fbpx
Beranda Khazanah Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.idMaqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri. Maqashid Syariah dipertimbangkan agar hukum yang dirumuskan sesuai dengan sasaran syariat dan sesuai dengan tuntuan Allah dan Rasulnya.

- Advertisement -

Maqashid Syariah merupakan orientasi yang selalu ditagah dalam setiap kerja ijtihad. Seorang mujtahid selalu berusaha menangkap maksud dari dalil-dalil hukum yang ditimba dari al-Quran dan Hadis. Proses ijtihadnya seorang mujtahid dan kemampuannya menangkap Maqashid Syariah menjadi kunci dalam pemutusan dan perumusan sebuah hukum.

Baca Juga: Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Ada dua kata yang menjadi tumpuan awal untuk memahaminya; “maqashid” dan “syariah”. Kata “maqashid” merupakan jamak atau plural dari kata “maqshad” yang merupakan derivasi dari kata “qashada-yaqshudu”. Secara etimologi, kata “maqshad” bermakna yang berarti niat, kehendak, maksud dan tujuan. Sedangkan syariah berarti jalan atau retakan kecil tempat mengalirnya air. Secara terminologi syariah adalah segala ketentuan allah yang disyariatkan kepada hamba-Nya yang mencakup akidah, akhlak, ibadah dan muamalah.

Maka secara umum, pengertian Maqashid Syariah ditinjau dari kedua makna terminologis di atas adalah maksud dan tujuan di balik seluruh ketentuan yang Allah SWT tetapkan dan syariatkan kepada hambanya. Tentu saja definisi mengenai Maqashid Syariah beragam di kalangan para teoritikusnya. Namun secara umum dan garis besar, ia tidak jauh dari visi untuk menemukan rahasia dan tujuan hakiki di balik syariat itu sendiri.

Perbedaan definisi Maqashid Syariah berkaitar erat dengan perkembangannya sebagai sebuah diskursus baru. Menurut al-Raysuni dan Ibn Asyur, embrio munculnya Maqashid Syariah sebenarnya sudah muncul sebelum al-Syatibi. Beberapa Ulama seperti Hakim al-Tirmidzi, al-Ghazali, al-Juwayni dan al-Thufi sebenarnya sudah memperlihatkan riak-riak munculnya Maqashid al-Syariah.

Namun secara sistematis, Maqashid Syariah memang baru dimulai di tangan al-Syatibi melalui kitab monumentalnya berjudul al-Muwafaqat. Selain al-Ghazali bersama al-Mustashfa nya dan Ibn Hazm bersama al-Ihkam di Ushul al-Ahkam nya, Al-Syatibi dan al-Muwafaqat nya oleh banyak ulama dipandang sebagai sebuah peralihan yang sangat krusial dan menentukan dalam geliat kajian metodologi hukum Islam.

Bagi al-Jabiri misalnya, salah seorang pengkaji epistemologi asal Maroko, al-Syatibi dianggap telah berhasil melakukan refondasionalisasi terhadap Ushul al-Fiqh, yang awalnya berupa bangunan al-mumatsilat al-qiyasiyah al-dzanniyah (logika analogi dalam qiyas yang bersifat relatif) dalam kerangka epistemologi bayani, menjadi bangunan al-mumarasat al-istidlaliyah al-qath’iyyah (praktek referensial yang bersifat mutlak) dalam tataran epistemologi burhani. Artinya, bagi al-Jabiri, al-Syatibi adalah salah seorang tokoh yang bukan hanya menyulut revolusi dalam kajian Ushul al-Fiqh, ia juga menjadi momentum peralihan nalar Islam-Arab dari kerangka bayani menuju kerangka burhani. Rasyid Ridha pun ketika memberikan muqaddimah bagi al-Isti’sham memberikan sebuah pujian kepada al-Syatibi, “qalilun minka yakfiini wa lakin qaliluka la yuqalu lahu qalil

Kontribusi mendasar al-Syatibi dan “al-Muwafaqat” dan perkembangan diskursus Ushul al-Fiqh, bisa disederhanakan menjadi tiga poin; pertama, dapat menjembatani antara “aliran kanan” dan “aliran kiri”. “Aliran kanan” yang dimaksud adalah mereka yang tetap teguh berpegang pada konsep-konsep Ushul al-Fiqh sedangkan “aliran kiri” adalah mereka yang terakhir ini vokal dengan idenya tajdid Ushul al-Fiqh. Kedua, model pendekatan Imam Syathibi dalam buku ini akan lebih menghasilkan produk hukum yang dalam istilah Ibnu Qayyim, al-fiqh al-hayy, fikih yang hidup. Karena itu, fikih yang terlalu textbook yang sering diistilahkan dengan fiqh ushuly akan berubah menjadi fiqh maqashidy.

