Beranda Tokoh Mbah Mutamakkin; Pembangun Tradisi Islam di Jawa yang Kontroversial

Mbah Mutamakkin; Pembangun Tradisi Islam di Jawa yang Kontroversial

Harakah.id – Mbah Mutamakkin ulama pembangun tradisi Islam Jawa yang kontroversial. Serat Dewaruci sebagai salah satu metodologi penyampaian dakwah Islam.

Al-Mutamakkin adalah protagonis ketiga terpenting dalam Serat Cabolek. Serat Cabolek adalah satu-satunya sumber tentang Al-Mutamakkin. Menurut KH. Abdurrahman Wahid, Al-Mutamakkin berasal dari Persia, Propinsi Krasan, Iran Selatan. Akan tetapi silsilah yang umum dipercaya masyarakat setempat adalah keturunan bangsawan Jawa.

Dalam Serat Cebolek disebutkan bahwa guru utama Al-Mutamakkin adalah Seh Jen dari Yaman. Figur ini juga dikenang oleh masyarakat di sekitar makam Al-Mutamakkin. Seh Jen adalah figur historis yang dalam penelitian Azyumardi Azra tentang jaringan ulama adalah Syekh Zayn al Mizjaji Al-Yamani, yang merupakan seorang tokoh Tarekat Naqsabandiyah yang sangat berpengaruh.

Baca Juga: Sahiron Syamsuddin, Mazhab Tafsir Yogyakarta dan Tawaran Ma’na Cum Maghza

Jaringan keilmuan Syekh Al-Mutamakkin dapat dicatat beberapa tempat yang disinggahinya, yaitu Doha wilayah Teluk Persia, Yaman, Jeddah, dan akhirnya Makkah dan Madinah. Hubungan Syekh Al-Mutamakkin dalam dinamika Islam di Jawa adalah pemakaiannya atas Serat Dewaruci sebagai salah satu metodologi penyampaian dakwah Islam.

Al-Mutamakkin merupakan salah seorang ulama pembangun tradisi Islam di Jawa yang sangat kontroversial. Tingkat kontroversi Al-Mutamakkin agaknya hampir sama dengan Syekh Siti Jenar, Hamzah Fansuri, dan lain-lain. Mereka adalah tokoh penyebar islam di Jawa dan Melayu pada masa awal. Mereka adalah wakil-wakil Islam esoteris, pengembangan tasawuf falsafi. Pada gilirannya, mereka berhadapan dengan para ulama syariah yang mewakili Islam eksoteris, pengembang tasawuf sunni yang memvonis mereka sebagai orang sesat.

Pemikiran dan Kritik Syekh Al-Mutamakkin pada Keraton.

Pemikiran dan paham keagamaan Al-Mutamakkin setidaknya dapat diletakkan pada sikap kritis epistemologis dan dialektika hubungan Islam dengan tradisi lokal atau hubungan agama dengan kebudayaan.

Secara singkat, kritik Syekh Al-Mutamakkin dapat dijelaskan sebagai berikut, pertama, wilayah kepercayaan dan pemahaman yang dikembangkan Keraton bersifat dangkal dan menyempitkan keberagamaan.

Kedua, apa yang dikembangkan Keraton telah gagal menumbuhkan sistem etika duniawi yang rasional dan produktif. Ketiga, syariat Islam dan sufisme cenderung dimanipulasi Keraton untuk suatu tujuan politik yang tidak relevan dengan kepentingan umat.

Baca Juga: Menelaah Genealogi Kitab Tasawuf Abad 2 Sampai 3 Hijriyah; Catatan Singkat Kajian Kitab Risalah al-Mustarsyidin Karya al-Muhasibi

Hingga kini, nama Syekh Al-Mutamakkin masyhur dikenal sebagai salah satu ulama, yang biasa disebut Mbah Mutamakkin oleh masyarakat. Makamnya di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati Jawa Tengah, menjadi salah satu destinasi yang ramai dikunjungi para peziarah, terutama di bulan suci Ramadhan.

Menurut Pemerhati Sejarah, Muhammad Farid Abbad, Mbah Muttamakkin berhasil menjadikan Desa Kajen sebagai pusat ilmu agama Islam, yang banyak melahirkan ulama besar nasional. Keberhasilan Syekh Mutamakkin juga bisa dilihat dari puluhan pondok pesantren yang berdiri di sana saat ini. Belum lagi pusat pendidikan lain seperti sekolah dan madrasah (gatra.com).

Baca Juga: Lika-Liku Islam Transnasional, Dari Melawan Barat Sampai Memusuhi Sesama Muslim
Baca Juga: Kiai Imam Suhodo Apil Quran dan Problem Gesekan Islam Vs Mistik Jawa di Lingkungan Keraton Surakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...