Beranda Sejarah Mazhab Hanbali dan Tarekat Sufi, Para Hanabilah Pengamal Tasawuf

Mazhab Hanbali dan Tarekat Sufi, Para Hanabilah Pengamal Tasawuf [3 – Habis]

Harakah.idAda juga kenyataan bahwa Thariqah Qadiriyah yang masih bertahan hingga sekarang adalah berakar pada mazhab Hanbali. Nama thariqah ini sendiri merujuk pada pendirinya yang seorang sufi Hanbali, Abdul Qadir Al-Jilani.

Ada juga kenyataan bahwa Thariqah Qadiriyah yang masih bertahan hingga sekarang adalah berakar pada mazhab Hanbali. Nama thariqah ini sendiri merujuk pada pendirinya yang seorang sufi Hanbali, Abdul Qadir Al-Jilani. Dalam waktu yang belum cukup lama, sebagian orang menyatakan bahwa thariqah ini berhutang pada al-Ghazali. Pemikiran ini harus menyadari bahwa ada beberapa fase kehidupan Al-Ghazali yang selalu hadir dalam kajian kita terhadap Islam. 

Tidak mungkin, bagaimana pun, menerima pemikiran bahwa Hanbali adalah sumber Thariqah Qadiriyah, di tengah-tengah bahwa pendirinya adalah bermazhab Hanbali dan pemilik kitab yang mempopulerkan akidah Hanbali. Sebagian sarjana berpandangan bahwa pada mulanya, Al-Jilani adalah seorang ahli fikih Hanbali. Maksud pernyataan ini, mungkin, bahwa Al-Jilani berlepas diri dari Hanbalisme ketika menjadi sufi.  Contoh-contoh ini cukup untuk menunjukkan kepada kita bahwa kecenderungan melihat setiap persoalan dan akar pemikiran yang mendahuluinya tentang permusuhan yang mengakar antara Hanabilah dan tasawuf, akan selalu ada dan selalu sulit.

Kenyataannya, kita harus memasuki inti tema, kita kembali kepada teori-teori yang berkaitan dengan proses kemunculan tasawuf Islam. Di sana, ada pihak yang berpandangan bahwa tasawuf Islam itu bersumber dari luar Islam. Akar-akarnya dari faktor-faktor eksternal. Pendukung kecenderungan ini berkeyakinan bahwa tasawuf berhadap-hadapan dengan Islam, dengan pertentangan yang keras, yang muncul dari khususnya gerakan-gerakan salafi-tradisional-sunni. Di sana, juga ada yang melihat bahwa tasawuf itu berakar dari internal Islam. Ia tumbuh dari Islam sendiri. Mereka berkeyakinan bahwa tidak ditemukan perseteruan antara sufisme dan ahlus sunnah wal jamaah. Apapun tingkat konservatifisme dan tradisionalismenya.  Di sini, secara esensial, mungkin bagi kita menghargai dengan penuh kehormatan sumbangan Louis Masignon. Ia dengan pembelaanya terhadap teori adanya tasawuf islami yang orisinal, ia membuka pintu di hadapan solusi yang mungkin menjadi pertanyaan. Massignon melihat kenyataan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jamaah tidak pernah dalam satu waktu bersepakat menolak tasawuf, dan bahwa Islam Sunni tidak pernah mengeluarkan tasawuf moderat dari komunitas ini. Ini yang kami temukan dalam makalah penting yang berjudul “Tashawwuf” dalam cetakan pertama “Ensiklopedi Islam”. Hanya saja perlu pelurusan dan konfirmasi dalam kasus khusus permusuhan Hanabilah dan tasawuf, seperti kasus Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Qayyimil Jauziyyah. Sebagian kasus perlu dijelaskan dengan tafsir baru terhadap kenyataan yang telah ada di hadapan kita. Khususnya bersamaan dengan ditemukannya dokumen-dokumen yang baru terungkap keberadaannya.

