Beranda Tokoh Lima Ahli Hadis Perempuan Guru Imam Adz-Dzahabi yang Tidak Menikah

Lima Ahli Hadis Perempuan Guru Imam Adz-Dzahabi yang Tidak Menikah

Harakah.idImam Adz-Dzahabi belajar kepada sejumlah ahli hadis perempuan. Tercatat ada 103 guru ahli hadis perempuan yang disebut dalam kitab Mu’jam Syuyukh. Lima orang di antaranya tidak menikah.

Syamsuddin Abu Abdlilah Muhammad bin Ahmad bin Usman bin Qaymaz bin Abdullah adz-Dzahabi, atau lebih dikenal dengan Imam Adz-Dzahabi, merupakan salah satu ulama besar dalam Islam. Ia lahir di bulan Rabi’ul Akhir tahun 673 H/1274 M di Diyarbakir, dan meninggal pada tahun 748 H/1348 M di Damaskus, Syiria.

Lahir dan tumbuh dalam keluarga yang religius, sejak kecil adz-Dzahabi sudah cinta dengan ilmu pengetahuan. Meski begitu, minat studi adz-Dzahabi baru mulai fokus sejak ia berusia delapan belas tahun. Ia sangat fokus sekali dalam bidang sejarah dan hadis, terutama dari sisi  para perawi hadis. Banyak sekali kitab yang diproduksinya untuk membahas persoalan ini. Di antara yang paling populer dan berjilid-jilid adalah Tarikh al-Islam dan Siyar A’lam Nubala. 

Adz-Dzahabi sendiri, sebagaimana ditulis dalam kitabnya Mu’jam Syuyukh, telah belajar kepada banyak guru, hingga mencapai lebih dari 1000 guru. Guru-gurunya ini tersebar di berbagai daerah, mulai dari Ba’labak, Aleppo, Ramla, Tabuk, Alexandria, Bilbis, hingga  Makkah dan Madinah. Ia belajar bukan hanya kepada guru-guru masyhur dari kalangan laki-laki, namun juga dari kalangan perempuan. Jika –tidak salah‒ dihitung, tercatat ada 103 guru perempuan dalam kitabnya Mu’jam Syuyukh.

Ada yang menarik untuk diamati dari catatan adz-Dzahabi terhadap semua gurunya  ini, terutama guru perempuannya. Ia selalu menuliskan dengan sangat jelas bahwa gurunya ‘tidak menikah’. Tentu saja penulisannya tidak seperti kalimat-kalimat populer seperti sekarang ini, “dia jomblo”. Adz-Dzahabi menulisnya “lam tatazawwaj abadan/qath”, dan terkadang hanya “lam tatazawwaj”.

Berikut lima nama guru perempuan adz-Dzahabi yang tidak menikah;

Habibah bintu Ibrahim bin Abdillah bin az-Zahid Abi Umar bin Qudamah Ummu Abdillah al-Maqdisiyah (654-745 H) 

Habibah merupakan ulama perempuan abad ketujuh dan kedelapan yang tidak menikah sepanjang hidupnya. Ad-z-Dzahabi belajar kitab Intikhab al-Thabrani kepadanya. Habibah sendiri memperoleh ijazah kitab tersebut dari Muhammad bin Abdul Hadi dan mendengar hadis dari Ahmad bin Abdiddaim. 

Zainab bintu al-Kamal Ahmad bin Abdirrahim bin Abdil Wahid bin Ahmad al-Maqdisiyah (646-740 H) 

Bintu al-Kamal adalah seorang ulama perempuan ahli hadis berumur panjang yang tidak menikah. Adz-Dzahabi mempertegas ini setelah menyebutnya sebagai seorang syaikhah (guru besar perempuan), shalihah, mutawadhli’ah (rendah hati), khayyirah (baik hati), mutawaddidah (penuh kasih sayang), katsiratul muru`ah (sangat terhormat). 

Bintu al-Kamal meriwayatkan banyak hadis dengan kualitas sanad yang tinggi. Ia memperolehnya dari guru-gurunya yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Damaskus, Aleppo, Harran, hingga Alexandria dan Kairo. Di antara gurunya yang masyhur adalah Muhammad bin Abdul Hadi, Ibrahim bin Khalil, Ahmad bin Abdiddaim Khatib Marda, Ibrahmim bin Mahmud, Abdurrahman bin Makki.

