Beranda Khazanah Maqasid Syariah, Ibnu Asyur dan Cara Agar Islam Bisa Tampil Rahmatan Lil...

Maqasid Syariah, Ibnu Asyur dan Cara Agar Islam Bisa Tampil Rahmatan Lil Alamin

Harakah.idUniversalitas syari’at Islam dalam pandangan Ibn ‘Asyur tidak diposisikan sebagai target pencapaian syari’ah, melainkan diposisikan sebagai cara penerapan maqashid syari’ah sehingga dalam ranah teknisnya benar-benar dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Saya akan mereview sebuah artikel berjudul The Maqasid Thought of Ibn ‘Ashur and Development of Interdisciplinary Islamic Studies: Searching for the Correlation of the Concept.

Selama ini, kita mengenal Islam sebagai salah satu dari beberapa agama yang dianut oleh manusia di dunia ini. Namun sejatinya, Islam tidak hanya sekedar menjadi agama semata, Islam adalah ilmu pengetahuan dengan al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utamanya. Dari keduanya lahirlah berbagai macam disiplin ilmu, seperti: ilmu akidah, fiqh, ushul fiqh, tasawuf, ilmu kalam, ilmu hadis, dan lain sebagainya.

Berbagai disiplin ilmu dalam Islam memiliki karakteristiknya masing-masing. Untuk menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri, suatu ilmu harus berproses melalui beberapa fase, mulai dari masa pembentukan hingga mencapai masa kontemporer, sampai akhirnya menjadi disiplin ilmu yang mandiri dan menjadi pendekatan baru.

Salah satu disiplin ilmu yang lahir adalah maqashid. Maqashid dapat menjadi akar dari interdisipliner studi Islam, karena interdisipliner dalam studi Islam sebenarnya telah dilakukan oleh para ulama Islam terdahulu atau klasik. Studi Islam Interdisipliner sendiri merupakan pengembangan dan penjabaran dari tiga topik yaitu pendekatan filsafat, sosiologi dan sejarah yang penekanannya lebih diarahkan pada aspek aplikasinya. Pendekatan interdisipliner memberikan peluang untuk mendukung ilmu-ilmu yang dapat membantu memahami Islam secara lebih komprehensif. Pada tulisan kali ini penulis akan mengulas sebuah artikel jurnal yang membahas tentang pemikiran dari sosok ulama yang diberi gelar “muallim ats-tsani”, bapak maqashid kedua, Ibn ‘Asyur.

Biografi Singkat

Namanya adalah Muhammad at-Tahir bin Muhammmad bin Muhammad Tahir bin Muhammad bin Muhammad Syazili bin ‘Abd al-Qadir bin Muhammad bin ‘Asyur atau yang lebih masyhur dikenal dengan nama Ibn ‘Asyur. Baliau dilahirkan di kota Mousha, yang terletak di sebelah utara Tunisia pada tahun 1296 H atau 1879 M. Keturunan keluarga ‘Asyûr adalah keluarga yang terhormat di Tunis, karena memiliki posisi ilmiah dan jabatan di pemerintahan. kakeknya yaitu Muhammad Tahir bin Muhammad bin Muhammad Syazili adalah seorang ahli nahwu, ahli fikih, dan pernah menjabat sebagai ketua qadhi di Tunisia pada tahun 1851 M dan menjadi mufti negara pada tahun 1860 M.  Berangkat dari latar belakang yang demikianlah Ibn ‘Asyur tumbuh menjadi sosok yang mencintai ilmu pengetahuan. Pendidikanya sangat diperhatikan oleh ayah, ibu, dan kakeknya. Keluarganya menginginkan keturunan mereka menjadi orang yang terhormat sebagaimana nenek moyang mereka.