Kami memandang bagaimana Marijan Mole dalam waktu bersamaan terjatuh dalam pengaruh teori “Tasawuf Orisinal Islam”, sebagaimana dibela oleh Massignon dan teori permusuhan Hanbali terhadap tasawuf, sebagaimana yang didukung oleh Goldziher. Dengan pendapat kami, bahwa Marijan sudah tepat dalam kajian terhadap sumber yang menyatukan Hanbali dan tasawuf. Tetapi, ia keliru dalam keyakinannya bahwa Hanbali memilih menyusuri jalan lain selain jalan sufisme.

Ditemukan, tentu saja, materi dalam dokumen-dokumen dan manuskrip kita, yang mentolerir menerima adanya kepastian dalam tema permusuhan Hanbali terhadap sufisme. Di sana, khususnya, ada karya Ibnul Jauzi “Talbis Iblis” yang telah diulas sebelumnya. Di sana ada perdebatan yang disebarkan oleh pengikut Hanbali lain, seperti Ibnu Taimiyyah. Tetapi, “Talbis Iblis” tidak bicara dalam kenyataannya, tentang tasawuf secara khusus. Tidak pula tentang para pengamal tasawuf saja. Karena, ia juga menyerang secara spesifik pernyataan-pernyataan kelompok-kelompok yang cukup banyak, seperti para filsuf, kaum kafir, para mutakallimin, para ahli riwayat hadis dan atsar, para ahli nasihat, ahli fikih, ahli bahasa, para penyair, sufi, dan orang-orang awam. Ibnul Jauzi menyerang keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang dianggap bid’ah. Yang tidak didasarkan keapda teks wahyu yang diturunkan. Ketika bagian yang mengulas tentang sufisme menjadi bagian terbesar dalam kitab ini, hal itu karena penulisnya menemukan bahwa  di kalangan sufi masalah terbesar pada zamannya. Tetapi, tidak pantas ditutup-tutupi dari diri kita, kenyataan bahwa Ibnul Jauzi telah mengkritik sebagian kelompok Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang mana ia sendiri menisbatkan diri kepada kelompok Atsari Naqli (baca: Salafiyyun), pemberi nasihat dan ahli fikih.

Perlu ditambahkan di sini, bahwa Ibnul Jauzi menulis kitab yang cukup banyak tentang sufi-sufi yang saleh. Ia meringkas dua kitab yang dinilai sebagai pilar ajaran tasawuf. Keduanya adalah Hilyatul Auliyah’ karya Abu Nu’aym Al-Ashbahani dan Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali. Ibnul Jauzi juga menulis kitab yang berisi biografi dan perjalanan hidup ulama yang bergenre “Fadhail” dan “Manaqib”. Kedua kitab ini berisi secara khusus sejumlah nama besar kaum pengamal zuhud dan sufi dari era generasi pertama Islam. Dalam bagian yang khusus berbicara tentang profil dan sirah, dalam kitab Al-Muntazham, Ibnul Jauzi menulis sejumlah biografi dan perjalanan hidup para sufi yang hidup pada zamannya. Benar, bahwa Ibnul Jauzi mengkritik Abdul Qadir Al-Jilani, seorang Hanbali seperti dirinya dan sezaman dengannya, hanya saja ia menulis sebagai bandingannya sebuah kitab yang memuji-muji tokoh sufi terkenal, Rabi’ah Al-‘Adawiyah.

Secara khusus terkait Ibnu Taimiyah, Henry Laoust sejak masa yang cukup lama memberi tahu kita, tentang kecenderungan orang alim Hanbali ini terhadap sufisme. Henry mengatakan kepada kita, adalah percuma mengkaji karya-karya Ibnu Taimiyyah yang berisi kritiknya terhadap sufisme. Benar, Ibnu Taimiyyah menyerang tasawuf radikal yang diajarkan kelompok Ittihad dan Hulul. Hanya saja, ia tidak menutupi kekagumannya terhadap karya-karya para sufi seperti Al-Junaid, Sahl Al-Tustari, Abu Thalib Al-Makki, Abul Qasim Al-Qusyairi, Abu Hafsh Al-Suhrawardi dan Abdul Qadir Al-Jilani.

