Maulid Nabi Pada Era Dinasti Abbasiyah, Peran Permaisuri Khaizuran

0
88

Harakah.id Perayaan Maulid Nabi telah dimulai sejak abad kedua hijriah. Adalah Permaisuri Khaizuran (W. 170 H), ibunda Khalifah Harun Al-Rasyid yang mengisiasinya. Bagaimana ulasan sejarahnya? Inilah perayaan Maulid Nabi pada era Dinasti Abbasiyah dan peran Permaisuri Khaizuran.

Sejak abad kedua hijriah kelahiran Nabi sudah dirayakan oleh masyarakat. Berdasarkan catatan Nur al-Din ‘Ali dalam kitabnya Wafa’ul Wafa bi Akhbar Dar al-Mustafa, dikatakan bahwa al-Khaizuran (170 H/786 M), ibu Amirul al-Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid, datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk untuk mengadakan perayaan Maulid Nabi saw di Masjid Nabawi, dan ke Mekah untuk diselenggarakan dirumah-rumah penduduk. Keterangan itu dikemukakan juga oleh Hamid al-Husaini dalam buku “Sekitar Maulid Nabi Muhammad saw Dan Dasar Hukum Syari’atnya.

Meski buku Wafa’ul Wafa bi Akhbar Dar al-Mustafa memberikan gambaran cukup jelas terkait sejarah Maulid, anehnya buku ini tidak dijadikan rujukan oleh beberapa peneliti Nico J.G. Kaptein, dosen dan peneliti senior di Leiden University, Belanda.Tokoh paling otoritatif dalam kajian genealogi perayaan hari lahir (Maulid) Nabi SAW. dan penyebarannya, misalnya, setelah dikonfirmasi, baik secara langsung melalui email maupun dari kertas kerjanya yang ia kirimkan, penulis menyimpulkan bahwa ia tidak merujuk pada buku karya Nur al-Din ‘Ali bin Abdullah al-Samanhudi tersebut. Penulis menduga, Nico menganggap buku Wafa’ul Wafa bi Akhbar Dar al-Mustafa tidak cukup otoritatif karena baru ditulis pada abad IX H., sangat jauh dari era al-Khaizuran hidup, dan Nur al-Din ‘Ali, sang penulis buku, merujuk pada sumber-sumber sekunder.

Berbeda dengan Nico, meski sependapat bahwa Nur al-Din ‘Ali al-Samanhudi tidak merujuk begitu saja pada sumber-sumber sekunder, Qasim al-Samara’i; ketua tim peneliti buku Wafa’ul Wafa bi Akhbar Dar al-Mustafa, mengakui kecermatan Nur al-Din ‘Ali dalam melakukan analisa.     

Khaizuran merupakan sosok yang berpengaruh selama tiga masa pemerintahan khalifah Dinasti Abbasiyah: Khalifah  al-Mahdi bin Manshur al-Abbas (suami), Khalifah al-Hadi dan dan Khalifah al-Rasyid (putra). Melalui pengaruhnya, Khaizuran mengintruksikanperayaan hari lahir Nabi saw. Nico Kaptein dalam kertas kerjanya yang berjudul “materials for the History of the Prophet Muhammad’s Birthday Celebration in Mecca”, mengutip al-Azraqi mengatakan bahwa kota Mekah memiliki satu sudut yang sangat dianjurkan dijadikan tempat shalat, yaitu rumah tempat kelahiran Rasulullah saw. Tempat itu, menurut al-Azraqi, kemudian dialih-fungsikan menjadi masjid oleh Al-Khaizuran.

