fbpx
Beranda Gerakan Melacak Sejarah Asal-Usul Gerakan Wahabi di Jazirah Arab

Melacak Sejarah Asal-Usul Gerakan Wahabi di Jazirah Arab

Harakah.idGerakan Wahabi adalah sebuah gerakan ‘pembaharuan’ yang didirikan oleh Muhammad Ibn Abdul Wahhab (1703-1792) di Jazirah Arab. ‘Gerakan pembaharuan’ tersebut dalam merealisasikan gerakannya menggunakan pendekatan yang bersifat radikal dan keras.

- Advertisement -

Gerakan Wahabi adalah sebuah gerakan ‘pembaharuan’ yang didirikan oleh Muhammad Ibn Abdul Wahhab (1703-1792) di Jazirah Arab. ‘Gerakan pembaharuan’ tersebut dalam merealisasikan gerakannya menggunakan pendekatan yang bersifat radikal dan keras.

Menurut pengikutnya, gerakan ini didirikan bertujuan untuk memperbaiki sistem moral agama umat Islam dan mengembalikan ajaran Islam berdasar Al-Qur’an dan Sunnah. 

Muhammad Ibn Abdul Wahab, Pendiri Gerakan Wahabi 

Muhammad Ibn Abdul Wahab lahir 1703-1782 di Uyaina, Nejd. Ia lahir dari keluarga terpelajar. Ayahnya pernah menjabat sebagai hakim, sedang kakeknya seorang mufti besar di Nejd. Sebagian besar latar pendidikannya berasal dari keluarga yaitu ayah dan kakeknya. 

Ketika usia menginjak remaja, Ia diajak ayahnya ke Mekah melaksanakan ibadah haji. Usai ibadah haji, Ia tidak mau cepat-cepat pulang, tetapi belajar berbagai ilmu pengetahuan di Madinah. Di kota ini Ia belajar pada Abdullah Ibn Ibrahim dan Muhammad Hayah Al-Sindi. 

Selama belajar di Madinah, Ia menyaksikan secara langsung kondisi umat Islam saat itu. Menurutnya, masyarakat Madinah tersebut telah banyak melakukan penyimpangan yang tidak sesuai ajaran Al-Quran dan Sunnah. 

Hampir setiap negara yang Ia  dikunjungi, dijumpai makam-makam para wali atau tokoh masyarakat setempat, yang dianggap keramat. Di setiap kota, bahkan kampung-kampung memiliki kuburan syekh atau wali masing-masing. 

Ada peristiwa menarik saat Ia melakukan perjalanan di negara-negara  itu. Ia melihat secara langsung sebagian umat Islam meminta pertolongan dari syekh atau wali yang dikuburkan di dalamnya, untuk menyelesaikan problema kehidupan sehari-hari. Dari fenomena masyarakat yang terjadi, Ia kemudian mencari solusi atas masalah yang Ia hadapi. 

Pengaruh Pemikiran Ibn Taimiyah

Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pembentukan watak, kepribadian dan pola pikirnya adalah Ibn Taimiyah. Menurut Abdul Halim Al-Jundi dalam bukunya Muhammad Ibn Abdul Al- Wahab tahun 1976,  menyebutkan segala pemikiran Ibn Taimiyah dijadikannya sebagai panutan. 

Karya- karya Ibn Taimiyah serta pemikirannya begitu berpengaruh dalam jiwanya. Pengaruh pemikiran Ibn Taimiyah memang luar biasa dalam kepribadiannya, sampai-sampai Qamaruddin Khan dalam bukunya Pemikiran Politik Ibn Taimiyah, menyebut Muhammad Ibn Abdul Wahab bagaikan duplikat Ibn Taimiyah dalam aspek teologi monotheisme. 

Ia gemar berpetualang ke berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan. Dari Mekah, Madinah dan Bashrah,  kemudian di usia 21 tahun melanjutkan perjalanan ke Irak serta Persia mempelajari filsafat maupun sufisme. 

Begitulah aktivitasnya saat muda dan akhirnya di usia 40 tahun, Ia kembali ke kampung halamannya. Ia mulai mengajarkan doktrin-doktrinya hingga ditentang oleh sebagian sanak  keluarganya sendiri

Dukungan Penduduk Kota Dir’iya

Perjalanan sejarah selanjutnya, Ia bersama beberapa keluarga yang mendukungnya meninggalkan tanah kelahirannya menuju Dir’iya. Dir’iya merupakan tempat tujuan dan harapan baru baginya. 

Ia mendapat dukungan dari sejumlah pihak, seperti dukungan kepala suku di Dir’iya bernama Muhammad Ibn Sa’ud, yang kemudian menjadi pendukung setia. Menariknya dalam satu 1 tahun mendapat dukungan dari pengikut hampir seluruh penduduk kota Dir’iya. 

Di kota ini, pengikut Wahabi membangun sebuah masjid sederhana dengan batu kerikil tanpa menara. Sisi lain dari pengikut Wahabi, yaitu persepsi keagamaan mereka berbeda dengan persepsi kaum intelektual. 

Hal ini terlihat dalam sikap Abdul Wahab dan para pengikutnya lebih menonjolkan dari kelompok lainnya. Penekanan terletak pada monotheisme dan selalu menganjurkan kebajikan dan menjahui keburukan.