Kami menemukan, belakangan, dokumen dan naskah yang mendukung tulisan Laoust tersebut. Dalam dokumen ini, Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa dirinya berafiliasi kepada Thariqah Abdul Qadir Al-Jilani, sang sufi. Ibnu Taimiyyah berkata, “Saya memakai khirqah yang penuh berkah milik Syekh Abdul Qadir. Antara saya dengan beliau, hanya ada dua orang guru.” Ibnu Taimiyyah juga berkata, “Saya memaki khirqah tasawuf melalui jalur sekelompok guru sufi, di antara mereka adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jilani yang Thariqahnya dinilai sebagai thariqah terbesar dan terpopuler.” Di tempat lain, Ibnu Taimiyyah menyebut “Penisbatan” yang digunakan umat Islam untuk menisbatkan diri kepada sebuah kelompok Muslim tertentu. Di dalam penisbatan ini, Ibnu Taimiyyah menyebutkan garis silsilahnya kepada pendiri tarekat sufi, khususnya nisbat kepada dua tarekat yang kembali kepada Qadiriyah dan Adawiyah. Nisbat lain yang dapat diterima menurut Ibnu Taimiyyah adalah kembali kepada pendiri mazhab fikih yang empat di lingkungan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Ini adalah contoh tunggal yang disebut Ibnu Taimiyyah, yang membuat kita menganggap bahwa para ahli fikih dan para sufi, mereka menempati tempat pertama dalam pemikiran Ibnu Taimiyyah. Tidak ditemukan sesuatu yang mendorong pada rasa heran, di sini, ketika ternyata Ibnu Taimiyah sendiri adalah seorang ahli fikih sekaligus sufi.

Pada kesempatan lalu, kami telah mendiskusikan tentang istilah-istilah yang digunakan dalam teks-teks Arab, yang kembali pada abad-abad pertengahan,  dan tentang keharusan memberi batasan sesuai dengan konteksnya, karena kita tidak akan pernah menemukan pengertian-pengertian yang cukup beragam yang dimuat istilah-istilah itu dalam kamus-kamus bahasa yang ada di tangan kita sekarang. Dan telah berlalu, dan kami telah memberikan sebagian contoh yang kembali kepada sejarah lembaga pendidikan. Kondisinya, ditemukan dalam bidang tasawuf juga istilah-istilah yang digunakan dalam kitab-kitab sirah dan biografi yang belum mendapatkan perhatian yang seharusnya. Seandainya saja istilah-istilah tersebut dipahami sesuai pengertian yang “tertutup” itu, niscaya mungkin bagi kita menerangi masalah yang menarik perhatian kita di sini. Membaca kitab Thabaqat karya Ibnu Rajab memberikan kepada kita temuan bahwa istilah “Zahid” yang disisipi pada umumnya pengertian “Ibadah dan ketekunan”, juga digunakan untuk pengertian “Sufi”. Dalam kajian terbaru kita, kami menemukan bahwa di antara kaum Hanabilah yang disebutkan biografinya oleh Ibnu Rajab –yang telah lewat ulasannya, di sana ada lebih dari seratus orang sufi. Ini mencerminkan seperenam jumlah ulama Hanbali yang disebut dalam kitab ini.

Ada beberapa naskah dan dokumen lain yang mendukung penjelasan ini. Kami curiga dalam masa yang cukup lama, bahwa Ibnu Qudamah memiliki kecintaan yang kuat terhadap tasawuf, pertama dalam karyanya yang berjudul “Kitab Al-Tawwabin”, dimana ia mengutip sebuah bait milik Al-Hallaj tanpa menisbatkan secara jelas kepadanya, kemudian dalam kitab “Tahrim Al-Nazhar Fi Kutub Ahl Al-Kalam”, dimana ia mengabaikan paham Al-Hallaj yang ada dalam pemikiran Ibnu Aqil, ketika ia mengkritik rasionalisme (Kalam)-nya. Terakhir, kami menemukan silsilah sufisme yang di dalamnya disebut nama Ibnu Qudamah bahwa ia telah memakai Khirqah secara langsung di hadapan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani. Naskah yang kami temukan di dalam “Kumpulan Koleksi” di Perpustakaan Zhahiriyyah, Damaskus, dikuatkan sejumlah naskah lain, yang merupakan manuskrip yang saya temukan di Perpustakaan Istanbul, Leiden, Dublin, dan Prinston. Dalam kitab sirah dan biografi yang telah dicetak “Al-Durar Al-Kaminah”, Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan silsilah para sufi milik Danisari. Dimana yang disebut terakhir ini mengatakan, bahwa khirqah sufi yang dimilikinya kembali kepada Ibnu Qudamah melalui dua orang guru sufi bermazhab Hanbali. Ditemukan dalam silsilah ini beberapa ulama Hanbali yang tahun wafatnya berkisar antara 371 H. dan 620 H. Di antara mereka, secara spesifik, adalah Abdul Aziz Al-Tamimi (371 H./981 M.), Abdul Wahid Al-Tamimi (w. 410 H./1019 M.), Abu Sa’d Al-Mahrami (w. 513 H./1119 M.), dan Abdul Qadir Al-Jilani (w. 561 H./1165 M.) dan Muwaffaquddin Ibnu Qudamah (w. 620 H./1223 M.). Kitab ini juga menyebut sejumlah profil dan biografi lain dalam silsilah sufi Hanbali dari marga Taimiyah, Qudamah,  selain Hanbali lain seperti Ibnul Jauzi, Ibnu Qayyimil Jauziyyah dan Ibnu Rajab.