Zainab bintu Syaikhil Islam Syamsuddin Abil Faraj Abdirrahman bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah, Ummu Muhammad (660-739 H)

Bintu Abil Faraj merupakan seorang ulama perempuan yang kayyisah (pintar), mutawadhli’ah (rendah hati), khafifah al-ruh (ramah). Ia mendengar hadis dari Ibunya bernama Habibah binti Taqiyuddin Ahmad yang juga menjadi guru bagi Imam adz-Dzahabi, dan Ahmad bin Abdiddaim. Sepanjang hidupnya, Binti Abil Faraj juga tidak menikah seperti halnya Habibah dan Bintu Kamal.

Zainab bintu Abi Bakar Abdirrahman bin Muhammad bin Ibrahim al-Maqdisiyah (w. 702 H) 

Sama seperti Habibah dan dua Zainab sebelumnya, Bintu Abi Abakar ini juga tidak menikah. Gurunya adalah Khatib Marda dan Ahmad bin Abiddaim. Tidak banyak kata sifat yang disematkan adz-Dzahabi pada ulama perempuan ini. Adz-Dzahabi hanya menampilkan satu kata, ia adalah perempuan salihah (shalihah).

Fatimah bintu al-Muqri`al-Muhaddits Sulaiman bin Abdil Karim bin Abdurrahman al-Anshary al-Dimasyqi (w. 708 H)

Fatimah adalah ulama perempuan abad tujuh yang salihah, ahli ibadah, namun tidak menikah. Selama menekuni hadis, ia memperoleh ijazah dari al-Fath bin Abdissalam, Abu Hurairah bin Al-Wusthani, Abu Ali bin al-Juwaliqy, dan Al-Majd al-Qazwini. Ia juga mendengarkan hadis secara langsung dan memperoleh ijazah dari banyak guru seperti al-Muslim al-Mazini, Ibn Ruwahah, Karimah. 

Para ulama perempuan ini memiliki peran besar dalam tradisi keilmuan Islam, terutama dalam bidang hadis dan formasi keilmuan Adz-Dzahabi. Terlebih, mereka rela hingga tidak menikah. Karena (saya) belum menemukan penjelasan langsung dari para ulama perempuan ini terkait alasannya, atau setidaknya dari Imam adz-Dzahabi selaku murid yang menuliskannya, bisa dikatakan kemungkinan terbesarnya adalah karena terlalu sibuk dengan ilmu. 

Saya sendiri sebenarnya kurang begitu penasaran dengan alasan mengapa mereka tidak menikah. Pasalnya, jika memang karena terlalu sibuk dengan ilmu, itu sangat dimaklumi. Sebab konon kabarnya, jika sudah asyik atau mabuk dengan ilmu, biasanya memang lupa dengan segalanya. 

Contoh kecilnya mungkin kasus Abu Abbas Tsa’lab, seorang ahli nahwu mazhab Kufah abad ketiga hijriah. Ia diseruduk kuda dan terjatuh dalam sebuah lubang gara-gara terlalu asyik membaca buku sambil berjalan, sampai akhirnya luka di bagian kepala dan meninggal dunia. Ini salah satu contoh, mungkin masih lebih banyak lagi. Kalau tidak percaya, yang masih berstatus mufrad  (sendiri) bisa dicoba sendiri. Menikmati ilmu selama belum ada pasangan.

Saya sendiri sebenarnya lebih tertarik mempertanyakan mengapa Imam adz-Dzahabi begitu peka dengan kondisi para gurunya dalam persoalan pernikahan, hingga menuliskannya dalam masing-masing profil gurunya? Tidak menikah adalah salah satu contohnya. Kasus lain, Imam adz-Dzahabi juga menuliskan gurunya yang menikah beberapa kali. 

Dari pertanyaan itu, pertanyaan berikutnya muncul, apakah status ke-single-an, atau lebih luas lagi kasus pernikahan, juga berpengaruh terhadap kualitas perawi hadis, mengingat semua guru Adz-Dzahabi tersebut meriwayatkan hadis? 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...