Stigma Teroris dan Masa Depan Negeri Mullah yang Kini Dalam Genggaman Kelompok Taliban

0
116
Stigma Teroris dan Masa Depan Negeri Mullah yang Kini Dalam Genggaman Kelompok Taliban

Harakah.idTaliban akhir-akhir ini mengundang banyak perhatian. Sejak perebutan kekuasaan yang sangat dramatis, sampai hari ini gerakan Taliban dalam membangun Afghanistan yang baru masih saja hangat dan diikuti banyak mata.

Pasca militer Amerika hengkang, maka negeri para Mullah secara de facto dalam genggaman kelompok Taliban. Jika ingat Taliban, maka teringat pula akan sosok Mullah Mohammed umar. Tapi pria yang lahir di Kandahar ini sudah diyakini meninggal tahun 2013. Kelompok Taliban saat ini patut diduga akan dipimpin Mullah Baradar. Salah satu pendiri Taliban yang lama menetap di Qatar. Usai Taliban merebut istana kepresidenan Afghanistan, ia kembali ke tanah airnya. Lantas bagaimana nasib Presiden Afghanistan? Ashraf ghani beserta keluarga hengkang ke Uni Emirat Arab sebagaimana diwartakan laman Middleeasteye.net.

Taliban merupakan kelompok yang dibentuk pada awal 1990-an oleh pejuang Afghanistan yang telah melawan pendudukan Soviet di Afghanistan (1979–1989). Tentunya dengan dukungan rahasia dari CIA dan mitranya dari ISI-Pakistan. Disebutkan Lindsay Maizland dalam artikel The Taliban in Afghanistan” bahwa Taliban memegang kendali atas Afghanistan sejak 1996 hingga Pasukan Amerika dan sekutu menginvasi negeri para Mullah itu.  Para pakar menyatakan Taliban yang sekarang lebih kuat ketimbang tahun 2001.

Namun pembaca setia harakah.id perlu mengkritisi pernyataan Lindsay. Sekuat apa kelompok Taliban di era Mullah Baradar? Toh sewaktu ISIS muncul ke permukaan, aktivitas mereka raib entah ke mana. Foto-foto yang beredar di dunia maya cuma menggambarkan anggota-anggota Taliban bersenjatakan senapan serbu M4, Humvee dan peluncur roket (RPG). Belum ada foto-foto yang menunjukkan mereka memiliki rudal maverick, drone hingga tank-tank canggih.

Nampaknya, Taliban yang muncul saat ini berbeda dengan Taliban di masa lampau. Di masa kini, sebagaimana dinyatakan juru bicaranya, Taliban akan mengampuni pejabat pemerintah, polisi dan kelompok-kelompok yang berseberangan. Lalu menjamin keamanan bagi personel kedutaan dan utusan asing. Mereka juga berani menjalin pertemuan dengan Wang Yi, Menteri luar negeri Tiongkok. Tiongkok kabarnya menawarkan bantuan ekonomi guna membangun kembali infrastruktur di Afghanistan. Laman Voice of America baru-baru ini memberitakan, sejak Taliban merebut kembali negerinya, masjid-masjid dipenuhi jamaah laki-laki. Dan terlihat foto-foto yang beredar penyekatan atau pemisahan antara laki-laki dan perempuan di suatu kelas.

Ada satu hal menarik perhatian saya adalah janji-janji barusan tak ada garansi bagi warga Afghanistan yang beraliran Syiah. Syiah di Afghanistan dianut etnis Hazara. Mereka tersebar di Kabul, Kandahar hingga kota Mazar i-sharif (ibukota provinsi Balkh). Selain di Afghanistan, Etnis Hazara bisa dijumpai juga di Pakistan. Di akun facebook kolega saya, sempat diunggah rekaman video seorang Taliban menurunkan bendera “Yaa  husain” dan diganti bendera berlafadz tauhid. Peristiwa ini membuktikan bahwa anggota-anggota Taliban beraliran Sunni.

Lalu bagaimana keberadaan Kelompok Taliban di negara tercinta? berbeda jauh dengan ISIS, Taliban tak punya pengikut dan simpatisan. Di negara tercinta, cuma ada sedikit jejak aktivitas anggota Taliban. Diungkapkan dalam skripsi Muhammad Ijmalul Faizin (UIN Jakarta, 2020), Pertama, dalam ‘Forum silaturahmi perdamaian Afghanistan’. Acara yang bertepatan dengan harlah NU ke 85 ini mengundang Abdul Salam Zaeef (Anggota Taliban di Pakistan). Kedua, kunjungan rombongan Maulana Qalamudin (Mantan Menteri agama dari pihak Taliban) dan beberapa ulama Afghanistan di bulan September 2013. 

Lalu pada bulan Juli 2019, delegasi Mullah Baradar yang mengunjungi kediaman Wapres Jusuf kalla dan kantor PBNU di Jakarta. Di kantor PBNU, pihak Taliban disambut Ketum PBNU, Robikin emhas dan pengurus lainnya. Mereka kala itu ingin stempel Taliban sebagai teroris harus dihilangkan. Mereka mengaku bukan ISIS bukan al-Qaeda. Sampai tulisan ini terbit, Taliban masih dianggap teroris. Pengelola Facebook menerapkan sensor ketat terhadap konten-konten terkait Taliban.

Hanya saja, nama mentereng Taliban di satu sisi dipakai pihak tertentu untuk menstigma orang atau kelompok yang kinerjanya bagus dan jujur. Stigma Taliban bukan pertama kali disematkan kepada sejumlah pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Seperti diwartakan laman tempo.co (19/6/2021), M. Jasin, mantan komisioner KPK mengatakan sudah mendengar stigma Taliban sejak 2008. Stigma atau julukan itu terjadi di kantor Bea dan cukai. Stigma ditujukan bagi pegawai bea cukai yang tak bisa disogok.

Taliban negeri Mullah mencoba menampilkan wajah soft power dan mengarah ke sikap inklusif. Sementara di sini, Taliban sudah menjalin interaksi dengan elit-elit PBNU. Meskipun amat disayangkan, nama mentereng Taliban disalahgunakan pejabat atau aparat korup yang mendarah daging di birokrasi negeri tercinta. Saya doakan supaya negeri Afghanistan kian membaik dan tidak dilanda perang berkepanjangan seperti Suriah. Wallahu’allam.