebut menampilkan kebebasan beraspirasi dan berekspresi di jalur politik yang sebelumnya berada dalam kontrol ketat rezim. Era tersebut ditandai dengan bangkitnya Islam politik sebagai ejawantah (kristalisasi) dan situasi logis demokrasi. Dari warna dan jalur politik, gerakan yang muncul salah satu contohnya adalah Hizbut Tahrir Indonesia yang merupakan copy paste Hizbu Tahrir yang muncul di Timur Tengah (Libanon) yang didirikan oleh Taqiyuddin an-Nabhani. Kelompok Islam politik memiliki visi dan misi diantaranya memperjuangkan diterapkannya syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gerakan Islam transnasional di Indonesia yang memfokuskan diri di bidang dakwah salah satunya adalah Jama’ah Tabligh (JT). JT memiliki tujuan yaitu kembali ke ajaran Islam yang kaffah, menyeru dan membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan kaum muslimin dari keterpurukan yang diakibatkan oleh merajalelanya kemaksiatan di tubuh umat Islam. Cara dakwah dengan cara jemput bola yang ditempuhnya, ternyata memperoleh simpati dan minat dari masyarakat luas sehingga, kini dapat dikatakan bahwa JT adalah gerakan non-politik yang memiliki massa makin banyak di seluruh dunia.

Kalau kita telisik, Jama’ah Tabligh (JT) didirikan pada akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi di Mewat, sebuah provinsi di India. Nama lengkapnya adalah Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma’il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandahlawi kemudian Ad-Dihlawi. Al-Kandahlawi merupakan asal kata dari Kandahlah, sebuah desa yang terletak di daerah Sahranfur. Sementara Ad-Dihlawi adalah nama lain dari Dihli (New Delhi), ibukota India.

Di negara inilah, markas gerakan Jama’ah Tabligh berada. Adapun Ad-Diyubandi adalah asal kata dari Diyuband, yaitu madrasah terbesar bagi penganut madzhab Hanafi di semenanjung India. Sedangkan Al-Jisyti dinisbatkan kepada tarekat Al-Jisytiyah, yang didirikan oleh Mu’inuddin Al-Jisyti. Perkembangan JT yang signifikan hingga melampaui batas negara di Asia Barat Daya, Asia Tenggara, Australia, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara.

Gerakan Jama’ah Tabligh mudah dikenali bahkan, hingga ke penjuru desa menjadi sasaran dakwahnya. Penampilan aktivisnya dengan berpakaian koko ala Pakistan dan India, tidak berkumis dan berjenggot, bercelana panjang di atas mata kaki menjadi ciri khas yang mudah dikenali. Mereka mengunjungi masjid di manapun berada kemudian tinggal beberapa saat di masjid tersebut, dan menjadikannya sebagai basis kegiatan dakwah.

Pusat-pusat pergerakan Jama’ah Tabligh di Indonesia terbagi dalam tiga wilayah dinataranya: wilayah barat, tengah dan timur yang masing-masing saling memiliki keterikatan semangat dakwah yang tinggi. Antar pengikut di sebuah wilayah bahkan mengetahui persis kondisi juang saudara-saudaranya di wilayah lain. Hal tersebut tidak lepas dari komunikasi efektif antar anggota masing-masing wilayah dan saling mengunjungi.

Tentu, penetrasi paham ke Indonesia juga dilakukan oleh kelompok Salafi yang mengusung pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab. Ajaran Salafi masuk ke Indonesia melalui para sarjana alumni Timur Tengah, terutama mereka yang bersekolah di Universitas-Universitas di Arab Saudi dan Kuwait. Dua negara ini merupakan basis utama atau sentral gerakan Salafi seluruh dunia. Dua negara kaya minyak ini ditengarai sebagai sumber utama pendanaan bagi kelangsungan aktivitas gerakan salafi.

Tak hanya itu, perkembangan gerakan salafi di Indonesia juga mendapat dukungan langsung melalui kehadiran tokoh-tokoh intelektual Arab dari Arab Saudi sendiri, Kuwait dan Yaman. Beberapa tahun belakangan, gerakan salafi bermunculan dibeberapa daerah di Indonesia seperti terlihat misalnya di Jakarta, Banten, Batam, Tasikmalaya, Nusa Tenggara Barat, Makasar, Solo dan yang lainnya.

Syahdan, terhadap kelompok-kelompok keagamaan transnasional di atas, respon penduduk negeri ini bervariasi. Ada yang apatis, menyambut baik dan ada yang menolak baik

secara frontal maupun secara halus. Semua memberikan warna tersendiri bagi perkembangan kehidupan keagamaan di Indonesia. Yang menjadi fokus bersama tentunya adalah, masing-masing harus memandang sebagai bagian anak bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan sehingga tetap tercipta situasi yang kondusif dan harmonis.

Penulis adalah Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Sekarang nyantri di PP Nurul Jadid, sekaligus kader PMII Nurul Jadid Paiton Probolinggo.