Beranda Gerakan Catatan Manuver Politik Saudi: Menggagas Universitas Islam Madinah Bersama Ikhwanul Muslimin

Catatan Manuver Politik Saudi: Menggagas Universitas Islam Madinah Bersama Ikhwanul Muslimin [7]

Harakah.id – Sejak awal, para direktur UIM adalah para ulama-ulama salafi Saudi yang terbuka untuk menerima masukan dari ulama-ulama Islam berbagai afiliasi dari berbagai negara. Hanya, tahun-tahun terakhir ini, setelah hubungan Ikhwan dan Saudi memburuk, dimulailah dengan gencar serangan terhadap Ikhwan.

Seorang teman yang belajar di Universitas Islam Madinah mengirimkan beberapa photo seminar tentang kesesatan Ikhwan di UIM. Seminar dengan tema hampir sama juga diadakan di universitas-universitas lain di Saudi seperti Al-Imam Muhammad Ibn Sa’ud University di Riyadh dan lain-lain.

Sekitar 59 tahun yang lalu atau tepatnya tahun 1961, Abul A’la Al-Maududi diundang oleh kerajaan Saudi Arabia untuk menjelaskan proyek pendirian Universitas Islam Madinah. Dan pada bulan Desember tahun tersebut beliau berangkat ke Riyadh dan menjelaskan ide proyek tersebut kepada para tokoh-tokoh dan ulama yang akan mendirikan universitas. Beliau bermusyawarah dengan mereka hingga kemudian disepakatilah kurikulum Universitas dan Ustad Al-Maududy terpilih sebagai salah seorang anggota majelis (pendiri) Universitas.

Btw, pemikiran Al-Maududi dan Sayyid Qutb teramat mirip. Hal tersebut diakui oleh Al-Maududi sendiri. Bahkan, Al-Maududi merasa lehernya seperti tercekik pada hari Sayyid Qutb dihukum mati oleh diktator Mesir Gamal Abdul Nasir. Namun, jika hari ini kita menanyakan kepada sebagian atau bahkan sebagian besar para penuntut ilmu di Universitas Islam Madinah, mereka dengan bersemangat mengatakan bahwa keduanya adalah sesat menyesatkan.

Salah seorang tokoh Ikhwan Suriah, sejawat Dr. Mushtafa As-Siba’i di fakultas syari’ah Universitas Damaskus; Dr. Muhammad Mubarak menceritakan: “pada akhir tahun 1961, didirikanlah Universitas Islam Madinah, kemudian dibentuklah dewan penasehat tertinggi untuk sistem pendidikan dan kurikulumnya. Anggota dewan tersebut terdiri dari berbagai negara islam yang berbeda dan aku adalah salah seorang anggotanya dimana aku ikut memberikan sumbangsih dalam penyusunan kurikulumnya dan kemudian diterima. Sumbangsihku terhadap dewan penasehat tertinggi ini berlangsung selama 15 tahun.

Di antara tokoh-tokoh Ikhwan dan gerakan Islam lain yang menjadi anggota dewan penasehat tertinggi pendirian Universitas Islam Madinah adalah: Syeikh Muhammad Mahmud As-Shawwaf (Muraqib Am Ikhwan Iraq), Syeikh Ali At-Thantawi, Syeikh Abul Hasan An-Nadawi. Ada juga Mufti Mesir Syeikh Hasanain Makhluf dan Mufti Tunis Imam Thahir Ibnu Asyur serta tokoh-tokoh salafi lain baik dari Saudi, Suriah (Syeikh Bahjar Al-Baithar, Syeikh Albani) dan Ustad Mahmud Yunus dari Indonesia.

Salah tokoh Ikhwan Iraq yang menduduki jabatan penting di Universitas Islam Madinah adalah Syeikh Akram Dhiya Al-Umri. Beliau menjabat sebagai ketua Post-graduate education, ketua majelis ilmi’ selama enam tahun dan tugas-tugas lainnya. Tahun 1996 beliau menerima penghargaan King Faisal Award dari pemerintah Saudi.

Dari Maroko, ada Syeikh Allal Al-Fasi yang diminta oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baz untuk mengajar di Universitas Islam Madinah pada tahun 1968. Beliau tetap mengajar di UIM sampai tahun 1974 hingga kemudian meninggalkan UIM untuk fokus berdakwah di Maroko. Sebagaimana dijelaskan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, Allal Al-Fasi adalah tokoh ulama Maroko yang diharapkan untuk membuka cabang Ikhwan di kota Fez Maroko.

Pengarang kitab ‘Ulama Wa Mufakkirun Araftuhum’ sendiri Syeikh Muhammad Al-Majzub menceritakan bahwa beliau adalah salah satu dosen yang mengabdi di Universitas Islam Madinah semenjak tahun-tahun pertama didirikan Universitas sanpai 20 tahun setelahnya. Beliau juga yang bertanggungjawab sebagai redaktur majalah UIM selama 15 tahun.

Belum lagi tokoh Ikhwan Mesir seperti Syeikh Muhammad Ali Jarisyah dan lain-lain yang mengajar di fakultas syari’ah UIM selama bertahun-tahun atau Syeikh Manna’ Khalil Qathan yang menjadi penguji puluhan risalah doktoral. Tentu, jika kita mendata semua tokoh Ikhwan yang memberikan sumbangsihnya untuk UIM tulisan ini akan sangat panjang. Sudah mafhum bahwa Universitas Islam Madinah pada tahun 70 sampai 90-an didominasi oleh tenaga pengajar non-Saudi. Barulah kemudian setelah perang teluk 2 dimulainya Saudinisasi.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk mengklaim siapa yang paling berjasa membangun UIM. Sejak awal, para direktur UIM adalah para ulama-ulama salafi Saudi yang terbuka untuk menerima masukan dari ulama-ulama Islam berbagai afiliasi dari berbagai negara. Hanya, tahun-tahun terakhir ini, setelah hubungan Ikhwan dan Saudi memburuk, dimulailah dengan gencar serangan terhadap Ikhwan. Padahal, tokoh-tokoh ikhwanlah yang pada awalnya juga ikut merintis UIM. Sekte Salafiyah Jamiyah/Madkhaliyah (yang berkembang di UIM dan kampus-kampus Saudi lainnya paska perang teluk II) pun menemukan kembali panggungnya untuk mentahzir dan membid’ahkan.

REKOMENDASI

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

Teologi Pembebasan dan Konsep Kebertuhanan dalam Pemikiran Hassan Hanafi

Harakah.id - Teologi pembebasan memang merupakan gagasan yang sudah cukup lama bergulir. Tapi demikian, gagasan lontaran Hassan Hanafi ini terbukti memang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...