Beranda Rekomendasi Mbah Muqoyyim Buntet, Mufti Kanoman yang 12 Tahun Tirakat Puasa dan Dianggap...

Mbah Muqoyyim Buntet, Mufti Kanoman yang 12 Tahun Tirakat Puasa dan Dianggap Ancaman oleh Belanda

Harakah.idMbah Muqoyyim Buntet adalah salah satu ulama yang berjuang di wilayah Cirebon. Sezaman dengan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, Mbah Kiai Muqoyyim adalah sosok mufti dan Kiai yang disegani masyarakat. Di masa penjajahan, pesantrennya di Buntet dianggap jadi ancaman.

Baca Juga: Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, Guru Tarekat Nusantara yang Mengalahkan Petapa Hitam di Gua Sapar

Dalam kondisi politik yang tidak stabil Cirebon, lahir sosok yang di kemudian hari mampu menorehkan sejarah yang hingga kini pengaruhnya masih bisa dirasakan. Hal itu bisa dilihat dari bukti dan warisan berupa pesantren yang didirikannya. Beliau lahir dari situasi kegentingan sejarah hingga keberagamaan Islam yang mulai luntur di wilayah Cirebon. Kelahiran Mbah Kiai Muqoyyim diperkirakan sekitar tahun 1698 M. Pada saat itu Kesultanan Cirebon sedang dirundung mendung kekalutan politik.

Mengenai keilmuan atau rihlah ilmiahnya, diyakini bahwa Mbah Kiai Muqoyyim tidak mempunyai guru secara formal. Dalam artian beliau tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren atau datang langsung ke tempat Kiai. Mbah Kiai Muqoyyim mendapatkan ilmu secara ladunni (ilmu yang didapat tanpa melalui proses belajar). Dilihat dari masa kehidupannya, beliau diperkirakan sezaman dengan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan yang merupakan tokoh sufi dari Jawa Barat. Syeikh Abdul Muhyi merupakan salah satu titik jaringan ulama pada abad ke-18 awal. Diasumsikan bahwa Mbah Muqoyyim Buntet juga sering melakukan perjalanan ke berbagai tempat yang juga pernah disinggahi tokoh sufi besar Syekh Yusuf al-Makassari.

Baca Juga: Kiai Saifuddin Amsir, Kiai Lokal Pengayom Betawi yang Karyanya Dibaca Dunia

Daerah pilihan Mbah Kiai Muqoyyim menyebarkan agama adalah Buntet. Sebuah daerah yang cukup jauh dari pusat keraton saat itu. Ia terletak sekitar 12 km dari pusat kekeratonan. Alasan kenapa beliau memilih tempat ini adalah karena pernah digunakan oleh Mbah Kuwu Cirebon membuka padepokan. Berkat kesohorannya yang ditunjukkan dengan memenangkan sayembara di daerah Setu dan sebagai mufti Keraton Kanoman, dengan cepat pesantrennya berkembang secara otomatis. Makin hari makin banyak santri yang menimba ilmu di sana. Dalam beberapa waktu saja, Belanda telah mencium kegiatan yang dilakukan oleh Mbah Kiai Muqoyyim yang dipandang sebagai ancaman.

Peran penting Pesantren Buntet terus menampakkan bukti nyata. Hal itu terbukti dari banyak tokoh-tokohnya yang terlibat dalam berbagai peristiwa penting di Indonesia, baik sebelum maupun sesudahnya. KH. Abbas Buntet misalnya, berperan penting dalam pembentukan Nahdlatul Ulama di Jawa Timur bersama KH. Hasyim Asy’ari. Kiai Abbas juga menjadi tokoh kunci ketika pecah perang arek-arek Surabaya pada tanggal 10 November.

Baca Juga: Kiai Ridwan Menggambar Lambang NU, Muncul dalam Mimpi dan Disetujui Kiai Hasyim

Selain Kiai Abbas dan peranannya dalam gelanggang dakwah nasional, Buntet hingga ini menjadi salah satu pesantren berpengaruh di Cirebon. Berkat keikhlasan dan karomah Mbah Muqoyyim Buntet, Pesantren Buntet terus eksis membina umat dan menjaga trah keberislaman yang sejak di Nusantara.

Mbah Muqoyyim Buntet juga dikenal sebagai kiai yang keramat. Konon beliau melakukan tirakat dengan berpuasa selama 12 tahun. Tiga tahun tirakat sebanyak empat kali itu beliau lakukan, masing-masing untuk dirinya sendiri, keturunannya, para santri dan umat serta untuk pesantren dan Nusantara.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...