Ibn ‘Asyur memulai perjalanan akademiknya di usia 6 tahun dengan dengan belajar Al-Qur’an. Ibnu Asyur memulai petualangan barunya dengan melanjutkan pendidikan di Universitas Zaitunah, Tunisia. Di Zaitunahlah, beliau banyak belajar keilmuan sampai menjadi ahli dalam berbagai bidang keilmuan. Ibnu ‘Asyûr diangkat sebagai mudarris tingkat dua mazhab Maliki di masjid az-Zaitunah pada tahun 1320 H/ 1903 m. Kemudian menjadi mudarris tingkat pertama pada tahun 1905 M. Dan pada tahun 1905 M sampai 1913 M beliau mengajar di Perguruan Sadiqi. Selanjutnya beliau terpilih menjadi wakil inspektur pengajaran di Masjid Zaitunah pada tahun 1908 M sekaligus menjadi anggota dewan pengelola perguruan Sadiqi.

Ada dua fase kehidupan yang terdapat dalam diri Ibnu Asyur, dimana fase pertama kehidupannya dilalui dengan terjadinya berbagai peristiwa besar di dunia Islam, seperti melemahnya imperium kekhalifahan Turki Utsmani yang menyebabkan terjadinya penjajahan di negara-negara timuroleh negara-negara Eropa. Dari pahitnya penjajahan tersebutlah Ibn ‘Asyur tergerak untuk bangkit melawan dan ditambah pula masuknya pengaruh pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh tentang reformasi Islam.

Fase yang kedua adalah pasca kemerdekaan. Dalam fase ini, Ibnu Asyur mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya dalam dunia pendidikan. Selain menjabat staf pengajar resmi di universitas, beliau juga menjabat sebagai Hakim Agung mazhab Maliki dan Mufti Agung Tunisia pada tahun 1926 M. Kecemerlangan karirnya juga membawanya turut aktif dalam dunia internasional seperti anggota Majma‘ Lughah  al-Arabiyah di Kairo Mesir pada 1940 M, anggota utusan Majma‘ al-‘Ilmi al-‘Arabi di Damaskus pada tahun 1955 M. Pada tahun 1913 M, beliau diangkat menjadi qadi (hakim) mazhab Maliki dan pada tahun 1927 M, beliau juga diangkat menjadi pemimpin mufti  mazhab Maliki di Tunisia.

Ibnu Asyur adalah satu diantara ulama besar Islam yang mempunyai kiprah besar dalam dunia Islam. Yang tidak hanya menguasai satu disiplin keilmuan saja, tetapi juga menguasasi disiplin keilmuan di bidang lainnya. Lewat karyanya yang bernama Maqasid Syari’ah Islamiyah dan at-Tahrir wa Tanwir, Ibnu Asyur menjadi salah satu tokoh penting dalam diskursus Maqasid Syari’ah dan Tafsir. Ibn ‘Asyur wafat pada tahun 1393 H atau 1973 M dengan meninggalkan berbagai harta karun dan pemikiran lewat karya-karya yang diulisnya dalam berbagai macam disiplin ilmu seperti tafsir, Maqasid Syari’ah, dan lain sebagainya. Berbagai karya tulis itulah, menjadi hukti akan luasnya keilmuan yang ia miliki.

Kontribusi Ibnu ‘Ashur dalam mengembangkan ilmu maqashid tercakup dalam tiga hal, pertama pemikiran Ibnu ‘Ashur dan kontribusinya dalam mengembangkan ilmu maqashid mengenalkan kembali kajian Maqasid al-syari’ah setelah masa stagnasi, mengembangkan maqasid al-syari’ah menjadi lebih holistik (Universal-Partial), dan menjadikan kajian maqasid sebagai ilmu yang mandiri.

Bapak Maqasid Kontemporer, begitulah gelar yang disematkan kepada Ibn ‘Asyur. Seorang cendekiawan muslim yang berhasil menghidupkan kembali obor maqashid yang padam selama 6 abad melalui karyanya yang monumental Maqasid asy-Syari’ah al-Islamiyyah. Maqashid asy-syari’ah telah dikenal sebagai paradigma hukum Islam sejak Islam mulai eksis dengan hukum syari’atnya. Namun dari segi konsep keilmuan, pemikiran maqasid al-syari’ah baru saja terbangun secara sistematis sebagai sebuah disiplin ilmu di tangan al-Shatiby (w. 790 H) melalui kitabnya al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-syari’ah. Prestasi ini membuat al-Shatiby dikenal dunia sebagai bapak pertama maqashid al-syari’ah. Sedangkan melalui bukunya maqasid al-shari‘ah al-Islāmiyyah, telah berhasil mengembangkan maqasid dengan menyempurnakan konsep maqasid al-shari‘ah milik asy-Syatiby.

