Beranda Keislaman Hadis Makna Sunnah Serta Perbedaannya dalam Ilmu Akidah dan Fikih

Makna Sunnah Serta Perbedaannya dalam Ilmu Akidah dan Fikih [2]

Harakah.idFaktanya, terminologi “sunnah” memiliki keragaman makna, yang membuatnya tidak bisa direbut hanya untuk makna tunggal saja.

Pada bagian satu tulisan ini telah dibahas tentang definisi sunnah dalam ilmu hadis dan ilmu ushul fikih. Yaitu, keduanya adalah mengkaji teks.

Sedangkan dalam ilmu Fikih, sunnah didefinisikan sebagai,

ما يثاب فاعله ولا يعاقب تاركه

“Suatu perbuatan yang jika dilakukan, maka berpahala, namun jika ditinggalkan, maka tidak berdosa.”

Definisi seperti ini tepat karena objek kajian fikih adalah perbuatan orang dewasa (mukallaf), bukan yang lain.Ia tidak mengkaji masalah nassh (teks hukum), melainkan status hukum perbuatan seseorang. Dalam konteks masalah fitness karena ingin berpostur tubuh seperti Nabi, hal itu bukanlah sunnah dalam definisi ulama fikih, meskipun ia adalah sunnah menurut Ahli hadis dan ahli ushul fikih.

Agar lebih jelas, kita perhatikan contoh berikut ini, yang masih menggunakan kasus fitness dalam contoh sebelumnya.

Untuk memberikan gambaran ulang tentang kasus fitness di atas secara singkat, sunnah Nabi yang disajikan oleh ahli hadis adalah bahwa Nabi itu tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, beliau adalah orang yang gagah.

Lalu, dari teks laporan tentang deskripsi fisik Nabi di atas yang sepintas tidak mengandung unsur hukum karena tidak berkaitan dengan perbuatan mukallaf (af’al mukallaf), ternyata dapat menjadi bermuatan hukum. Nyatanya, di antara orang Islam adalah yang ingin berpostur tubuh seperti Nabi. Lalu ia mencoba menirunya sesuai teks tersebut dengan cara fitness dan olah raga teratur.

Dari situ, laporan deskripsi fisik Nabi yang disajikan dalam hadis itu menjadi teks hukum, berdasarkan kaidah ilmu ushul fikih. Ia bernilai hukum pilihan (takhyir/ ibahah).

Sementara itu, pebuatan orang Islam dewasa (mukallaf) yang berupa fitness tersebut setelah ditinjau menggunakan kaidah ushul fikih, berdasarkan hadis tersebut dapat bernilai hukum mubah, bukan sunnah (dalam pengertian ilmu fikih). Ia tidak diberikan pahala atas perbuatannya itu, dan juga tidak berdosa saat tidak melakukannya.

Dalam ilmu fikih, fitenss yang dilakukan oleh seseorang tersebut adalah bernilai mubah, jika maksudnya adalah mempraktikkan hadis tentang deskripsi fisik Nabi. Ia hanyalah pilihan saja, karena khithab (kandungan pembicaraan) dalam hadis tersebut adalah sebatas takhyir atau pilihan saja, tidak ada tuntutan sama sekali bahwa orang Islam harus berpostur tubuh seperti Nabi. Dengan kata lain, tasyri’ yang ada dalam hadis tentang postur tubuh Nabi tersebut adalah tasyri’ ibahah.

Hanya saja, jika tujuan/niat fitness tersebut adalah karena mencintai Nabi, maka dalam ilmu fikih, ia dapat bernilai sunnah (berpahala) mencintai Nabi. Ia berpahala bukan karena fitnessnya, atau bukan pula karena mempraktikkan hadis tentang postur tubuh Nabi, melainkan berpahala karena niat dan tujuan mencintai Nabi, sehingga ia melakukan apapun tentang Nabi. Ini karena Nabi bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من نفسه ووالده وولده والناس أجمعين

“Tidaklah sempurnah keimanan seseorang sebelum aku lebih ia cintai daripada dirinya sendiri, keluarganya dan orang-orang lain seluruhnya.”

Meski demikian, tidaklah berdosa ketika ada orang yang mencintai Nabi tidak dengan cara mempraktikkan hadis tentang postur tubuh Nabi tersebut. Inilah yang disebut dengan sunnah dalam ilmu fikih. Fitness menjadi berpahala jika dilakukan atas dasar cinta Nabi dan dilakukan secara proporsional, namun tidak berdosa sama sekali jika ada orang yang tetap membiarkan tubuhnya pendek, jangkung, kurus, ataupun obesitas.

Demikianlah, definisi sunnah dalam ilmu fikih. Ia lebih mengacu kepada perbuatan orang Islam yang kemudian dinilai berdasarkan laporan (hadis) tentang Nabi setelah dikaji dari segi kandungan pembicaran (khithab)nya.

Sedangkan dalam ilmu akidah, sunnah biasa didefinisikan,

السنة مقابل للبدعة

“Sunnah adalah kebalikan dari bidah”

Apapun yang memiliki dalil syar’i, baik itu dari al-Quran, hadis, ijma’, qiyas, maupun dalil lain, maka ia adalah sunnah. Ia bukanlah bidah.

Dengan demikian, menjadikan fitness sebagai ibadah sebagaimana gambaran di atas, bukanlah perbuatan bidah, karena didasari oleh sunnah mencintai Nabi, meskipun fitness tidak pernah dilakukan oleh Nabi, apalagi sebagai ibadah.

Praktisnya, sunnah dalam ilmu akidah untuk kasus fitness di atas adalah bahwa orang yang membuat rutinitas (wiridan) berupa fitness sama sekali tidak menyalahi aturan agama Islam, meskipun tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Fitness tidak pernah disyariatkan oleh Nabi, namun ia dapat menjadi sunnah yang hasanah, sunnah yang baik, dan bukan bidah dengan pertimbangan sebagaimana uraian di atas. Pelakunya tidak bisa disebut fasik, apalagi kafir.

Meski demikian, ia tidak boleh meyakini bahwa Nabi melakukan fitness hanya karena laporan hadis tetang postur tubuh di atas. Jika ia meyakininya, maka itulah yang disebut dengan bidah. Demikianlah, gambaran sunnah dalam  ilmu akidah.

Dari definisi di atas, dapat kita pahami bahwa hakikat sunnah dalam ilmu fikih bukanlah teks, melainkan perbuatan. Jika dicari titik temu antara ketiga ilmu ini, yaitu ilmu hadis, ilmu ushul fikih, dan ilmu fikih, maka secara sederhana dapat didefinisikan bahwa hakikat sunnah dalam ilmu hadis adalah perbuatan Nabi. Sedangkan hakikat sunnah dalam ilmu ushul fikih adalah teks hukum berdasarkan perbuatan Nabi.

Sementara itu, hakikat sunnah dalam ilmu fikih adalah perbuatan orang Islam yang sesuai dengan teks hukum tersebut. Ia dapat bernilai pahala atau tidak. Ia dapat bernilai wajib, haram, mandub, makruh, atau mubah. Sedangkan hakikat sunnah dalam ilmu akidah adalah menyangkut status keyakinan seseorang yang melakukan suatu perbuatan itu apakah termasuk tetap mukmin, muslim, salih, atau berubah menjadi fasik, bahkan kufur?

Terakhir dan yang terpenting dari itu semua adalah, kita harus mampu memosisikan dan menerapkan masing-masing definisi tersebut sesuai dengan proporsinya masing-masing.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...