fbpx
Beranda Gerakan Lobi Politik AS di Timur Tengah, Setelah UEA, Kini Bahrain Menormalisasi Hubungan...

Lobi Politik AS di Timur Tengah, Setelah UEA, Kini Bahrain Menormalisasi Hubungan Diplomatik Dengan Israel

Harakah.id – Lobi politik AS di Timur Tengah berlanjut. Setelah berhasil menyakinkan Uni Emirat Arab (UAE) menormalisasi hubungan diplomatiknya dengan Israel, kini Bahrain menyusul langkah yang sama. Bahrain menambah daftar nama-nama negara Arab yang melakukan kesepakatan damai dengan Israel.

- Advertisement -

Setelah Uni Emirat Arab (UEA) menormalisasi dengan Israel. Kini Bahrain mengikuti jejak UEA membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Situasi tersebut menambah daftar negara-negara Arab yang melakukan kesepakatan damai dengan Israel. 

Baca Juga: Perubahan Geopolitik Timur Tengah Pasca Normalisasi UEA-Israel

Normalisasi hubungan diplomatik Bahrain-Israel adalah buah kesuksesan dari upaya lobi politik AS di Timur Tengah. Melalui presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan damai telah dilakukan antara Bahrain dan Israel. 

Upaya tersebut semakin menunjukkan kesuksesan lobi politik AS di Timur Tengah dalam rangka memediasi negara-negara Arab untuk menormalisasi dengan Israel. Kondisi ini membuat Trump “membusungkan dada” dan menjadi pahlawan atas normalisasi tersebut. Usaha mediasi dalam mengupayakan normalisasi Israel dengan negara-negara Arab akhirnya sukses. 

Bahrain sepakat akan menandatangani kesepakatan damai di Gedung Putih, 15 September mendatang. Di hari itu juga, Uni Emirat Arab akan menghadiri upacara serupa untuk meresmikan kesepakatan damai dengan Israel yang sudah tercapai sejak 13 Agustus lalu.

Atas kesepakatan yang dimediasi oleh AS tersebut, Israel berjanji menghentikan pencaplokan di wilayah Tepi Barat. Kesepakatan damai tersebut merupakan momen bersejarah, karena selama ini negara-negara Timur Tengah yang tergabung dalam Liga Arab menolak hubungan diplomatik dengan Israel demi membela Palestina.

Normalisasi Bahrain-Israel dan Geopolitik Timur Tengah

Normalisasi hubungan diplomatik bagi suatu negara sangat menentukan arah dan kepentingan negara tersebut. Kepentingan politik dan ekonomi menjadi faktor penting mengapa hubungan diplomatik harus dilakukan.

Pengumuman normalisasi Bahrain dan Israel sendiri telah mengejutkan banyak pihak. Donald Trump melalui akun Twitter miliknya menyatakan bahwa ia telah melakukan pembicaraan dengan Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. 

D idalam pernyataan bersama tersebut, ketiganya mengatakan bahwa pembukaan dialog langsung bagi hubungan antar kedua negara. Selain itu, keduanya sepakat demi upaya memajukan perekonomian serta melanjutkan transformasi positif Timur Tengah. Normalisasi Bahrain dan Israel juga ingin meningkatkan stabilitas keamanan, situasi politik, ekonomi dan kemakmuran di kawasan.

Baca Juga: Catatan Manuver Politik Saudi: Ketika Iran-Saudi Berebut Pengaruh Di Kawasan [14]

Israel semakin melejit dan menjadi kuat atas kesepakatan damai dengan Bahrain. Pasalnya, Israel mendapatkan kawan baru di kawasan. Kini Israel telah mengantongi empat negara yang telah membuka hubungan diplomatiknya, yakni Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain.

Peta percaturan geopolitik Timur Tengah pun semakin berubah. Semakin banyak negara-negara Arab mau menormalisasi dengan Israel. Aliansi baru kawasan, Israel, Mesir, Yordania, UEA, dan Bahrain adalah poros baru yang bakal menjadi musuh dan ancaman bagi poros Turki dan Iran. 

Lalu, bagaimana keputusan negara-negara Arab lain? Apakah mereka tetap memutuskan menolak normalisasi dengan Israel atau menerimanya? Kita tengah menunggu bagaimana perjalanan panjang dinamika geopolitik Timur Tengah bertransformasi.

Negara Arab: Pro Palestina atau Israel?  

Keputusan Bahrain untuk menormalisasi dengan Israel adalah kebijakan krusial. Apalagi, pasca dilaksanakannya pertemuan Liga Arab kemarin, (9/9), yakni membahas terkait normalisasi hubungan UEA-Israel. Bahrain malah mengikuti jejak UEA untuk damai dengan Israel.

Dari kesepakatan damai Bahrain dan Israel. Kita dapat mengambil analisa sederhana bahwa negara mana saja yang pro Palestina dan kontra dengan Israel, atau sebaliknya. Kondisi demikian juga membuat Palestina merasa “dibohongi” oleh negara-negara Arab. 

Meski dalam pertemuan Liga Arab dinyatakan bahwa negara-negara Arab akan selalu dan terus mendukung Palestina. Tetapi, hal ini tidak sesuai kesepakatan bersama. Prakarsa Damai 2002 yang diinisiasi oleh Arab Saudi hanya menjadi kesepakatan semu dan sia-sia.

Dalam kesepakatan antara Bahrain dan Israel juga menyikapi persoalan aneksasi Tepi Barat. Bahrain mengambil keputusan membuka hubungan diplomatik dengan Israel karena pihak Israel akan menghentikan upaya aneksasi tersebut. 

Baca Juga: Catatan Manuver Politik Saudi: Jejak Kudeta di Yaman, Libya, Hingga Suriah [2]

Kita lihat saja perkembangan pasca normalisasi hubungan diplomatik ini. Apakah Israel tetap menghentikan aneksasi Tepi Barat atau malah melanjutkannya? 

Masyarakat dunia juga tengah menanti kebenaran dan komitmen Israel atas kesepakatan tersebut. Jika Israel tetap melakukan aneksasi, maka upaya tersebut akan selalu dikenang dan diingat oleh dunia bahwa Israel adalah negara pendusta dan penjarah hak negara Palestina. 

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...