Ajaran-ajaran Gerakan Wahabi

Ide dasar gerakan yang didirikan oleh Muhammad Ibn Abdul Wahab,  memperbaiki sistem moral dan agama umat Islam, lahir bukan sebagai suatu reaksi terhadap situasi dan kondisi politik dunia Islam saat itu, seperti kerajaan Utsmani dan Mughal di India. 

Gerakan ini muncul sebagai protes terhadap kemorosotan paham tauhid yang dianggap telah disusupi  paham tarekat sejak abad ke-13. 

Menurut Murodi dalam bukunya, ” Melacak Asal-Usul Gerakan Paderi di Sumatera Barat”, ajaran  Wahabi didasari ajaran Ibn Taimiyah dan Imam Hambali. Prinsip dasarnya konsep dasar Ketuhanan Yang Esa  dan mutlak. Mengesakan Tuhan wajib setiap hamba dan bagi yang melakukannya dengan ikhlas terbebas dari syirik besar, masuk surga tanpa dihisab. 

Atau dengan kata lain menurut pandangan Wahabi mengenai konsepsi teologi monoteisme, adalah: hanya Tuhan Yang Esalah yang wajib disembah, selain itu adalah musyrik. Ajaran  menitikberatkan kepada masalah ketauhidan, yang sering disebut Gerakan Al-Muwahhidien.

Karena kebanyakan penganut paham monoteisme mereka selalu berdoa melalui sesuatu yang dianggap keramat. Atau melalui seorang wali dianggap suci. Perbuatan semacam inilah yang sangat dibenci oleh Muhammad Ibn Abdul Wahab. 

Bersikap Radikal dalam Melakukan Gerakan

Melihat keadaan masyarakat Islam yang sering melakukan pemujaan makam-makam para wali dan mempercayakan diri pada syafaat Nabi dan para wali. Ia bangkit meluruskan keyakinan umat Islam yang menyimpang dari ajaran Islam. 

Dalam melakukan gerakan Muhammad Abdul Wahab banyak mengadakan serangan-serangan yang bersifat keras dan radikal. 

Serangan tersebut dilakukan terhadap paham-paham atau kepercayaan masyarakat, kekuasaan para wali, orang-orang saleh dan praktrik-praktik yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. 

Ajaran apapun yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti ziarah ke makam-makam tujuan tertentu jelas-jelas mendapat serangan dari Abdul Wahhab secara radikal.

Saat awal merealisasikan gerakan ini tidaklah mudah alias penuh rintangan. Tidak sedikit dari sebagian kalangan masyarakat Islam di tanah Arab menentang doktrin-doktrinnya melalui kegiatan dakwahnya, karena dianggap radikal. 

Namun, kelompok Wahabi tidak gentar dan terus-menerus melakukan pemberontakan-pemberontakan di pelbagai negara. Di Karbala tahun 1862 M, mereka menggeruduk banyak tempat yang dianggap bid’ah sebagai usaha melakukan gerakan reformasi. 

Beberapa tahun kemudian, mereka melakukan serangan terhadap kota Madinah. Kubah yang ada di kuburan-kuburan dihancurkan termasuk hiasan-hiasan diatas kuburan nabi dirusak dan menyerang Mekah. Kiswah sutera yang menutup Ka’bah juga dirusak, karena semua dianggap bid’ah. 

Pemerintah Turki melakukan serangan balasan terhadap perbuatan pengikut Wahabi, yang telah meresahkan kehidupan politik dan sosial. 

Kaum Wahabi melakukan gerakan reformasi, menghapus kebiasaan yang dianggap tidak baik dengan secara militer, keras dan radikal, sehingga menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat Islam

Kejatuhan Wahabi Oleh Pasukan Perang Muhammad Ali Pasha

Pada tahun 1789 M Mekah, Madinah, Haramain menjadi daerah kekuasaan Wahabi di bawah pimpinan Sa’ud Ibn Abdul Aziz selama 8 tahun. Semenjak itu, Muhammad Ali Pasya diangkat menjadi Gubernur jendral kawasan Timur Tengah yang berkedudukan di Mesir.  

Penguasaan Wahabi atas Hijaz, mendorong Ali Pasya berusaha melakukan serangan mengusir Wahabi dengan mengirim pasukan. Pasukan ini ditugaskan membebaskan tanah Hejaz yaitu Mekah, Medinah dari tangan Wahabi.  

Pasukan Muhammad Ali Pasya ketika itu, berhasil melakukan serangan terhadap Wahabi terjadi pada tahun 1879-1804 M atau 7 tahun lamanya, yang tidak sedikit memakan korban, manusia dan harta benda. Akhirnya pasukan yang dipimpin oleh Ali Pasya berhasil memukul mundur kelompok Wahabi. 

Pada saat itu pasukan Ali Pasya menangkap Muhammad, salah satu cucu Muhammad Abdul Wahab. Hal ini bukan berarti gerakan ini mati, gerakan makin brutal dalam melakukan aksinya, apalagi setelah dijadikan paham resmi negara Arab Saudi membuat Wahabi makin garang dan keras. 

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...