Beranda Headline Mahsa Amini Gadis Iran Tewas dalam Kasus Wajib Hijab, Begini Praktik Hijab...

Mahsa Amini Gadis Iran Tewas dalam Kasus Wajib Hijab, Begini Praktik Hijab Zaman Nabi

Harakah.idMahsa Amini tewas dalam proses penegakan peraturan wajib hijab di Iran oleh polisi moral. Praktik hijab zaman Nabi bersifat persuasif. Bukan represif.

Mahsa Amini tewas dalam proses penegakan peraturan wajib hijab di Iran oleh polisi moral. Tewasnya perempuan muda itu segera memicu demonstrasi luas. Muak dengan aturan yang dibuat para agamawan tersebut, para demonstran mengutuk pemimpin tertinggi negara tersebut Ayatullah Ali Khamenei. Para netizen menyebarkan propaganda penolakan wajib hijab dan menyebut hijab bukan budaya Iran.

Hijab yang juga disebut dengan istilah jilbab sering dipahami sebagai kain penutup kepala perempuan. Biasa digunakan para perempuan Muslim. Tradisi berhijab semacam ini diyakini telah dimulai sejak era Nabi Muhammad SAW.

Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadis yang bersumber dari Hafsah binti Sirin. Ia adalah saudara seorang ulama besar Muhammad bin Sirin. Dalam bab “Bila Seseorang Wanita Tidak Memiliki Jilbab Pada Hari Raya”, Imam al-Bukhari mengatakan:

عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ قَالَتْ كُنَّا نَمْنَعُ جَوَارِيَنَا أَنْ يَخْرُجْنَ يَوْمَ الْعِيدِ فَجَاءَتْ امْرَأَةٌ فَنَزَلَتْ قَصْرَ بَنِي خَلَفٍ فَأَتَيْتُهَا فَحَدَّثَتْ أَنَّ زَوْجَ أُخْتِهَا غَزَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ غَزْوَةً فَكَانَتْ أُخْتُهَا مَعَهُ فِي سِتِّ غَزَوَاتٍ فَقَالَتْ فَكُنَّا نَقُومُ عَلَى الْمَرْضَى وَنُدَاوِي الْكَلْمَى فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعَلَى إِحْدَانَا بَأْسٌ إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهَا جِلْبَابٌ أَنْ لَا تَخْرُجَ فَقَالَ لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا فَلْيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ حَفْصَةُ فَلَمَّا قَدِمَتْ أُمُّ عَطِيَّةَ أَتَيْتُهَا فَسَأَلْتُهَا أَسَمِعْتِ فِي كَذَا وَكَذَا قَالَتْ نَعَمْ بِأَبِي وَقَلَّمَا ذَكَرَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا قَالَتْ بِأَبِي قَالَ لِيَخْرُجْ الْعَوَاتِقُ ذَوَاتُ الْخُدُورِ أَوْ قَالَ الْعَوَاتِقُ وَذَوَاتُ الْخُدُورِ شَكَّ أَيُّوبُ وَالْحُيَّضُ وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ الْمُصَلَّى وَلْيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ فَقُلْتُ لَهَا الْحُيَّضُ قَالَتْ نَعَمْ أَلَيْسَ الْحَائِضُ تَشْهَدُ عَرَفَاتٍ وَتَشْهَدُ كَذَا وَتَشْهَدُ كَذَا

Dari Hafshah binti Sirin yang berkata,

“Dahulu kami melarang anak-anak gadis remaja kami keluar untuk ikut melaksanakan shalat di Hari Raya ‘Ied. Lalu datanglah seorang wanita ke kampung Bani Khalaf, maka aku pun menemuinya. Lalu ia menceritakan bahwa suami dari saudara perempuannya pernah ikut perang bersama Nabi SAW sebanyak dua belas peperangan, dan saudara perempuannya itu pernah mendampingi suaminya dalam enam kali peperangan.” Ia (saudara wanitanya itu) berkata, “Kami merawat orang yang sakit dan mengobati orang-orang yang terluka.”

Saudara perempuanku bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah berdosa bila seorang dari kami tidak keluar karena tidak memiliki jilbab?” Beliau menjawab: “Hendaklah temannya meminjamkan jilbabnya, sehingga mereka dapat menyaksikan kebaikan dan mendo’akan Kaum Muslimin.”

