Melacak Kualitas Hadis “Pasukan Panji Hitam”, Hadis Populer yang Tak Ada Dalam Kutubus Sittah [2]

0
3200
Melacak Kualitas Hadis

Harakah.id Kualitas hadis pasukan panji hitam adalah hal pertama yang penting sekali diamati. Karena dalam ilmu hadis, riwayat yang lemah, tentu tidak bisa dijadikan dasar.

Dalam artikel sebelumnya sudah dibahas mengenai popularitas hadis pasukan panji hitam dan merebaknya isu ini dalam berbagai buku yang ditulis di berbagai masa. Dengan kata lain, hadis pasukan panji hitam sudah terlanjur diacu untuk mengukuhkan satu gerakan sosial-keagamaan tertentu.

Kali ini, tinjauannya akan diarahkan pada pelacakan kualitas sanad hadisnya.

Kembali kepada topik kita, bahwa pada prinsipnya persoalan ini timbul dari penafsiran terhadap hadis-hadis akhir zaman. Referensi paling awal, muncul pada abad ketiga hijriah. Yaitu melalui kitab al-Fitan karya Abu Abdillah Nu’aim bin Hammad al-Marwazi (229 H./844 M.). Dalam penelusuran penulis terhadap hadis-hadis pasukan panji hitam, hadis-hadis pasukan panji hitam disebutkan dalam sejumlah kitab sebagai berikut:

Data ini menunjukkan bahwa hadis pasukan panji hitam disebutkan dalam tujuh kitab hadis. Meliputi Musnad Ahmad, Sunan al-Tirmidzi, Sunan Ibn Majah, al-Fitan, al-Malahim, Musnad al-Bazzar dan al-Mustadrak. Berdasarkan penelusuran terhadap kitab-kitab tersebut, ditemukan hadis sebagai berikut;

Menurut ilmu hadis, untuk mengetahui otentisitas sebuah hadis, diperlukan penilaian kritis terhadap sumber hadis. Sumber hadis di sini merupakan perawi-perawi yang terdapat dalam sanad. Selain para penulis kitab hadis. Di sini, keterpercayaan sebuah informasi ditentukan oleh tingkat keterpecayaan terhadap sumber atau perawinya.

Penilaian ditujukan pada tiga aspek yang meliputi; konsistensi dalam menjalankan ajaran agama (‘adalah), kekuataan hafalan (dhabth),  dan hubungan guru-murid masing-masing (ittishal). Hafalan dan keberagamaan di sini didasarkan pada hal-hal yang dapat diamati oleh indera. Demikian pula dengan keterhubungan masing-masing perawi. Bukan merujuk kepada unsur-unsur abstrak yang ada dalam diri manusia seperti aspek mental, keyakinan dan klaim pertemuan. 

Dalam skema di atas, terdapat 35 orang perawi. Tiga di antaranya merupakan perawi level sahabat yang dalam tradisi kritik hadis Sunni dianggap tidak perlu diteliti. Berarti terdapat 32 orang perawi.

Terdapat tiga orang perawi pada level sahabat. Ketiganya adalah Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud dan Thauban. Dari ketiganya, hanya riwayat Abdullah bin Mas’ud yang berstatus mauquf. Artinya, matan hadis itu adalah perkataan Abdullah bin Mas’ud. Riwayat dari Abdullah bin Mas’ud ini tidak kuat karena ada dua orang yang perlu dicurigai. Yaitu Ibrahim bin Yazid bin Qais yang dikenal thiqah namun banyak meriwayatkan hadis secara mursal (terpotong sanadnya, jenis inqitha’ atau terputusnya sanad yang menyebabkan hadis menjadi daif) dan al-Hakam bin Utbah yang dikenal thiqah-thabat namun pelaku tadlis (memperbaiki sanad). Al-Hakam meriwayatkan hadis dari gurunya menggunakan redaksi ‘an yang tidak diizinkan bagi orang seperti dia. Dari sini dapat disimpulkan bahwa hadis pasukan panji hitam dalam isnad al-Bazzar adalah daif (lemah).

Riwayat dari Abu Hurairah yang dicantumkan dalam kitab Musnad Ahmad dan Sunan al-Tirmidzi memiliki masalah dalam jalur sanadnya. Yaitu pada perawi bernama Risydin bin Sa’d yang dinilai dha’if, mukhtalith, dan sayyi’ul hifzh. Dari aspek hafalan, perawi ini memiliki kekurangan yang menyebabkan hadisnya menjadi daif (lemah).

Riwayat Thauban yang terdapat dalam Sunan Ibn Majah dan Mustadrak karya al-Hakim juga memiliki masalah dalam sanadnya. Dalam sanad Ibnu Majah terdapat perawi bernama Abdurrazzaq yang dinilai majruh (memiliki cacat). Dia dinilai thiqah dan hafizh, namun di sisi lain beliau kemudian mengalami penurunan kemampuan hafalan dan cenderung kepada paham/aliran syiah. Hal ini menyebabkan hadis yang berasal darinya dinilai bermasalah (baca: daif).

Pada riwayat al-Hakim terdapat perawi bernama Khalid al-Haddza’ yang dikenal thiqah namun banyak meriwayatkan secara mursal. Karena perawi ini dinilai memiliki cacat, harusnya hadisnya dinilai lemah. Namun al-Hakim melihat bahwa cacat yang terdapat pada perawi ini tidak berpengaruh terhadap hadis pasukan panji hitam. Tidak ada bukti bahwa hadis ini diriwayatkan secara mursal atau terpotong sanadnya yang dapat menyebabkan hadisnya menjadi lemah. Karenanya, al-Hakim menilai hadis ini sahih berdasarkan kriteria al-Bukhari dan Muslim. Masalah kedua adalah pada perawi bernama Muhammad bin Ibrahim bin Arumah yang tidak diketahui biografinya. Berdasarkan hal ini, perawi ini tergolong majhul. Demikian pula Abu Abdillah al-Shaffar. Sanad yang di dalamnya terdapat perawi majhul patut dicurigai, dan dalam beberapa kasus, dianggap tidak ada alias munqathi’.

Sedangkan riwayat dari Thauban yang terdapat dalam Musnad Ahmad sepertinya harus mengalami nasib yang sama. Dalam sanad ini terdapat perawi bernama Syarik dan Ali bin Zaid. Syarik dikenal saduq, bahasa halus Ibnu Hajar untuk menyebut perawi yang memiliki masalah dalam kekuatan hafalan, namun masih ditolerir. Sedangkan Ali bin Zaid biografinya belum ditemukan. Hal ini menempatkan nama ini dalam golongan majhul.

Berdasarkan analisis ini, dapat disimpulkan bahwa hampir semua sanad hadis ‘pasukan panji hitam’, memiliki sisi kelemahan (daif). Hal ini meneguhkan pernyataan Ibnu Kathir (w. 774 H.) yang menyatakan semua sanad hadis pasukan panji hitam bermasalah. Karena terdapat perawi-perawi kurang kredibel dalam masing-masing sanad.