Beranda Keislaman Hikmah Melatih Diri Agar Tidak Tergiur Dunia, Begini Ajaran Zuhud Imam al-Qusyayri

Melatih Diri Agar Tidak Tergiur Dunia, Begini Ajaran Zuhud Imam al-Qusyayri

Harakah.idZuhud adalah laku hati untuk tidak tergiur oleh kenikmatan yang fana. Meski berkaitan dengan hati, tapi para sufi mencoba menjelaskannya agar lebih mudah dipahami, termasuk Imam al-Qusyayri.

Kenyataannya, para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan zuhud. Orang yang zuhud tidak merasa senang dengan berlimpah ruahnya harta dan tidak merasa susah ketika kehilangan semuanya. Dzun Nun al-Misri yang dikutip oleh Amir an-Najar mengatakan bahwa yang dikatakan zuhud adalah orang yang zuhud jiwanya, karena ia meninggalkan kenikmatan yang fana untuk mendapatkan kenikmatan yang baqa. Pengertian zuhud dari Dzun Nun al-Misri diikuti oleh Anas Ismail Abu Daud, zuhud adalah sebuah sikap meninggalkan nikmat dunia karena mencari kenikmatan akhirat (tarku rahat al-dunya thaliban li rahat al-akhirat).

Tak berbeda jauh dengan pengertian yang telah diperkenalkan oleh para ulama Imam al-Qusyayri mendefinisikan zuhud dalam pengertian umum tersebut. Selain menempatkannya sebagai bagian dari maqam, al-Qusyayri juga menempatkan zuhud dalam tataran akhlaq. Maka dapat dipetakan bahwa pemikiran al-Qusyayri tentang zuhud bertumpu pada dua hal; maqâm dan akhlaq, dengan basis argumentasi ayat al-Qur’an, Hadis dan pendapat ulama tasawuf. Al-Qusyayri membagi zuhud dalam tiga tingkatan, seperti pembagian al-Ghazali; Pertama, zuhud dari barang yang haram. Kedua, meninggalkan barang yang halal. Ketiga, hanya pasrah terhadap pemberian Allah SWT dan tidak berkehendak selain dari Allah SWT.

Konsep zuhud al-Qusyayri memang terlihat agak ekstrem, ini bisa dilihat dari beberapa pendapat yang diambil oleh al-Qusyayri dalam merumuskan konsep zuhud-nya. Pertama, ia menukil pendapat gurunya sendiri yaitu Abu Ali al-Daqqaq, yang mengatakan, zahid mempunyai sifat anti kemewahaan dunia, dan tidak berkeinginan membangun pondok dan Majlis Ta’lim. Karena hal itu hanya akan mengakibatkan dirinya sibuk sehingga akan melupakan Allah SWT.

Lebih jauh al-Qusyayri mengatakan bahwa zuhud membawa implikasi mendermakan harta benda, sedangkan cinta membawa implikasi mendermakan diri sendiri sehingga seseorang yang hatinya sudah dipenuhi cinta pada dunia maka ia seperti orang yang tidak mempunyai harga diri, begitu juga sebaliknya apabila hatinya diliputi cinta pada Allah SWT maka ia akan mengabdikan dirinya hanya pada Allah SWT semata.

Ibn al-Jalla sebagaimana dikutip oleh al-Qusyayri mengatakan bahwa zuhud adalah memandang kehidupan dunia hanya sekedar pergeseran bentuk yang tidak mempunyai arti dalam pandangan. Oleh karenanya ia akan mudah sirna, tanda-tanda dari zuhud adalah merasa sangat senang meninggalkan segala bentuk kehidupan dan harta benda tanpa ada keterpaksaan.

Zuhud adalah ruang tempat orang yang terisolir dalam kehidupan dunia, sedangkan ma‘rifat adalah orang yang terisolir dalam kehidupan akhirat, dan Allah SWT tidak rela jika mereka menikmati dunia. Pendapat ini seperti yang diucapkan oleh al-Sirri dan Nashr Abadi yang dinukil oleh al-Qusyayri dalam al-Risalah. Senada dengan pendapat itu, Abdul Wahid bin Zayd berkata bahwa arti zuhud adalah meninggalkan dinar dan dirham sekaligus meninggalkan semua aktifitas yang akan mengakibatkan lupa pada Allah SWT.

Dari pendapat ini al-Qusyayri berharap bahwa zuhud tidak akan bisa dicapai kecuali mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia, melepaskan diri sepenuhnya dari keterikatan harta benda, baik yang halal apalagi yang haram. Tujuan dari konsep zuhud ini hanya Allah SWT semata. Apabila seorang zahid lupa pada Allah SWT karena dunia, maka hal itu suatu kesalahan besar. Seorang zahid harus menyerahkan hidupnya hanya pada Allah SWT. Karena kebersamaan dengan Allah SWT adalah tujuan hidupnya.

al-Qusyayri berusaha mendekontruksi konsep zuhud yang terlihat ekstrem dan menolak dunia menjadi sebuah konsep yang dinamis. Dalam tataran akhlaq, al-Qusyayri tidak malah menganjurkan untuk meninggalkan dunia, tapi ia menekankan bagaimana orang yang kaya bisa memanfaatkan hartanya untuk orang lain, dan tidak ada rasa kehilangan apabila harta tersebut bermanfaat bagi orang lain, karena harta yang dimiliki adalah titipan dari Allah SWT, dan dia tidak tergantung pada harta atau dunia. Kalau dilihat dari ayat di atas pastilah maklum bagaimana orang-orang Anshar membantu kaum Muhajirin dari Makkah yang datang hanya membawa keperluan seadanya.

al-Qusyayri menukil pendapat Sufyan al-Tsawri bahwa seorang zahid bukan memakan sesuatu yang keras dan memakai baju yang kasar, tapi lebih bersikap rela terhadap pemberian Allah SWT dan selalu bersyukur. Seorang zahid sejati adalah orang yang rendah hati di dunia ini, bersikap mengasihi pada orang lain dan memperhatikan kebutuhan umat Muslim.

Menurut Ahmad bin Hanbal arti zuhud adalah memperkecil cita-cita dan kehendak dari dunia. Ia pun membagi zuhud menjadi tiga, di antaranya: pertama, meninggalkan hal yang haram. Ini adalah zuhud orang yang awam. Kedua, meninggalkan yang halal. Ini adalah zuhd orang yang istimewa. Ketiga, meninggalkan segala hal yang menyibukkan sehingga jauh dari Allah SWT. Zuhud model terakhir ini hanya bagi orang yang ma‘rifat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...