Hafshah berkata, “Ketika Ummu ‘Athiyyah datang, aku menemuinya dan kutanyakan kepadanya, ‘Apakah kamu pernah mendengar tentang ini dan ini? ‘ Dia menjawab, ‘Iya. Demi bapakku’. Dan setiap kali dia menceritakan tentang Nabi SAW, dia selalu mengatakan ‘Demi bapakku’. Beliau bersabda: “Keluarkanlah para gadis remaja yang dipingit dalam rumah.” Atau beliau bersabda: “Para gadis remaja dan wanita-wanita yang dipingit dalam rumah -Ayyub masih ragu- dan wanita yang sedang haid. Dan hendaklah wanita yang sedang haid dijauhkan dari tempat shalat, agar mereka dapat menyaksikan kebaikah dan mendo’akan Kaum Muslimin.”

Hafshah berkata, “Aku bertanya kepadanya, ‘Wanita yang sedang haid juga? ‘ Dia menjawab, ‘Bukankah mereka juga hadir di ‘Arafah dan menyaksikan ini dan itu? ‘.” (HR. al-Bukhari).

Dalam hadis di atas, diceritakan bahwa kaum perempuan diperbolehkan menghadiri pertemuan umum, sekalipun mereka sedang mengalami haid. Mereka secara persuasif diminta untuk mengenakan hijab.

Bagi perempuan yang tidak memiliki kain hijab, hendaknya tetap mengenakannya. Saudaranya hendaknya meminjamkan kain untuk menutup kepala mereka.

Fenomena memakai jilbab juga terekam dalam hadis Riwayat Imam Abu Dawud. Imam Abu Dawud meriwayatkan,

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا سَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتُصَلِّي الْمَرْأَةُ فِي دِرْعٍ وَخِمَارٍ لَيْسَ عَلَيْهَا إِزَارٌ قَالَ إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُورَ قَدَمَيْهَا 

Dari Ummu Salamah bahwasanya dia pernah bertanya kepada Nabi SAW; Bolehkah wanita shalat memakai gamis dan jilbab tanpa memakai kain sarung? Beliau menjawab: “Boleh apabila gamisnya itu longgar yang dapat menutupi punggung kakinya. (HR. Abu Dawud).

Dalam hadis ini, jilbab dipakai dalam ibadah shalat sebagai bagian dari praktik hijab zaman nabi. Ketika seorang perempuan shalat, ia boleh mengenakan kain apa saja yang penting dapat menutup auratnya. Boleh mengenakan gamis dan kerudung atau jilbab. Tanpa mengenakan bawahan jika memang gamis itu sudah dapat menutup hingga bagian kaki.

Imam Abu Dawud meriwayatkan hadis lain yang menunjukkan praktik para sahabat perempuan berhijab. Imam Abu Dawud meriwayatkan,

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ لَمَّا نَزَلَتْ { يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ } خَرَجَ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِنَّ الْغِرْبَانَ مِنْ الْأَكْسِيَةِ

Dari Ummu Salamah ia berkata, “Ketika turun ayat: ‘(Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya) ‘, wanita-wanita Anshar keluar seakan di atas kepala mereka ada burung gagak, karena tertutup kerudung hitam.” (HR. Abu Dawud).

Hadis ini memotret bentuk hijab yang digunakan para perempuan Madinah pada zaman Nabi. Yaitu berwarna hitam. Warna hitam, sekalipun disebut dalam hadis, bukan sebuah kewajiban. Tetapi, dalam praktik yang berlaku di masyarakat Iran, Arab Saudi dan Yaman, belakangan diikuti oleh Pakistan dan India, penggunaan jilbab berwarna hitam menjadi praktik yang umum. Beberapa negara seakan mewajibkan model jilbab dengan warna hitam.

Demikian Praktik Hijab Zaman Nabi yang bersifat persuasif. Semoga hijab tidak menjadi simbol represi terhadap perempuan seperti dalam kasus Mahsa Amini. Tapi justru menjadi simbol penghormatan, perlindungan dan kebebasan kaum perempuan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...