Beranda Keislaman Tafsir Makna Kontekstualisasi kata Auliya dalam Al-Qur’an surah an-Nisa

Makna Kontekstualisasi kata Auliya dalam Al-Qur’an surah an-Nisa

Harakah.id Kata auliya dalam surah an-Nisa muncul beberapa kali. Berikut adalah penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan kontekstualisasinya dan konteks yang mempengaruhinya.

Kata auliya bermakna kawan dalam surat an-Nisa ayat 76;

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۚ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ الطَّاغُوْتِ فَقَاتِلُوْٓا  اَوْلِيَاۤءَ الشَّيْطٰنِ ۚ اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا ۚ

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.

Quraish Shihab menjelaskan, setelah beberapa ayat sebelumnya menyebut seputar pertempuran, antara lain berjuang untuk melindungi yang rentan, baik keluarga maupun orang sebangsa. Dalam ayat ini, selanjutnya menjelaskan perbedaan dalam perjuangan orang beriman dan tidak beriman. Orang beriman berperang di jalan Allah SWT, sementara orang kafir berperang dalam misi menuju taqhut. Allah SWT telah memerintahkan orang beriman untuk berperang melawan teman atau sahabat setan karena  tipu daya setan sangat lemah sifatnya.

Dalam ayat 76 tadi, kata auliya berarti pendamping, sedangkan arti ontekstualnya adalah pengikut setan. Makna ini tampaknya dipengaruhi oleh konteks bahasa (siyaq al-Luqhah) yang berkaitan dengan konteks ayat sebelumnya yang menegaskan  orang beriman berperang untuk membela al-Mustadh’afin (orang-orang lemah), dan dipengaruhi oleh konteks ayat yang memerintahkan orang-orang beriman berperang melawan kawan-kawan setan; maka  perangilah kawan-kawan setan

Hal yang sama, kata auliya yang berarti teman juga terdapat di surat an-Nisa ayat 89;

وَدُّوْا لَوْ تَكْفُرُوْنَ كَمَا كَفَرُوْا فَتَكُوْنُوْنَ سَوَاۤءً فَلَا تَتَّخِذُوْا مِنْهُمْ اَوْلِيَاۤءَ حَتّٰى يُهَاجِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوْهُمْ وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُّمُوْهُمْ ۖ وَلَا تَتَّخِذُوْا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًاۙ

Mereka ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka). Janganlah kamu jadikan dari antara mereka sebagai teman-teman(mu), sebelum mereka berpindah pada jalan Allah. Apabila mereka berpaling, maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana pun mereka kamu temukan, dan janganlah kamu jadikan seorang pun di antara mereka sebagai teman setia dan penolong.

mengikuti ayat sebelumnya yang memberikan nasehat kepada orang-orang beriman untuk melawan orang munafik. Kemudian pada ayat ini dijelaskan kembali bahwa kekafiran orang munafik itu tidak  terbatas pada diri  mereka sendiri, tetapi mereka juga menginginkan orang-orang yang beriman menjadi mengikuti mereka dengan kesalahan dan kurangnya kepercayaan iman mereka kepada Allah yang berujung pada kekafiran.

Pada ayat 89, dalam teks kata auliya berarti teman, sedangkan arti dalam konteks adalah orang  terdekat. Makna ini tampaknya dipengaruhi oleh  konteks bahasa (Siyaq al-Luqhah) karena berkaitan dengan konteks ayat sebelumnya yang menjelaskan bahwa Allah SWT menegur sikap  orang beriman yang terpecah belah berurusan dengan orang munafik; maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah SWT telah membalikkan mereka kepada kekafiran. Dan dipengaruhi oleh konteks ayat melarang mukmin menjadikan orang munafik seabagi teman setia, karena mereka akan mengajak pada kekufuran; Janganlah kamu jadikan dari antara mereka sebagai teman-teman (mu).

Kata auliya bermakna pemimpin dalam surat an-Nisa ayat 139;

 ۨالَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ اَيَبْتَغُوْنَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَاِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ

(yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.

Quraisy Shihab (2008: 621) setelah ayat Allah SWT sebelumnya mengecam orang munafik bahwa mereka akan menerima siksaan yang pedih. Kemudian, dalam ayat ini menjelaskan sikap orang munafik yang mengaku beriman padahal sebenarnya mereka menyembunyikan ketidakpercayaan mereka.

Dalam ayat 139, kata auliya berarti pemimpin, sedangkan dalam konteks ini berarti orang yang menjadi pemimpin di suatu daerah. Makna ini tampaknya dipengaruhi oleh konteks bahasa (Siyaq al-Luqhah) karena berkaitan dengan konteks ayat sebelumnya yang menyatakan bahwa Allah SWT akan menyiksa orang munafik dengan sangat menyakitkan; kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, dan  dipengaruhi konteks ayat yang  menjelaskan siapa itu orang-orang munafik; (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir.

Makna ini tampaknya juga  dipengaruhi  oleh konteks situasi (Siyaq al-Mauqif), yaitu lingkungan di mana bahasa tersebut diucapkan, karena pada masa Nabi Muhammad ada orang kafir yang tidak menerima ajaran Islam kemudian memusuhi Muslim, pada saat itu ada sekitar Muslim membuat orang tidak percaya bantuan dan mencari kekuatan dari orang-orang kafir, dan Allah SWT mengatakan  mereka adalah orang munafik.

Kata auliya bermakna pemimpin dalam surat an-Nisa ayat 144;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ اَتُرِيْدُوْنَ اَنْ تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ عَلَيْكُمْ سُلْطٰنًا مُّبِيْنًا

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukummu)

Quraisy Shihab (2008:628) Ayat ini adalah seruan kepada mukmin  agar tidak menjadikan orang kafir auliyā’ (sahabat asli selalu menyimpan rahasia, serta pelindung dan pelindung) dengan meninggalkan pengikut. Ayat ini  mengandung kritik karena Allah SWT berfirman akan memberikan hukuman kepada mereka yang membuat orang menjadi kafir  seperti Dia berfirman “apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukummu).

Pada ayat 144 dalam teks tersebut, kata auliya berarti pemimpin, yang memiliki arti kontekstual seseorang yang menjadi pemimpin di suatu daerah. Makna ini tampaknya dipengaruhi oleh konteks bahasa (siyaq al-Luqhah).

karena terkait dengan konteks ayat yang mendesak orang beriman untuk tidak menjadikan orang-orang kafir pelindung dan membantu mereka meninggalkan orang-orang beriman; janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir  sebagai pemimpin, kemudian hal ini di pertegas dengan adanya kata; apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukummu)?. Jelas hal ini hujjah bahwa Allah SWT akan menghukum mereka yang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin mereka. Wallahu a’lam.

Artikel berjudul “Makna Kontekstualisasi kata Auliya dalam Al-Qur’an surah An-Nisa” ini adalah kiriman dari Nabila Sethia Izzati, mahasiswi Yogyakarta.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...