Mana Lebih Baik, Membaca Al-Qur’an dengan Suara Keras atau Pelan?

0
Mana Lebih Baik, Membaca Al-Qur’an dengan Suara Keras atau Pelan

Harakah.id – Banyak hadis disyari’atkannya membaca Al-Qur’an dengan suara keras. Semuanya mengenai orang yang tidak khawatir riya’, ‘ujub, dan tidak mengganggu jamaah lain.

Banyak hadis yang menjelaskan mustahab-nya mengeraskan suara ketika membaca Al-Qur’an, dan ada pula atsar-atsar yang menjelaskan mustahab-nya menyamarkan dan merendahkan suara.

Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin mengatakan, “titik tengah antara hadis-hadis dan riwayat-riwayat bermacam-macam dalam hal ini. Jika dengan menyembunyikan suara lebih menjauhkan diri dari riya’ maka ini lebih afdhal pada kondisi orang yang mengkhawatirkan hal itu.

Jika ia tidak mengkhawatirkan riya’ dengan mengeraskan bacaannya, maka membacanya dengan keras lebih afdhal baginya karena amalan yang dilakukannya lebih banyak, faidahnya menyebar kepada yang lainnya dan manfaat menyebar lebih afdhal dari makna yang didapat olehnya sendiri, karena bacaan tersebut dapat membangunkan hati pembacanya, mengumpulkan keinginannya juga pendengarnya untuk memikirkan kandungannya, menyingkirkan kantuk, menambah semangat, membangukan orang lain yang tertidur atau lalai serta menyemangatinya.”

Baca Juga: Kenyataannya, Tanpa Hadis, Al-Qur’an Memang Akan Sulit Dipahami…

Dalam riwayat dari Abu Hurairah, ia berkata, saya pernah mendengar Nabi Saw. bersabda, Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu sebagaimana mendengarkan seorang Nabi bersuara merdu yang sedang menyenandungkan Al-Qur-an dengan suara yang keras.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Sungguh, aku mengenali suara rombongan orang-orang Asy’ariyah dari bacaan Al-Qur’an yang mereka baca ketika mereka memasuki tengah memasuki malam, dan aku mengetahui tempat-tempat persinggahan mereka dari suara bacaan Al-Qur’an mereka pada malam hari walaumpun sebelumnya aku tidak melihat tempat persinggahan mereka di siang hari.” (HR. Bukhari Muslim).

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Daud dari Ali Ra., bahwa ia pernah mendengar suara riuh orang-orang di dalam masjid, kemudian ia berkata, “sungguh diberkahi orang-orang ini dahulu mereka adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Nabi Saw.” (HR. Thabrani).

Baca Juga: Bacaan Doa Wirid Setelah Sholat 5 Waktu Arab dan Latin

Banyak hadis mengenai disyari’atkannya mengeraskan suara ketika membaca Al-Qur’an. Semuanya mengenai oang-orang yang tidak khawatir terjangkit riya’, ‘ujub, juga sifat buruk lainnya, dan tidak mengganggu jamaah lain. Sungguh sekelompok salaf lebih memilih merendahkan suaranya karena khawatir .

A’masy berkata, “Aku pernah mengunjungi Ibrahim ketika ia sedang membaca Al-Qur’an dari mushaf, kemudian sseorang meminta izin untuk menemuinya. Maka ia pun menutupnya, lalu berkata, ‘jangan sampai orang ini melihat bahwa aku membaca Al-Qur’an setiap saat.’”

Abu Aliyah berkata, “aku pernah duduk bersama sahabat-sahabat Rasulullah Saw. Lalu salah seorang dari mereka berkata : ‘malam ini aku telah membaca Al-Qur’an sekian’. Merekapun menimpali, ‘inilah bagianmu yang kau peroleh darinya.’”

Mereka ini berdalil dengan hadis Uqbah bin Amir, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,

“Orang yang membaca Al-Qur’an dengan keras seperti orang yang bersedekah secara terang-terangan dan orang yang menyembunyikan suara bacaan Al-Qur’an-nya seperti orang yang bersedekah secara diam-diam.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i).

Jadi kesimpulan dari beberapa keterangan di atas, semua amal perbuatan kita tergantung niatnya. Jika dengan bacaan keras ditakutkan menjadi sebab timbulnnya hal-hal yang tidak diinginkan maka tidak usah membacanya dengan keras. Jika ia tidak khawatir akan hal tersebut maka hendaklah ia membacanya dengan keras.

Baca Juga: Mengenal Qithmir, Anjing Mulia dalam Al-Quran Karena Tabaruk Kepada Orang Saleh
Baca Juga: Tidak Ada Harakat, Titik & Tanda Baca Pada Awal Pembukuan Al-Qur’an