Mahabbah Rabi’ah dan Ajaran Mencintai Tuhan dengan Tidak Memberikan Ruang Sedikitpun Kepada Dunia

0
747
Mahabbah Rabi’ah dan Ajaran Mencintai Tuhan dengan Tidak Memberikan Ruang Sedikitpun Kepada Dunia

Harakah.idTidak ada yang patut dibanggakan dari dunia yang fana’ ini. Begitu juga, tidak ada yang patut dicintai secara berlebihan dari dunia ini. Mahabbah yang diajarkan Rabi’ah Al-Adawiyah menyatakan cinta kepada Allah adalah satu-satunya cinta yang harus ditumbuhkan.

Kata mahabbah itu sendiri berasal dari kata أحب- یحب- محبة yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan atau cinta yang mendalam. Dan hubb yang berarti lawan dari al-Bugdu, yakni cinta lawan dari benci. Begitu juga memiliki makna al-Wadud yang artinya cinta, kasih sayang, persahabatan.

Menurut Harun Nasution, mahabbah ialah: 1) Memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya, 2) Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi, 3) Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi. Konsep mahabbah merupakan kelanjutan dari tingkat kehidupan zuhud yang dikembangkan oleh Hasan al-Basri, yaitu takut dan pengharapan. Fase khauf dan raja’ ini kemudian dinaikkan oleh Rabi’ah kepada fase kezuhudan karena cinta. Cinta yang suci murni itu lebih tinggi dari pada takut dan pengharapan.

Rabi’ah al-Adawiyah adalah sufi perempuan yang popular dan dikenal sebagai penggagas konsep mahabbah. Hal ini diketahui dari jawabannya atas pertanyaan: Ketika Rabi’ah ditanya; “Apakah kau cinta kepada Tuhan yang Maha Kuasa? ‘ya’, apakah kau benci kepada setan? ‘tidak’, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci kepada setan.” Seterusnya Rabi’ah menyatakan, “saya melihat Nabi dalam mimpi, Dia berkata: Oh Rabi’ah, cintakah kamu kepadaku? Saya menjawab, Oh Rasulullah, siapa yang menyatakan tidak cinta? Tetapi cintaku kepada pencipta memalingkan diriku dari cinta atau membenci kepada makhluk lain.”

Mahabbah kepada Allah SWT merupakan suatu keajaiban yang harus ditanamkan kepada setiap individu, karena tanpa adanya mahabbah, seseorang baru berada pada tingkatan yang paling dasar sekali yaitu tingkat muallaf. Menurut al-Saraf, mahabbah mempunyai tiga tingkatan:

Pertama, Cinta biasa. Yaitu selalu mengingat Tuhan dengan zikir, suka menyebut namanama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan senantiasa memujiNya.

Kedua, Cinta orang yang siddiq. Yaitu orang yang kenal kepada Tuhan, pada kebesaran-Nya, pada ilmu-Nya dan lainnya. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari Tuhan, dan dengan demikian dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Ia mengadakan dialog dengan Tuhan dan memperoleh kesenangan dari dialog itu. Cinta tingkat kedua ini membuat orang sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sedang hatinya penuh dengan perasaan cinta dan selalu rindu kepada Tuhan.

Ketiga, Cinta orang arif. Yaitu orang yang tahu betul kepada Tuhan. Cintanya yang serupa ini timbul karena telah tahu betul kepada Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta tapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang dicintai.

Ajaran yang dibawa oleh Rabi’ah adalah versi baru dalam kehidupan kerohanian, di mana tingkat zuhud yang diciptakan oleh Hasan Basri yang bersifat khauf dan raja’ dinaikkan tingkatnya oleh Rabi’ah al-Adawiyah ke tingkat zuhud yang bersifat hubb (cinta). Cinta yang suci murni lebih tinggi dari pada khauf dan raja’, karena yang suci murni tidak mengahrapkan apa-apa. Cinta suci murni kepada Tuhan merupakan puncak tasawuf Rabi’ah.

Rabi’ah betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan hanya ingin berada dekat dengan Tuhan. Ia banyak beribadah, bertobat dan menjauhi hidup duniawi, dan menolak segala bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Bahkan ada doa-doa beliau yang isinya tidak mau meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan. Hal ini dapat dilihat dari ketika teman-temannya ia memberi rumah kepadanya, ia menyatakan; “aku takut kalau-kalau rumah ini akan mengikat hatiku, sehingga aku terganggu dalam amalku untuk akhirat.” Kepada seorang pengunjung ia memberi nasehat: “memandang dunia sebagai sesuatu yang hina dan tak berharga, adalah lebih baik bagimu”. Segala lamaran cinta pada dirinya, juga ditolak, karena kesenangan duniawi itu akan memalingkan perhatian pada akhirat.

Baca Juga: Memahami Makna Zuhud dengan Benar untuk Hidup Lebih Tenang

Mahabbah Rabiah Adawiyah dalam kehidupan dunia menjadi cikal bakal tumbuhnya tasawuf, sedangkan zuhud itu sendiri adalah bersumber dari ajaran Islam. Pemahaman dan pengamalan zuhud yang berkembang sejak abad pertama hijriah, benar- benar berdasarkan ajaran Islam, baik yang bersumber dari al-Qur’an, sunnah maupun kehidupan sahabat nabi. Sikap hidup dan keberagamaan yang mereka anut adalah berkisar pada usaha yang sungguh-sungguh untuk memperoleh kebahagiaan akhirat dengan memperbanyak ibadah serta menghindarkan diri dari kehidupan dunia.

Cinta Rabi’ah al-Adawiyah memiliki makna dan hakikat yang terdalam dari sekadar “Cinta” itu sendiri. Bahkan, menurut kaum sufi, Mahabbatullah tak lain adalah sebuah maqam (stasiun, atau jenjang yang harus dilalui oleh para penempuh jalan Ilahi untuk mencapai ridla Allah dalam beribadah) bahkan puncak dari semua maqam. Rabi’ah al-Adawiyah telah mencapai puncak dari maqam itu, yakni Mahabbahtullah. Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh karena itu Ia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah. Rabi’ah telah mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di hadapannya setiap kali Ia sujud dan menghadap Ilahi.