Beranda Sejarah Melacak Keterlibatan Ulama Jambi dalam Penulisan Kitab I’anatut Thalibin

Melacak Keterlibatan Ulama Jambi dalam Penulisan Kitab I’anatut Thalibin

Harakah.id Syeikh Abdul Majid Jambi juga merupakan murid Syeikh Abu Bakar Syatha’, yang turut terlibat bersama para murid lainnya dalam proses penyusunan kitab I’anatut Thalibin.

Kitab I’anatut Thalibin adalah kitab fikih rujukan yang banyak dipakai santri Nusantara untuk memahami Fathul Mu’in. Banyak kesaksian bahwa kitab tersebut disusun dengan melibatkan murid-murid Syeikh Abu Bakar Syatha’, sang pengarang. Syeikh Abdul Majid Jambi adalah satu di antara sekian banyak murid beliau yang ditengarai membantu proses penyusunan kitab. Asumsi ini diperkuat sebuah kesaksian bahwa naskah asli kitab I’anatut Thalibin ada di Sumatera.

Kitab I’anatut Thalibin merupakan karya Sayid Abu Bakar bin Muhammad as-Syatha’ yang merupakan Hasyiah (catatan pinggir) terhadap kitab Fathul Mu’in. Sedangkan kitab Fathul Mu’in merupakan syarah (komentar) terhadap kitab Qurrotu al-‘Aini. Kitab Fathul Mu’in maupun kitab Qurrotul ‘Ayni keduanya merupakan karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibary (w. 1028 H). Kitab I’anatut Thalibin diselesaikan pada tahun 1298 H/1881 H.

Sayid Abu Bakar bin Muhammad as Syatha’ lahir pada 1266 H/1849 M dan wafat 1310 H/1892 M. Beliau mengajar di Masjidil Haram Mekah pada permulaan abad ke XIV. Adapun ulama dari Nusantara yang menimba ilmu kepada beliau di antaranya: Syekh Mahfudz at-Termasi, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dll.

Pada hari Jumat, 06 Maret 2020, di Madrasah Nurul Iman saya berserta Ust. Ahmad Tantowi & Ust. Hafidz Abto bertemu Ust. Fadhel, salah seorang pengajar di Madrasah As’ad. Beliau banyak bercerita tentang ulama-ulama Jambi di antaranya bahwa Syekh Abdul Majid Al-Jambi juga ikut berkontribusi dalam penulisan Kitab I’anatut Thalibin. Beliau mengetahui informasi ini dari Tuan Guru Nadjmi Qodir (Mudir As’ad saat ini, putra dari KH. Abdul Qodir) dari KH. Abdul Qodir (Pendiri Madrasah As’ad, putra dari KH. Ibrahim) dari KH. Ibrahim (Pendiri Madrasah Nurul Iman, putra dari Syekh Abdul Majid al-Jambi) dari Syekh Abdul Majid al-Jambi.

Menariknya, cerita keterlibatan Syeikh Abdul Majid Jambi dalam penulisan kitab I’anah memiliki kesamaan dengan sebuah artikel yang pernah saya baca. Ketika berkunjung ke Seberang Kota Jambi saya pernah membaca sebuah artikel yang berjudul “Juru Tulis I’anatut Thalibin Syekh Ali bin Abdullah al-Banjari”. Artikel ini merupakan hasil wawancara penulis (Muhammad Bulkini) dengan cucu Syekh Ali al-Banjari yang berada di Martapura yakni, Ustadz Muhammad Husein Ali bin KH. Husin Ali bin Syekh Ali al-Banjari, bertepatan dengan haul Syekh Ali al-Banjari di Martapura.

Dalam wawancara tersebut dikatakan bahwa selama mengajar Kitab Fathul Mu’in Sayid Abu Bakar bin Muhammad as-Syatha’ menulis catatan penjelasan dari kalimat-kalimat yang terdapat dalam kitab Fathul Mu’in. Catatan-catatan inilah yang kemudian diminta untuk dikumpulkan oleh para sahabat beliau, guna dijadikan sebuah kitab (hasyiah) untuk memahami kitab Fathul Mu’in. Di antara murid Sayid Abu Bakar bin Muhammad as-Syatha’ yang ditugasi sebagai juru tulis dalam proses penyusunan kitab I’anah al-Thalibin adalah Syekh Ali al-Banjari yang merupakan keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Dalam artikel tersebut juga dikatakan bahwa kitab asli tulis tangan I’anah al-Thalibin ternyata berada di Sumatra.

