fbpx
Beranda Keislaman Hikmah Melatih Diri Agar Tidak Tergiur Dunia, Begini Ajaran Zuhud Imam al-Qusyayri

Melatih Diri Agar Tidak Tergiur Dunia, Begini Ajaran Zuhud Imam al-Qusyayri

Harakah.idZuhud adalah laku hati untuk tidak tergiur oleh kenikmatan yang fana. Meski berkaitan dengan hati, tapi para sufi mencoba menjelaskannya agar lebih mudah dipahami, termasuk Imam al-Qusyayri.

Kenyataannya, para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan zuhud. Orang yang zuhud tidak merasa senang dengan berlimpah ruahnya harta dan tidak merasa susah ketika kehilangan semuanya. Dzun Nun al-Misri yang dikutip oleh Amir an-Najar mengatakan bahwa yang dikatakan zuhud adalah orang yang zuhud jiwanya, karena ia meninggalkan kenikmatan yang fana untuk mendapatkan kenikmatan yang baqa. Pengertian zuhud dari Dzun Nun al-Misri diikuti oleh Anas Ismail Abu Daud, zuhud adalah sebuah sikap meninggalkan nikmat dunia karena mencari kenikmatan akhirat (tarku rahat al-dunya thaliban li rahat al-akhirat).

Tak berbeda jauh dengan pengertian yang telah diperkenalkan oleh para ulama Imam al-Qusyayri mendefinisikan zuhud dalam pengertian umum tersebut. Selain menempatkannya sebagai bagian dari maqam, al-Qusyayri juga menempatkan zuhud dalam tataran akhlaq. Maka dapat dipetakan bahwa pemikiran al-Qusyayri tentang zuhud bertumpu pada dua hal; maqâm dan akhlaq, dengan basis argumentasi ayat al-Qur’an, Hadis dan pendapat ulama tasawuf. Al-Qusyayri membagi zuhud dalam tiga tingkatan, seperti pembagian al-Ghazali; Pertama, zuhud dari barang yang haram. Kedua, meninggalkan barang yang halal. Ketiga, hanya pasrah terhadap pemberian Allah SWT dan tidak berkehendak selain dari Allah SWT.

Konsep zuhud al-Qusyayri memang terlihat agak ekstrem, ini bisa dilihat dari beberapa pendapat yang diambil oleh al-Qusyayri dalam merumuskan konsep zuhud-nya. Pertama, ia menukil pendapat gurunya sendiri yaitu Abu Ali al-Daqqaq, yang mengatakan, zahid mempunyai sifat anti kemewahaan dunia, dan tidak berkeinginan membangun pondok dan Majlis Ta’lim. Karena hal itu hanya akan mengakibatkan dirinya sibuk sehingga akan melupakan Allah SWT.

nucare-qurban

Lebih jauh al-Qusyayri mengatakan bahwa zuhud membawa implikasi mendermakan harta benda, sedangkan cinta membawa implikasi mendermakan diri sendiri sehingga seseorang yang hatinya sudah dipenuhi cinta pada dunia maka ia seperti orang yang tidak mempunyai harga diri, begitu juga sebaliknya apabila hatinya diliputi cinta pada Allah SWT maka ia akan mengabdikan dirinya hanya pada Allah SWT semata.

Ibn al-Jalla sebagaimana dikutip oleh al-Qusyayri mengatakan bahwa zuhud adalah memandang kehidupan dunia hanya sekedar pergeseran bentuk yang tidak mempunyai arti dalam pandangan. Oleh karenanya ia akan mudah sirna, tanda-tanda dari zuhud adalah merasa sangat senang meninggalkan segala bentuk kehidupan dan harta benda tanpa ada keterpaksaan.

Zuhud adalah ruang tempat orang yang terisolir dalam kehidupan dunia, sedangkan ma‘rifat adalah orang yang terisolir dalam kehidupan akhirat, dan Allah SWT tidak rela jika mereka menikmati dunia. Pendapat ini seperti yang diucapkan oleh al-Sirri dan Nashr Abadi yang dinukil oleh al-Qusyayri dalam al-Risalah. Senada dengan pendapat itu, Abdul Wahid bin Zayd berkata bahwa arti zuhud adalah meninggalkan dinar dan dirham sekaligus meninggalkan semua aktifitas yang akan mengakibatkan lupa pada Allah SWT.