Sepertinya tidak perlu, dengan demikian, kita memandang tasawuf Ibnu Qayyimil Jauziyyah sebagai hasil pengaruh dari luar kaum Hanbali. Bahkan terkait dengan pemikian spesifiknya tentang konsep Hubbullah yang mungkin ia pelajari dari gurunya, Ibnu Taimiyyah. Senyatanya, kita punya naskah yang mana Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa beribadah kepada Allah menyimpan cinta tulus dan lagi sempurna kepada-Nya. “Ibadah mengandung cinta paripurna, pengagungan paripurna, pengharapan paripurna, rasa takut, pengagungan dan penghormatan.” Potongan teks ini diambil dari kitab “Futuhul Ghaib” Karya Abdul Qadir Al-Jilani. Dalam kitab ini juga, Ibnu Taimiyah mendeskripsikan Al-Jilani dan Hammad Al-Dabbas sebagai guru-guru sufi Ahlus Sunnah Wal- Jamaah, pada saat bersamaan, Ibnul Jauzi mengkritik yang pertama disebut,  dan nama kedua dikritik oleh Ibnu Aqil.  Tetapi, Ibnu Taimiyyah memberi label keduanya sebagai “Ahlus Sunnah Wal Jamaah”, yang pada saat bersamaan ia mengkritik Al-Anshari Al-Harawi dimana ia adalah sufi Hanbali besar, Ibnu Taimiyyah menyebut akidah-akidah Al-Harawi tercampur dengan paham Hululiyyah.

Adalah penting kita mengingat bahwa Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyyah mengeritik “Shathahat” para sufi, khususnya dalam persoalan “Tawakkal”, yaitu sikap kepercayaan penuh pada Tuhan. Shathahat itu berakar pada puncaknya di atas tangan para sufi zuhud. Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyyah mengatakan, yang artinya, bahwa tawakal para sufi itu tidak punya hubungan dengan apa yang dikenal para sahabat Nabi yang mana mereka menekuni tawakal yang benar. Selanjutnya, tawakal sufi itu bertentangan dengan syariat yang mengharamkan sikap semacam ini dan menganggapnya sebagai sikap negatif.

Al-Ghazali, seperti Ibnu Taimiyyah, mengkritik tasawuf Hululi dan sikap buruknya terhadap syariat. Dengan demikian, Al-Ghazali mempunyai titik temu dengan kaum Hanabilah. Tetapi, ketika Al-Ghazali mendapat pujian para spesialis kajian Islam, Ibnu Taimiyyah berkebalikan dengan Al-Ghazali, dimana ia mendapat kritik para spesialis itu. Di sini, kita menemukan perbedaan perspektif. Kita sudah waktunya memberikan perspektif yang lebih moderat dan dalam terhadap masalah ini.

Baca Juga: Sejarah Permusuhan Islam Mazhab Hanbali dan Sufisme, Hubungan Ambigu [2]
Baca Juga: Apakah Ulama Mazhab Hanbali Memusuhi Tasawuf? [1]

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...