Dari dua catatan sejarah ini, nampak bahwa Al-Khaizuran memang mempunyai perhatian tersendiri pada aspek-aspek yang berhubungan dengan Rasulullah saw. Khaizuran merayakan hari kelahiran Nabi seperti disebut oleh Nur dal-Din ‘Ali dalam Wafa’ul Wafa bi Akhbar dar al-Mustafa.Tempat kelahiran Nabi dijadikan masjid seperti disebutkan oleh al-Azraqi. Ibnu Jubair (540 H/1145 M-614 H/1217 M) juga memberikan informasi bahwa Al-Khaizuran mempunyai perhatian terhadap situs-situs sejarah yang berhubungan dengan Nabi SAW:

وَمِنْ مَشَاهِدِهَا الْكَرِيْمَةِ أَيْضًا دَاْرُ اْلخَيْزُرَانِ وَهِيَ الدَّارُ اَلَّتِيْ كَانَ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْبُدُ اللهَ فَيْهَا سِرًا مَعَ الطَّائِفَةِ اْلكَرِيْمَةِ اْلُمبَادَرَةِ لِلْأِسْلاَمِ مِنْ أَصْحَابِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حَتىَ نَشَرَ اْلأِسْلَامَ مِنْهَا عَلَى يَدَيْ اْلفَارُوْقِ عُمَرَ بْنْ اْلخَطَاب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَكَفَى بِهَذِهِ اْلفَضِيْلَةِ.

“Diantara situs mulia yang ada (di Kota Mekah) adalah ‘cagar budaya’ Al-Khaizuran, yaitu tempat yang pernah digunakan oleh Nabi saw untuk beribadah kepada Allah secara tertutup beserta sekelompok sahabat yang memeluk Islam paling awal, sampai tersiarnya Islam dari tempat itu atas jaminan keamanan dari sahabat Umar bin Khatthab yang bergelar al-Faruq (yang memilah haq dan batil). Atas dasar ini, cukuplah kemuliaan bagi Umar.”

Dengan demikian informasi dari al-Azraqi dan Ibnu Jubair ini menguatkan catatan Nur al-Din ‘Ali di atas tentang peran penting Khaizuran dalam mengkampanyekan penghormatan dan pemeliharaan situs-situs peninggalan Nabi saw.

Literatur klasik yang menyebutkan biografi Khaizuran seperti Tarikh Bagdad karya Khathib Baghdadi, Tarikh Thabari karya Al-Thabari, al-Bidayah wa al-Nihayah karya Ibnu Katsir, al-Kamil fi Tarikh karya Ibnu Atsir, Syadzarat Dzahab karya Al-Mas’udi, tidak ada yang menyebutkan informasi mengenai intruksi perayaan maulid yang dikeluarkan oleh Khaizuran. Karena tidak adanya literatur dari abad ke-2[1] yang bisa dikonfirmasi, maka penulis akan merekontruksi faktor-faktoryang memungkinkan Khaizuran bisa mempunyai gagasan untuk merayakan peringatan Maulid Nabi saw, padahal tradisi perayaan-perayaan selain Idul Fithri danAdha tidak pernah ada sebelumnya.

Menurut Nico Kaptein sedikit sekali catatan sejarah pada abad awal. Nico Kaptein merujuk al-Azraqi, Al-Naqqas dan seorang pelancong terkenal Ibnu Jubair, sebagai sumber otoritatif dari abad-abad pertama Islam. Selain tiga literatut itu, Nico Kaptein dalam kertas kerjanya itu maupun dalam bukunya “Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad saw: asal-usul dan penyebaran awalanya; sejarah di Magrib dan Spanyol Muslim sampai abad ke 10/ke 16”, menyatakan kitab yang original mengenai perayaan Maulid Nabi adalah Kitab al-Durr al-Munazzham fi Mawlid al-Nabi al-Mu’azzham yang ditulis oleh Abu al-‘Abbas al-‘Azafi (557/1162-633/1236) dan putranya Abu al-Qasim al-‘Azafi (w. 677/1279).

Demikian gambaran historis tentang Maulid Nabi pada era Dinasti Abbasiyah. Dari titik ini, perlu dilakukan penelitian lebih jauh tentang model perayaan Maulid Nabi pada era Dinasti Abbasiyah.