Dari pendapat ini al-Qusyayri berharap bahwa zuhud tidak akan bisa dicapai kecuali mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia, melepaskan diri sepenuhnya dari keterikatan harta benda, baik yang halal apalagi yang haram. Tujuan dari konsep zuhud ini hanya Allah SWT semata. Apabila seorang zahid lupa pada Allah SWT karena dunia, maka hal itu suatu kesalahan besar. Seorang zahid harus menyerahkan hidupnya hanya pada Allah SWT. Karena kebersamaan dengan Allah SWT adalah tujuan hidupnya.

al-Qusyayri berusaha mendekontruksi konsep zuhud yang terlihat ekstrem dan menolak dunia menjadi sebuah konsep yang dinamis. Dalam tataran akhlaq, al-Qusyayri tidak malah menganjurkan untuk meninggalkan dunia, tapi ia menekankan bagaimana orang yang kaya bisa memanfaatkan hartanya untuk orang lain, dan tidak ada rasa kehilangan apabila harta tersebut bermanfaat bagi orang lain, karena harta yang dimiliki adalah titipan dari Allah SWT, dan dia tidak tergantung pada harta atau dunia. Kalau dilihat dari ayat di atas pastilah maklum bagaimana orang-orang Anshar membantu kaum Muhajirin dari Makkah yang datang hanya membawa keperluan seadanya.

al-Qusyayri menukil pendapat Sufyan al-Tsawri bahwa seorang zahid bukan memakan sesuatu yang keras dan memakai baju yang kasar, tapi lebih bersikap rela terhadap pemberian Allah SWT dan selalu bersyukur. Seorang zahid sejati adalah orang yang rendah hati di dunia ini, bersikap mengasihi pada orang lain dan memperhatikan kebutuhan umat Muslim.

Menurut Ahmad bin Hanbal arti zuhud adalah memperkecil cita-cita dan kehendak dari dunia. Ia pun membagi zuhud menjadi tiga, di antaranya: pertama, meninggalkan hal yang haram. Ini adalah zuhud orang yang awam. Kedua, meninggalkan yang halal. Ini adalah zuhd orang yang istimewa. Ketiga, meninggalkan segala hal yang menyibukkan sehingga jauh dari Allah SWT. Zuhud model terakhir ini hanya bagi orang yang ma‘rifat.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Berpotensi Besar Melahirkan Kecongkakan Sosial, Para Sufi Kritik Ritual Ibadah Haji

Harakah.id - Ketika berhaji diniatkan hanya untuk mendapatkan status sosial, maka sejatinya ia telah hilang dari visi awal ibadah haji itu...

Meskipun Kontroversial, Soal Etika Beragama, Kita Harus Belajar Kepada Vicky Prasetyo

Harakah.id - Sedang marak berita penahanan Vicky Prasetyo. Meski kontroversial, Vicky tetap bisa kita jadikan acuan soal etika beragama. Dalam sebuah...

Ada Pahala Besar di Balik Anjuran Berpuasa di 10 Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah

Harakah.id - Ada amalan lain yang disunnahkan bagi umat Islam pada bulan Dzul Hijjah, yaitu berpuasa. Di Bulan ini, kita sangat...

Lima Nilai Keutamaan Bulan Dzul Hijjah yang Harus Kamu Ketahui!

Harakah.id - Pada dasarnya, semua hari maupun bulan itu sama. Hanya kualitas perbuatan pribadi masing-masing saja yang membedakannya. Akan tetapi, Islam...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Satu Kata dalam Al-Quran Yang Cara Bacanya Aneh

Harakah.id - Di antara kata Alquran terdapat kata yang cara bacanya tidak lazim. Berikut adalah contohnya. Membaca Alquran harus...

Jangan Tertipu, Ini 10 Ciri-Ciri Al-Mahdi yang Datang di Akhir Zaman

Harakah.id ­- Keterangan datangnya dan ciri-ciri Al-Mahdi bersumber dari hadis-hadis Nabi Saw. Di antara tanda-tanda akhir zaman adalah...