fbpx
Beranda Gerakan Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang...

Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala Soekarno

Harakah.id Tuduhan bahwa Marxisme dan Sosialisme selalu melahirkan Komunisme dan Atheisme sebenarnya kurang tepat. Buktinya Soekarno, seorang pembaca marxis dan seorang sosialis, tetap bertuhan, menjadi Islam dan dikenal dekat dengan para Kiai.

- Advertisement -

Dalam “Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme”, selain memilah dan mengganti pondasi referensial dari paham Nasionalisme berikut gerakannya, Soekarno, dalam usahanya untuk menyatukan tiga kelompok besar di Indonesia, juga melakukan hal serupa ketika membaca Marxisme. Bagi Soekarno, Marxisme merupakan ideologi tempatnya tumbuh dan berkembang. Namun, menjadi seorang marxis bagi Soekarno bukan berarti menjadi seorang komunis yang meniscayakan penyingkiran terhadap nilai-nilai keagamaan dan kultural yang transenden. Dibanding disebut sebagai seorang komunis, Soekarno lebih menyebut dirinya sebagai seorang sosialis;

Baca Juga: Alasan Kiai Saifuddin Zuhri Menolak Keputusan Soekarno Tentang Pembubaran HMI

Kuulangi bahwa aku seorang sosialis. Bukan komunis. Aku tidak akan menjadi komunis. Aku tidak akan menjadi seorang simpatisan komunis. Masih saja ada orang yang berpikir bahwa sosialisme sama dengan komunisme. Mendengar kata sosialis mereka tak dapat tidur. Mereka melompat dan berteriak, “Aha, aku tahu! Bung Karno seorang komunis!” Tidak, aku bukan komunis. Aku seorang sosialis. Aku seorang beraliran kiri.

Orang kiri adalah mereka yang menghendaki perubahan kekuasaan kapitalis yang ada, orde imperialistis. Keinginan untuk menyebarkan paham keadilan sosial adalah kiri. Dia tidak perlu komunistis. Seseorang yang memiliki idealisme seperti itu adalah seorang kiri. Bahkan orang kiri tampak aneh bila bersama dengan orang komunis. Kiri-phobi, penyakit takut akan cita-cita kiri, adalah penyakit yang kutentang habis-habisan, seperti juga Islamophobi.

Nasionalisme tanpa keadilan sosial adalah nihilisme. Bagaimana suatu negeri yang miskin dan sangat buruk seperti negeri kami dapat menganut suatu aliran selain sosialisme?” (Adams, 1965: 78)

Dalam tiga paragraf hasil wawancara Cindy Adams di atas, Soekarno setidaknya mengulang tiga kali pernyataan bahwa beliau bukanlah seorang komunis melainkan seorang sosialis. Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai paham Marxisme terkait dua istilah yang disebutkan tadi. Yang menjadi penting pada pembahasan kali ini adalah sejauh mana Soekarno membaca Marxisme sebagai sebuah ideologi pergerakan, melakukan kritik lalu mengolahnya menjadi salah satu bumbu utama dalam hidangan gerakan revolusi kebangsaan di Indonesia.

Apa yang bisa diistifadahi dari Marxisme adalah sikap dan kehendak menuju perubahan dari kekuasaan yang kapitalistik dan imperialistik menuju kedaulatan rakyat. Bagi Soekarno, nilai itulah yang menjadi pondasi dasar mengapa setiap gerakan kiri selalu mengandaikan adanya keadilan sosial. Di sini Soekarno tidak menjelaskan misalnya detail konsep-konsep dalam Marxisme yang materialistik dan dialektik. Mengapa? Karena dalam konteks revolusi di Indonesia, keduanya tidak terejawantah bulat sebagaimana yang dirumuskan oleh Karl Marx.

