Lima Perempuan Yang Pernah Dipinang oleh Nabi, Namun Tidak Jadi Dinikahi

0
5432

Harakah.id Inilah lima perempuan yang pernah dipinang oleh Nabi, namun tidak jadi dinikahi karena satu dan lain hal sebagaimana disebutkan oleh Imam At-Thabari dalam kitab Tarikh Al-Rusul Wa al-Mulk.

Pernikahan merupakan praktik yang bersifat perenial. Setidaknya, dalam ajaran agama-agama samawi seperti Islam, Kristen dan Yahudi. Hal ini karena, dalam agama-agama ini, pernikahan telah terjadi di surga –dunia yang dihuni manusia sebelum dunia yang sekarang. Pernikahan kemudian menjadi praktik yang dikenal di berbagai kebudayaan dunia. Setelah dunia ini hancur, ikatan pernikahan di dunia akan diteruskan dalam surga, bagi individu yang beruntung.

Nabi Muhammad SAW, sebagai manusia biasa memiliki rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Beliau menikah. Bahkan dalam babak tertentu perjalanan hidupnya, beliau menikahi beberapa orang perempuan sekaligus. Namun, dalam waktu yang cukup lama, beliau hanya menikah dengan seorang istri saja.

Tradisi pernikahan, dalam beberapa kebudayaan, didahului dengan proses melamar. Bangsa Arab memiliki istilah khitbah. Artinya pembicaraan untuk menegaskan keinginan untuk menikahi seorang perempuan. Khitbah dilakukan oleh seorang lelaki, atau wakil pihak lelaki.

Terkadang, lamaran atau pertunanangan berlanjut pada jenjang yang lebih formal, yaitu pernikahan. Tidak jarang, pertunangan berakhir kandas. Kandasnya pertunangan terjadi karena disebabkan beragam hal. Tetapi, kandasnya rencana pernikahan ini tidak hanya terjadi pada kita yang hidup di hari ini. Nabi Muhammad SAW juga pernah mengalami hal yang sama. Setidaknya, ada lima perempuan yang sedianya akan dinikahi oleh Nabi Muhammad SAW. Tetapi karena satu dan lain hal, lamaran atau pertunangan itu diurungkan kelanjutannya ke jenjang pernikahan.

Inilah lima perempuan yang pernah dipinang oleh Nabi, namun tidak jadi dinikahi karena satu dan lain hal sebagaimana disebutkan oleh Imam At-Thabari dalam kitab Tarikh Al-Rusul Wa al-Mulk:

Ummu Hani’ binti Abu Thalib

Dilihat dari nasabnya, beliau adalah puteri Abu Thalib. Artinya, Ummu Hani’ merupakan saudara Ali bi  Abi Thalib. Dengan demikian, sebenarnya beliau masih terhitung sepupu Nabi Muhammad SAW. Beliau bernama asli Hindun. Ketika telah meminangnya, Rasulullah mendapat kabar bahwa ia telah memiliki anak. Rasulullah SAW kemudian membatalkan pinangan Ummu Hani’.

Dhuba’ah binti Amir

Bernama lengkap Dhuba’ah binti Amir bin Qurazh. Seorang perempuan dari kota Mekah. Ia dikenal sebagai penyair Mekah yang cantik jelita. Ia menikah dengan seorang pria Quraisy  bernama Hisyam bin Mughirah. Pernikahannya dengan Hisyam, menurunkan Salamah bin Hisyam. Karena mendengar kabar kecantikannya, Nabi Muhammad SAW bermaksud meminangnya setelah kematian suaminya. Melalui anaknya, Salamah bin Hisyam. Salamah bin Hisyam kemudian meminta izin kepada ibunya yang telah menjanda. Dhuba’ah menjawab, seharusnya hal semacam itu tidak perlu ditanyakan lagi. Artinya sebenarnya Dhuba’ah berkenan dipersunting oleh Nabi Muhammad SAW. Tetapi, ketika Salamah bin Hisyam menemui Nabi dan menyampaikan persetujuan ibunya, Nabi Muhammad SAW tidak melanjutkan lagi niatnya tersebut. Ada yang menyatakan, karena Dhuba’ah sudah sangat tua. Baik Salamah maupun ibundanya telah masuk Islam pada periode Mekah. Salamah berhijrah ke Habasyah, lalu ke Madinah, dan wafat pada era kekhalifahan Abu Bakar Shiddiq.

Shafiyah binti Basyamah

Ia adalah saudari dari A’war Al-Anbari. Seorang tokoh penting suku Anbar. Suku ini berperang dengan penduduk Madinah dan kalah. Anggota suku tersebut ditawan termasuk Shafiyah binti Basyamah. Dalam hukum yang berlaku saat itu, tawanan perang akan punya pilihan. Dibunuh atau dijadikan budak pemenang perang. Pihak yang kalah akan dibagi-bagi kepada pasukan dan pimpinan kelompok pemenang. Jika bernasib baik, pihak yang mendapatkan tawanan perang bisa saja membebaskan tawanan yang menjadi budaknya.

Ketika pembagian tawanan, Shafiyah jatuh ke tangan Nabi Muhammad SAW. Di tangan Nabi, Shafiyah diberi pilihan, antara memilih apakah mau dijadikan Nabi sebagai istrinya atau dia tetap bersama suaminya. Hal ini artinya Nabi mengajukan pinangan keapda Shafiyah. Shafiyah memilih suaminya. Lalu Rasulullah SAW membebaskannya.

Ummu Habib binti Abbas bin Abdul Mutallib

Dilihat dari nasabnya, ia adalah puteri Abbas bin Abdul Mutallib. Artinya, ia adalah puteri paman Nabi atau sepupu Nabi. Sama seperti Ali bin Abi Thalib atau Ummu Hani’. Tetapi, ternyata hubungan Nabi dengan Ummu Habib tidak hanya sebagai sepupu. Tetapi, bahkan keponakan. Ayah Ummu Habib adalah Abbas. Abbas sendiri adalah saudara sepersusuan Nabi di rumah Tsuwaibah. Karena masih dalam kerabat dekat yang dilarang dinikah, maka Nabi tidak melanjutkan pinangannya.

Jamrah binti Harits

Nabi SAW pernah meminangnya. Tetapi, ayahnya yang bernama Harits bin Abi Haritsah mengatakan bahwa dalam tubuhnya terdapat cacat (barash) karena suatu penyakit. Sebenarnya cacat itu tidak ada. Tetapi anehnya, setelah ayahnya menolak pinangan Nabi dengan cara berbohong, justru muncul cacat pada tubuh anaknya. Nabi SAW kemudian membatalkan pinangannya. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani memasukkan ayahnya, Harits bin Abi Haritsah dalam daftar sahabat Nabi.

Demikian lima perempuan yang pernah dipinang oleh Nabi, namun tidak jadi dinikahi karena satu dan lain hal. Semoga menambah informasi untuk para pembaca.