Lebih jauh lagi, Ibn ‘Asyur bahkan menjadikan maqashid al-syari’ah sebagai disiplin ilmu yang mandiri. Beliau meyakini bahwa semua hukum syari’at harus memuat maksud dan tujuan syari’ dalam bentuk hikmah dan kemaslahatan. Secara makro, hukum syari’at mengandung tujuan global, yaitu memelihara ketertiban umat dan melanggengkan kemaslahatan bagi mereka.

Di tangan Ibn ‘Asyur, konsep maqasid al-syari’ah menjadi lebih universal. Cakupan maqasid dengan konsep Maqasid ‘Ammah Ibn’ Asyur menjadikan wacana kajian Maqasid lebih luas. Pengklasifikasian yang dilakukan oleh Ibn ‘Ashur terhadap maqasid al-syari’ah menjadi Maqasid ‘Ammah dan Maqasid Khassah membawa ilmu maqasid ke tahap yang lebih maju dalam kajian pemikiran Islam. Konsep ini merupakan salah satu pemikiran asli Ibn ‘Asyur yang belum pernah ditemui sebelumnya.

Maqashid ‘ammah yang bersifat universal, dalam arti tujuan ini tidak khusus untuk umat Islam, tetapi konsep ini juga dapat diterapkan pada manusia dan alam semesta secara keseluruhan. Dalam Ibn ‘Asyur universalitas syari’at dapat diterima oleh manusia secara keseluruhan. Universalitas syari’at Islam dalam pandangan Ibn ‘Asyur tidak diposisikan sebagai target pencapaian syari’ah, melainkan diposisikan sebagai cara penerapan maqashid syari’ah sehingga dalam ranah teknisnya benar-benar dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam semua kajian pemikiran Islam, Ibnu ‘Ashur menggunakan ilmu maqashid sebagai landasan teorinya. Sebagaimana dapat ditemukan dalam pemikiran Ibn ‘Ashur dalam berbagai bukunya, seperti al-Tahrir wa al-Tanwir (bidang tafsir), Usul al-Nizam al-Ijtima’iy fi al-Islam (bidang sosial) dan Alaysa al-Subh bi Qarib (bidang pendidikan). Ibnu ‘Ashur memaparkan pemikiran Islam dalam bidang tafsir, masyarakat sosial dan pendidikan dalam perspektif ilmu maqashid berdasarkan empat prinsip maqasidnya yang sangat populer, yaitu al-Fitrah, al-Samahah, al-Musawah dan al-Hurriyyah.

Terdapat korelasi antara pemikiran maqashid Ibnu ‘Ashur dengan kajian Islam interdisipliner, dimana dalam keempat bukunya ilmu maqasid digunakan sebagai pendekatan dalam kajian Islam pada tiga tema:

  1. Ilmu maqasid dalam kajian tafsir. Dalam tema ini beliau menegaskan keabsahan tafsir bi al-ra’yi, selain itu metodologi tafsir yang berlandaskan maqashid, melalui kitab al-Tahrir wa al-Tanwir Ibn ‘Asyur juga menetapkan tujuan al-Al-Qur’an diturunkan (Maqasid al-Qur’an) sebagai teori yang harus dipahami oleh penafsir dalam proses menafsirkan al-Qur’an.
  2. Ilmu maqasid dalam pemikiran pendidikan. Dalam tema ini beliau merasa sistem pendidikan di dunia Islam tidak bisa membawa kemajuan bangsa. Beliau ingin mengubah sistem pengajaran konservatif menuju pendidikan yang mengadopsi kemajuan-kemajuan yang terjadi di zaman modern ini. Ibnu ‘Asyur memberikan konsep hurriyah (kebebasan) sebagai salah satu prinsip dasar maqashid yang bersinggungan langsung dengan dunia pendidikan. Hurriyah sendiri terbagi menjadi Hurriyyah al-Aqwal (kebebasan berpendapat), Hurriyyah at-Ta ‘lim (kebebasan mengajar), Hurriyyah at-Ta’lif (kebebasan menulis), dan Hurriyyah al-Fikr (kebebasan berfikir).
  3. Ilmu maqashid dalam masyarakat sosial. Ibnu ‘Asyur dalam kitabnya Ushul al-Nizam Ibn ‘Ashur membagi maqasid agama untuk memperbaiki keadaan (islah) menjadi dua bagian utama, yaitu al-Islah al-Fardiy (perbaikan individu) dan al-Islah al-Ijtima’iy (perbaikan masyarakat). Dalam pengantar kitabnya, Ibnu ‘Ashur lebih banyak menjelaskan tentang peran agama dalam memperbaiki kondisi suatu umat yang dalam hal ini menjadi pokok bahasan perubahan al-Qur’an.