Baca Juga: Soekarno, Kiai Basari Sukanegara dan Ayam Panggang Bumbu Kemiri

Di samping itu, Soekarno tidak memposisikan dirinya sebagai teoritikus marxis yang mati-matian berjualan teori-teori Marxisme. Dengan caranya sendiri, Soekarno mengunyah apa yang dibacanya lalu diungkapkan dalam bahasa yang mudah, kontekstual, visioner serta provokatif. Marxisme di tangan Soekarno menjadi senjata yang lebih kecil namun jauh lebih tajam; ia tidak konfrontatoif, apalagi brutal, tapi mampu membunuh musuhnya dalam satu tikaman halus. Inilah yang kemudian menjadikan Soekarno berbeda dengan Alimin maupun Semaun. Dua pentolan PKI yang notabene adalah guru marxisnya (Adams, 1965: 40).

Dengan memahat dasar filosofis gerakan Marxisme yang materialistik dan dialektik, Soekarno secara tidak langsung telah membuka peluang setidaknya pada dua wilayah: satu wilayah di mana gerakan kiri akan dipandang sama sebagaimana gerakan-gerakan Nasionalisme pada umumnya. Karena banyak orang yang sudah terlampau salah kaprah dengan menyamakan sosialisme ala-Soekarno dengan gerakan-gerakan komunis-marxis secara umum. Di sisi yang lain, dengan melakukan perombakan semacam itu, Soekarno sejatinya telah memulai agenda pencangkokan Marxisme dengan dengan kelompok gerakan lainnya termasuk Nasionalisme dan Islamisme, yang sebelumnya dianggap mustahil karena memiliki jurang perbedaan yang cukup dalam.

Sekali lagi, apakah layak kreatifitas pembacaan Soekarno tersebut kita sebut sebagai sebentuk pemahaman instrumental? Bagaimana bisa instrumentalisasi semacam ini menghasilkan sebuah karya agung berupa pergerakan dan revolusi kebangsaan yang khas, yang dengan percaya dirinya Soekarno menyebutnya sebagai model gerakan revolusi “nasional ke-Timur-an”? (Soekarno, 1926: 19)

Marx dan Engels bukanlah nabi-nabi, jang bisa mengadakan aturan-aturan jang bisa terpakai untuk segala zaman. Teori-teorinja haruslah diobah, kalau zaman itu berobah; teori-teorinja haruslah diikutkan pada perobahannja dunia, kalau tidak mau mendjadi bangkrut. Marx dan Engels pun mengerti akan hal ini; mereka sendiri pun dalam tulisan-tulisannja sering menundjukkan perobahan faham atau perobahan tentang kedjadian-kedjadian pada zaman mereka masih hidup.” (Soekarno, 1926: 20)

Marxisme, dengan demikian, meniscayakan lahirnya Nasionalisme. Hal itu tak lain karena ”modal di Indonesia itu kebanjakannja jalah modal asing, dan oleh karena budi perlawanan itu menumbuhkan suatu rasa tak senang dalam sanubari kaum-buruhnja rakjat di “bawah” terhadap pada rakjat jang di “atas”-nja, dan menumbuhkan suatu keinginan pada nationale machtspolitiek dari rakjat sendiri” (Soekarno, 1926: 20). Seorang marxis sejati adalah seorang nasionalis, sekaligus islamis.

Kesan negatif yang orang-orang tancapkan terhadap Marxisme sehingga ia dihindari, dicibir dan menerima banyak tuduhan, merupakan dampak dari gerakan anti-Marxisme di Eropa. Soekarno menjelaskan bahwa propaganda yang dilakukan oleh kaum kapitalis Eropa untuk menebang pergerakan kaum marxis, salah satunya ialah melalui agenda “ditukar-tukarkan”nya atau “dikelirukan satu sama lain” antara “histori-materialisme” dan “wijsgerig-materialisme”; dua konsep yang menurut Soekarno sama sekali tidak menunjukkan Marxisme sebagai sebuah gerakan “jang mengadjarkan bahwa fikiran itu hanjalah suatu pengeluaran sahadja dari otak, sebagai ludah dari mulut dan sebagai empedu dari limpa” dan gerakan “jang menjembah benda, suatu kaum jang bertuhankan materi.” (Soekarno, 1926: 21)

Baca Juga: Jauh Sebelum Pancasila, Soekarno Terlebih Dahulu Berpikir Tentang Nasionalisme