Saat saya menghubungi Muhammad Bulkini, penulis artikel tersebut, saya pun menayakan apakah cucu Syekh Ali al-Banjari mengonfirmasi keberadaan kitab asli tulis tangan I’anah al-Thalibin? Saya juga bertanya, di mana tepatnya lokasi keberadaan naskah tersebut? Ternyata cucu Syekh Ali al-Banjari tidak menyebutkan detail lokasi naskah, akan tetapi beliau mengatakan bahwa Syekh Ali al-Banjari bukanlah satu-satunya juru tulis Sayid Abu Bakar bin Muhammad as-Syatha’ dalam penulisan Kitab I’anatut Thalibin. Beliau menjelaskan bahwa ada ulama Sumatera lain yang berkontribusi dalam penulisan Kitab I’anatut Thalibin. Karena itu, naskah kitab tersebut berada di Sumatera.

Kembali ke cerita Ust. Fadhel sebelumnya, bahwa salah satu ulama Sumatra yang ikut berkontribusi dalam penulisan kitab I’anatut Thalibin adalah Syekh Abdul Majid al-Jambi.   Ada kemungkinan juga kalau kitab asli I’anah al-Thalibin itu berada di Jambi. Meski memang hingga sekarang belum diketahui pasti keberadaan kitab secara pasti.

Bila membaca biografi KH. Abdul Qodir bin Ibrahim yang merupakan cucu dari Syekh Abdul Majid al-Jambi, di sana disebutkan di antara karya tulis beliau adalah pernah menerjemahkan kitab I’anah Thalibin. Yang menjadi pertayaan mendasar, apakah saat menerjemahkan kitab I’anah Thalibin KH. Abdul Qodir mengacu pada kitab I’anah Thalibin versi cetak atau mungkin bisa jadi kitab I’anah Thalibin versi asli yang pernah ditulis oleh kedua murid Syekh Abu bakar bin Muhammad Syatha’, yakni Syekh Ali al-Banjari dan Syekh Abdul Majid al-Jambi?

Syekh Abdul Majid al-Jambi lahir di Kampung Tengah pada tahun 1850 M. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Yusuf bin Syekh Abid bin Syekh Djantan gelar seri penghulu. Saat menuntut ilmu di Mekah Syekh Abdul Majid al-Jambi diangkat sebagai kawan terdekat Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabau. Keduanya sama-sama berguru kepada Sayid Abu Bakar bin Muhammad as-Syatha’. Baik Syekh Abdul Majid al-Jambi maupun Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabau keduanya pun kemudian menjadi pengajar di Mekah.

Ini menjadi alasan mengapa saat ulama-ulama dari Mekah hijrah ke Nusantara, di antaranya ada yang singgah dan mengajar di Seberang Kota Jambi. Karena saat di Mekah, mereka telah mengenal sosok Syekh Abdul Majid al-Jambi dan sama-sama pernah berguru kepada Sayid Abu Bakar bin Muhammad as-Syatha’. Seperti misalnya Syekh Muhammad Ali bin Husein al-Maliki al-Makki, Sayyid Abdullah Shadaqah Zaini Dahlan dll. Tak hanya ulama dari Mekah, ada pula Syekh Usman Sarawak dari Malaysia dan Habib Ali Kwitang dari Jakarta yang juga datang dan mengajar di Madrasah Sebrang Kota Jambi. Keduanya, saat belajar di Mekah juga berguru kepada Sayid Abu Bakar bin Muhammad as-Syatha’. Selain itu beberapa ulama juga pernah diketahui pernah mengajar di Madrasah Seberang Kota Jambi, di antaranya: Syekh Sa’id al-Yamani, Syekh Hasan al-Yamani, Syekh Saleh al-Yamani, Syekh Mahmud Arif al-Bukhari, Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani, Syekh Arif Atturubusi as-Syami, Syekh Muhammad al-Ahdali dll.

Dengan kata lain, Sumatera adalah salah satu episentrum kelahiran ulama-ulama Nusantara. Dalam konteks penulisan kitab I’anatut Thalibin, Syeikh Abu Bakar Syatha’ memiliki banyak murid asli Sumatera. Jadi besar kemungkinan, jika data sejarah mengungkap bahwa ada keterlibatan para murid beliau dalam penulisan kitab tersebut, Syeikh Abdul Majid Jambi yang juga merupakan murid beliau, turut terlibat bersama dengan para murid lainnya dalam proses penyusunan kitab.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...