fbpx
Beranda Khazanah Maqashid Syariah Hadir Untuk Melengkapi Ushul Fikih, Ini Kritik Pemikir Terhadap Ushul...

Maqashid Syariah Hadir Untuk Melengkapi Ushul Fikih, Ini Kritik Pemikir Terhadap Ushul Fikih yang Dinilai Bermasalah

Harakah.idMaqashid Syariah muncul dari banyak dugaan mengenai masalah-masalah yang terdapat dalam Ushul Fikih. Para pemikir metodologi hukum Islam kontemporer menganggap bahwa Ushul Fikih tidak lagi bisa dijadikan metode tunggal dalam ijtihad dan perumusan hukum Islam. Maqashid Syariah dihadirkan untuk melengkapinya.

- Advertisement -

Menurut para pemikir hukum Islam, ada dua keretakan besar dalam Ushul Fikih sebagai sebuah diskursus yang selama ini dipandang sebagai dapur metodologi istinbath hukum; tekstualitas dan historisitas. Lanjutnya, dua masalah inilah yang mendasari mengapa kemudian Maqashid Syariah dijadikan opsi atau alternatif metodis dalam kerja perumusan Hukum Islam.

Baca Juga: Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Tekstualisme Ushul Fikih bermasalah, karena ia 1) meniscayakan munculnya ambiguitas pemaknaan sebuah teks. Ini bisa dimaklumi karena selama ini Ushul Fikih dikenal sebagai diskursus yang meletakkan dominasi fokusnya pada hal-hal yang berbau kebahasaan. Kenyataannya sebagian besar pembahasan dalam Ushul Fikih didominasi oleh pembahasan mengenai jenis dan ragam kalimat. Kalimat ‘am dan khas, mutlaq dan muqayyad, mujmal dan mubayyan dan kategorisasi jenis kalimat lainnya. Akibatnya, bukannya justru menemukan atau menyepakati sebuah makna teks, para ulama justru senantiasa berbeda dalam menentukannya. Ketika bahasa hukum kita sepakati harus mengandung kepastian, maka ruang ambiguitas semacam ini tentu saja tidak cukup sehat bagi sirkulasi proses istinbath hukum.        

Selain itu, tekstualitas dalam Ushul Fikih juga menyebabkan lahirnya 2) cara baca struktural seperti yang diperlihatkan Ushul Fikih sampai hari ini. Yakni cara membaca yang dimulai dari unit paling sederhana dalam sebuah teks. Ini biasa dilakukan kaum santri di pesantren dengan tradisi ‘i’rab, ‘i’lal dan tashrif. Istilah “struktural” sendiri hari ini menjadi madzhab tersendiri dalam filsafat bahasa; strukturalisme dan post-strukturalisme. Modelnya sama, yang pertama kali dilakukan dalam proses membaca adalah aturan close reading, yaitudengan meniti sign, signified dan signifier dalam sebuah teks. Hal ini, menurut beberapa pemikir kontemporer Arab menjadi sebab utama tercerabutnya sebuah teks dari akar konteksnya. Alih-alih ingin mengungkap makna sebenarnya sebuah teks, dengan keterpakuan yang berlebihan pada struktur teks, Ushul Fikih justru mengalienasi sebuah teks dari faktor-faktor sosio-antropologis, bahkan benturan-benturan ideo-politiknya yang membentuknya.

Baca Juga: Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Tak berhenti sampai di sini, Ushul Fikih juga memiliki latar sejarah yang tidak ramah terhadap, apa yang kita kenal hari ini dengan, “kebebasan berpikir”. Ada tiga alasan utama al-Syafi’i merumuskan Ushul Fiqh; 1) munculnya faksi Hijaz dan faksi Iraq yang saat itu memiliki perbedaan orientasi dalam memahami dan merumuskan hukum syariat, 2) penyebaran Islam ke daerah-daerah belahan Dunia lain berimplikasi pada lahirnya fenomana kontaminasi bahasa. Bahasa Arab sebagai media utama untuk memahami al-Qur’an dan Hadis, digerus akibat tubrukan-tubrukan peradaban dan mulai menyusut secara internal. Akibatnya, semakin sedikit orang yang mampu memahami al-Qur’an serta teks-teks keagamaan lain, baik orang Arab sendiri apalagi non-Arab. 3) Perkembangan peradaban ditambah keragaman kondisi sosial lantas melahirkan persoalan-persoalan baru yang belum diakomodir dalam regulasi hukum Islam dan membutuhkan pendekatan atau metode berpikir baru untuk menyelesaikannya.

Banyak sekali yang memuji kejeniusan al-Syafi’i ketika merumuskan metode berpikir bernama Ushul Fikih. Namun tidak sedikit juga yang mengkritisi proyeknya itu. Salah satu argumentasi dari kritik-kritik yang lumrah ditemukan adalah, bahwa apa yang telah dilakukan al-Syafi’i dengan merumuskan metode berpikir dengan sekumpulan kaidah umum, secara tidak langsung berdampak pada menyempitnya peran akal, probabilitas maslahah dan metode-metode lainnya. Selain itu, ia juga berdampak pada pemosisian nash sebagai rujukan yang paling otoritatif dalam hukum Islam.

Ada sebuah kaidah yang berbunyi, “anna al-hukm al-syar’i yaduru ma’a ‘illatihi” (sesungguhnya peredaran atau kelahiran sebuah hukum terkait erat dengan ‘illatnya [bukan illatnya]). Bagi al-Jabiri kaidah ini adalah gambaran bagaimana proses perumusan Ushul Fikih beriringan sekali tepuk dengan proses penyempitan ruang berpikir. Hikmah atau maslahah ditutup sebagai metode karena akan melahirkan ruang probabilitas. Maslahah bagi anda dan maslahah bagi saya bisa saja berbeda. Apa yang baik menurut si A dan si B bisa saja juga berbeda. Ada banyak faktor pendorong tentunya.

Baca Juga: Tidak Tahunya Ulama Itu Berkah, Penjelasan Gus Baha Soal Sikap Sok Tahu Segalanya dalam Berfatwa

Intinya, secara historis, Ushul Fikih pada hakikatnya memang merupakan proyek institusionalisasi dari cara berpikir monolitik yang menjadikan nash sebagai porosnya dan mengurangi konstribusi akal dalam perumusan hukum Islam. Ini belum lagi ditambah dengan unsur-unsur ideologis-politis yang kerap mewarnai kelahiran Ushul Fikih sebagai sebuah diskursus.

Dinamika problematika terus bergerak seiring bergeraknya masa. Dengan beberapa uraian problem internal diskursus Ushul Fikih, problematika tersebut terkadang tidak mampu direspon dengan cepat dan jitu. Akibatnya, banyak sekali hambatan-hambatan, khususnya dalam hal legitimasi hukum, sehingga umat Muslim turut lamban dalam mengantisipasi dan beradaptasi dalam dunia yang semakin mutakhir. Dibutuhkan satu metode alternatif, di luar Ushul Fikih, yang memiliki kekuatan penopang dalam kerja perumusan hukum Islam. Maqashid Syariah merupakan salah satu pintu yang paling terbuka lebar.

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...