Konteks yang mendorong Marxisme melakukan perlawanan terhadap agama [gereja] di Eropa adalah dalil-dalil keagamaan, yang pada waktu itu dipakai oleh kalangan pemilik modal sebagai alat legitimasi bagi pola kerja Kapitalisme dan kepentingan untuk membela “kaum atasan”. Oleh karena itu, bagi Soekarno, menjatuhkan kebencian terhadap agama [Islam] untuk konteks keindonesiaan adalah persepsi yang salah dan ahistoris. Karena di Indonesia, “Islam adalah agama kaum jang tak merdeka; di sini agama Islam adalah agama kaum jang di-“bawah”. Sedang kaum yang memeluk agama Kristen adalah kaum jang bebas; di sana [Eropa] agama Keristen adalah agama kaum jang di-“atas”” (Soekarno, 1926: 21). Jika kita hendak mengikuti pola warisan sejarah Marxisme itu sendiri, justru yang harus dilawan adalah Kristen bukan Islam. Ini kalau mau main asal comot-comotan. Tapi kan tidak seperti itu juga?!

Dengan memahami duduk kesejarahan semacam ini, Soekarno merasa yakin bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang cukup kentara antara Marxisme dan Islamisme. Dengan memperjelas titik silang-sengketa dua ideologi besar tersebut, Soekarno juga yakin kaum marxis akan “mengadjukan tangannja, sambil berkata: saudara, marilah kita bersatu!” (Soekarno, 1926: 22). Dan pada akhirnya kita tidak menemukan apa-apa dalam Islamisme dan Marxisme kecuali kesatuan visi dan misi.

Bagi Soekarno, memahami Marxisme dari sudut pandang semacam ini sudah cukup memberikannya celah dan kesempatan untuk melakukan operasi integrasi dalam konteks gerakan revolusi kebangsaan di Indonesia. Soekarno tidak merasa butuh atau penting misalnya, mengkaji dan mempelajari Marxisme detail sedetail-detailnya sampai akar-akarnya. Karena memang yang relevan bagi Soekarno adalah bagaimana menanamkan asas Marxisme sebagai sebuah gerakan kiri-revolusi yang terkenal di dunia, lalu mendialogkannya dengan gerakan-gerakan lainnya di Indonesia.

Oleh karena itu, pernyataan Dhaniel Dhakidae bahwa “tidak mau mendalaminya Soekarno terhadap Marxisme sebagai sebuah academic passion merupakan suatu kesalahan, yang baginya kerap menimbulkan kesalahan-kesalahan kecil dalam tulisan-tulisannya” merupakan pernyataan yang mesti kita timbang-timbang. Justru sebaliknya, ketertanaman berlebih seseorang pada sebuah teori akan membawanya pada absolutisme dan okultisme diskursif, yang pada akhirnya akan menumpulkan pisau kritisisme dan kesadaran historisnya. Ini kemungkinan pertama.

Baca Juga: Ketika Sidang Konstituante Tidak Menghasilkan Titik Temu, Para Ulama Memilih Ikuti Dekrit Presiden Soekarno

Kemungkinan kedua, Soekarno merupakan seorang pembaca yang sudah menghatamkan seluruh konsep fundamental Marxisme. Karena tidak mungkin Soekarno mampu melakukan refondasionalisasi, kritik sekaligus internalisasi Marxisme ke dalam Islamisme dan Nasionalisme tanpa hatam betul irisan-irisan masing-masing dari tiga ideologi tersebut. Pernyataan yang ditulis Dhaniel Dhakidae terkait masalah salah kutip adalah hal yang sangat bisa terjadi dalam dunia tulis-menulis (Dhakidae, 2018: 11). Atau, apa yang dianggap “kesalahan” bagi Dhakidae ternyata merupakan “kebenaran” hasil komunikasi dan dialektika Soekarno dengan Marxisme sebagai sebuah konsep/teori yang dibacanya. Bagi saya pribadi, kemungkinan kedua inilah yang paling argumentatif berdasar naskah-naskah Soekarno yang ada.

REKOMENDASI

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala...

Harakah.id – Tuduhan bahwa Marxisme dan Sosialisme selalu melahirkan Komunisme dan Atheisme sebenarnya kurang tepat. Buktinya Soekarno, seorang pembaca marxis dan...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...