Baca Juga: Ijtihad Muhammad Abduh yang Tak Selalu Langsung Quran-Sunnah

Secara umum, apa yang hendak ditegaskan oleh al-Syatibi dalam “al-Muwafaqat” adalah bahwa disyariatkannya hukum Allah SWT adalah untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Dari visi inilah kemudian lahir beberapa kata kunci yang menjadi pokok bahasan dalam “al-Muwafaqat”, berikut kata kunci yang menjadi poros perkembangan Maqashid al-Syariah hingga hari ini. Yaitu: maslahah, ‘illat dan hikmah.

Maqashid al-Syariah sejatinya dikembangkan dari konsep Maslahah Mursalah yang sudah dikenal lama dalam Ushul al-Fiqh. Munculnya lima neraca timbang maslahah; menjaga jiwa, harta, agama, martabat dan akal, sampai saat ini masih diletakkan sebagai ukuran untuk menentukan kemaslahatan. Ia juga dikembangkan dari konsep ‘illat dan hikmah. Buku yang paling menarik membahas ‘Illat secara kompeherensif menurut saya (sejauh buku-buku yang saya baca terkait hal itu), adalah karya Salim Yafut, salah seorang murid Muhammad ‘Abid al-Jabiri. Buku yang merupakan disertasi doktoral itu membahas hal-hal seputar isykaliyyah al-ta’lil fi al-Islam. Pada hakikatnya, menurut Yafut, ‘illat adalah hikmah. Namun, di kalangan Ushuliyyun, illat adalah sifat yang dibenamkan oleh syari’ dalam hukum asal (al-ashl), dan harus diberlakukan kepada hukum cabang (al-far’u) jika ditemukan sifat tersebut.

Setelah al-Syatibi membangun pondasi Maqashid Syariah, barulah muncul lagi beberapa ulama yang meneruskan upaya untuk mensistematisasi bibit diskursus baru ini. Ibn Asyur, Nuruddin Al-Khadimi dengan kitabnya al-Ijtihad al-Maqasidi, Allal al-Fasi, al-Raysuni hingga yang paling mutakhir; Jaser Auda, adalah beberapa tokoh yang dikenal getol menyuarakan Maqashid Syariah. Seluruhnya adalah tokoh yang fokus pada pengembangan dan pengaplikasian Maqashid Syariah.

Baca Juga: Ada Anggota Tubuh yang Wajib Ditutup dan Ada yang Wajib Dibuka, Begini Penjelasan Muhammad Syahrur Tentang Aurat

Menurut Jaser Auda misalnya, Maqashid Syari’ah adalah prinsip-prinsip yang menyediakan jawaban untuk problematika yang dihadapi hukum Islam. Maqashid mencakup hikmah-hikmah di balik hukum, seperti meningkatkan kesejahteraan sosial sebagai salah satu hikmah di balik zakat, meningkatkan kesadaran akan kehadiran Allah SWT sebagai salah satu hikmah di balik puasa.

Maqashid juga menjadi tujuan-tujuan baik yang ingin dicapai oleh hukum-hukum Islam, dengan membuka sarana menuju kebaikan (fath al-dzara’i) atau menutup sarana menuju keburukan (sad al-dzara’i). Maqashid dimaknai pula sebagai sekumpulan maksud ilahiah dan konsep-konsep moral yang menjadi dasar hukum Islam, seperti, keadilan, martabat manusia, kebebasan berkehendak, kemurahan hati, kemudahan, dan kerja sama masyarakat. Maqashid merepresentasikan hubungan antara hukum Islam dengan ide-ide terkini tentang hak-hak asasi manusia, pembangunan, dan keadaban.

Auda juga dikenal sebagai teoritikus yang meletakkan Maqashid dalam kerangka filsafat sistem. Menurutnya, ada lima fitur utama dalam hukum Islam; kognisi, holistik, keterbukaan, multidimensi dan kebermaksudan. Dari kelimat fitur ini, Maqashid Syariah menempati posisi sebagai inti dan ruh dari fitur kebermaksudan. Dengan memandang Maqashid Syariah melalui pendekatan sistem, Auda memperlihatkan bahwa metodologi hukum Islam senantiasa dinamis dan berkembang menyesuaikan.

Baca Juga: Sejarah Bermadzhab, Sejak Kapan Keberagamaan Umat Muslim Harus Ikut Imam dan Diacu Kepada Madzhab-Madzhab

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...