Meluruskan Tafsir Ning Imaz yang Berpotensi Membahayakan Sekaligus Merugikan Posisi Perempuan

0
69

Harakah.id Menurut saya, ketidaksetujuan Eko ada benarnya juga. Tafsir Ning Imaz berpotensi membahayakan sekaligus merugikan posisi perempuan, karena hanya akan melanggengkan stereotype dan mematenkan stigma “perempuan sebagai sumber fitnah”.

Dalam sebuah ceramah yang diunggah channel NU – Online, Ustazah Imaz Fatimatuz Zahrah (Ning Imaz) menyebut bahwa orientasi laki-laki adalah perempuan. Sehingga, di surga nanti laki-laki diberi bidadari. Sementara perempuan lebih menyukai perhiasan karena ia adalah perhiasan itu sendiri. Karena itu kita tidak mengenal bidadari untuk perempuan.

Penjelasan seperti ini ia simpulkan dari penafsiran atas QS Al-Imron ayat 14:

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”.

Benarkah seperti itu? Sayang sekali perbincangan di media sosial yang sempat viral hari hari ini bukanlah mendiskusikan tentang tafsirnya melainkan pernyataan pegiat media sosial, Eko Kuntadhi, yang mengekspresikan ketidaksukaannya terhadap penafsiran Ning Imaz ini dengan kata-kata kurang pantas. Akibatnya,diskursus penafsirannya tenggelam oleh kata “tolol” yang diucapkan Eko.

Menurut saya, ketidaksetujuan Eko ada benarnya juga. Tafsir Ning Imaz berpotensi membahayakan sekaligus merugikan posisi perempuan, karena hanya akan melanggengkan stereotype dan mematenkan stigma “perempuan sebagai sumber fitnah”. Pendapat “orientasi tertinggi laki-laki adalah perempuan” hanya akan mereduksi perempuan semata sebagai makhluk seksual, mesin pemuas hasrat laki-laki

Sejatinya Ning Imaz tidak membuat penafsiran baru terhadap ayat tersebut. Mayoritas alam pikir orang-orang pesantren tradisional masih seperti itu. (Lihat tulisan Ahmad Muntaha di NU Online menanggapi tafsir Ning Imaz)

Meskipun sebetulnya mudah sekali dibantah oleh banyak keterangan Al-Quran maupun Hadis yang menjelaskan bahwa pucak kenikmatan seorang hamba di surga nanti adalah melihat Allah SWT (berjumpa dengan Allah SWT).

Saya akan mencoba memberikan penafsiran berbeda atas ayat tersebut dengan mengoprasikan metode mubadalah yang dikenalkan Kiai Faqih Abdul Kodir. Mubadalah adalah sebuah metode interpretasi teks untuk menemukan makna yang relasional di antara para pihak yang sama-sama disapa dan dituju sebagai subjek yang setara.

Jika menggunakan perspektif mubadalah, QS Al-Imron ayat 14 bukan hanya ditunjukkan utk laki-laki, karena perempuan juga memiliki hasrat seksual kepada laki-laki, sama-sama menyukai perhiasan, mencintai anak dll sebagaimana disebut dalam ayat tersebut. Ayat ini menjelaskan sifat alamiyah manusia (laki/perempuan). Karena itu, diksi yang dipakai “al-nas” bukan “al-rijal”.

Pelajaran dari kasus Eko Kuntadhi adalah meskipun berbeda pendapat, kita tidak perlu menghina dan memaki-maki pendapat orang yang berbeda dengan kita. Toh, semuanya adalah hasil penafsiran manusia yang tidak menutup kemungkinan salah. Kita tentu masih ingat statemen Imam Syafii yang sangat terkenal: pendapatku benar, namun tidak menutup kemungkinan salah. Pendapat orang lain salah tapi bisa jadi benar. Imam Syafii bukan penganut skeptisisme. Pernyataan ini bentuk kerendahatian beliau.

Saya menikmati beberapa ceramah beliau, semisal pandangan beliau tentang “kawin paksa” (perjodohan), hak-hak istri dalam keluarga, termasuk hak dalam bekerja, dll

Ning Imaz sering tampil bersama suami tercintanya, Gus Rifqil, menjawab persoalan-persoalan keagamaan dengan sajian yang cukup ringan, mudah dicerna dan lebih banyak menyasar generasi millenial. Keduanya mewakili pandangan tradisionalisme islam yang sedang dibranding habis-habisan oleh NU-Online. Kita harus mendukung keduanya agar tetap konsisten membawakan konten-konten keagamaan yang mencerahkan. Jangan dibully dulu nanti takut mutung. He-he-he

Salam

Jamaluddin Mohammad