Ada beberapa faktor yang memperngaruhi pemikiran Ibn ‘Asyur, antara lain:

  1. Faktor Pribadi: sebagai seorang akademisi, beliau memiliki kemampuan unntuk menganalisa dan memahami dengan seksama masalah dan kelemahan yang dia temui. Kemudian hati nuraninya mendorongnya untuk memikirkan jalan reformasi pendidikan. Apa yang dia pikirkan tentang ide dan pandangannya tentang pendidikan, kemudian dia tuangkan ke dalam karya-karyanya.
  2. Faktor Lingkungan: Ibn ‘Asyur menemukan momentum untuk mempersiapkan reformasi yang digagasnya menjadi lingkungan dan tempat yang mendukung. Di kampus ia bertemu dengan guru-guru yang memiliki semangat reformasi dan dukungan dengan adanya beberapa wacana reformis yang dilakukan oleh beberapa politisi reformis, seperti pendirian sekolah militer yang digagas oleh Ahmad Bay pada tahun 1840 M.
  3. Faktor Eksternal: pengaruh Muhammad ‘Abduh, pengaruh gerakan reformasi di Tunisia sendiri, kesadaran para tokoh dan ulama berpengaruh untuk mereformasi sistem pendidikan, pengaruh pemikiran Ibn Khaldun, pengaruh filsafat Yunani seperti pemikiran Plato, Socrates, dan Aristoteles.

Refleksi Atas Pemikiran Ibnu ‘Asyur

Dari artikel jurnal yang berjudul The Maqasid Thought of Ibn ‘Ashur and Development of Interdisciplinary Islamic Studies: Searching for the Correlation of the Concept, penulis dalam penelitiannya tersebut berhasil memaparkan maqashid yang dibawa oleh Ibnu Asyur dengan sangat baik. Hal tersebut dapat dilihat dari sistematika dan sub-sub pembahasan yang dipilih membuat pembaca dapat memahami dari awal unculnya maqashid sampai penerapan maqashid sebagai pendekatan ilmu pengetahuan.

Imam Ibnu ‘Asyur punya memiliki karakter yang sangat kuat pengaruh dan pemikirannya. Sebab dari konsep maqashid baru yang ia ciptakan berhasil menciptakan sebuah disiplin ilmu baru yang manfaatnya sangat serasa, terlebih di dunia akademik. Seperti yang banyak kita lihat, berbagai macam penelitian menggunakan pendekatan maqashid. Tidak hanya iu, ketika orng-orang awwam memahami konsep maqashid ini pun mereka akan merasa memiliki tujuan baru, sehingga mereka akan lebih baik lagi dalam menjalankan kewajiban sebgai seorang hamba. Ketika pemikiran-pemikiran tersebut diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat pun saya kira tidak ada hal buruk yang akan terjadi.

Sependek dari yang saya ketahui tentang pemikiran Ibnu ‘Asyur, beliau adalah cendekiawan reformis Islam yang sangat luar biasa. Sebab beliau punya konsep sendiri dalam melakukan pembaharuan dan reformasi. Beliau juga tidak radikal. Justru pemikirannya memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi umat Islam.

Artikel kiriman dari Hanifah Muwakhidatul Ummah, Mahasantri International Institute for Hadith Sciences Darus Sunnah, Ciputat

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...