Beranda Keislaman Muamalah Memahami Definisi Bughat dalam Kitab Ulama Syafi’iyyah

Memahami Definisi Bughat dalam Kitab Ulama Syafi’iyyah

Harakah.idSecara bahasa, arti dari bughat sendiri ialah para pemberontak. Sebagai masyarakat yang umumnya mengikuti mazhab Syafi’i, hendaknya kita memahami definisi bughat dalam kitab kitab ulama Syafi’iyyah. Berikut adalah penjelasan terkait definisi dan kriteria orang yang yang masuk dalam kategori bughat.

Istilah bughat sepertinya bukan lagi menjadi istilah yang asing di telinga masyarakat muslim Indonesia. Secara umum, bughat banyak diartikan sebagai orang-orang yang memberontak negaranya. Karena memang secara bahasa, arti dari bughat sendiri ialah para pemberontak. Berikut adalah penjelasan terkait definisi dan kriteria orang yang yang masuk dalam kategori bughat.

Memberontak pemimpin atau imam bukanlah perilaku yang dapat dibenarkan oleh Islam. Terlebih apabila yang diberontak ialah pemimpin yang secara sah dipilih oleh rakyatnya, serta tidak terbukti menyelewengkan kekuasaannya.

Ketika memberikan definisi bughat, ulama Syafi’iyyah memberikan definisi yang tak jauh berbeda dengan yang dikemukakan oleh ulama fikih dari ketiga mazhab lainnya. Di antaranya ialah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Zakariya al-Anshari dalam kitab Fathul Wahhab bi Syarh Minhajit Thullab.

البُغَاةُ هُمْ مُخَالِفُو إِمَامٍ بِتَأْوِيْلٍ بَاطِلٍ ظَانًا وَشَوْكَةٍ لَهُمْ.

“Bughat adalah mereka yang menyalahi imam dengan pentakwilah yang batal dalam hal persangkaan dan adanya kekuatan bagi mereka”

Pengertian lebih rinci juga dapat dirujuk pada pendapat Imam An-Nawawi dalam kitab beliau yang berjudul Minhajut Thalibin.

البُغَاةُ هُمْ مُخَالِفُو الإِمَامِ بِخُرُوْجٍ عَلَيْهِ وَتَرْكِ الاِنْقِيَادِ لَهُ أَوْ مَنْعِ حَقٍّ تَوَجَّهَ عَلَيْهِمْ بِشَرْطِ شَوْكَةٍ لَهُمْ وَتَأْوِيْلٍ وَمُطَاعٍ فِيْهِمْ.

“Bughat adalah mereka yang menyalahi imam dengan jalan memberontak kepadanya, tidak menaatinya, atau mencegah hak yang yang seharusnya wajib mereka tunaikan (kepada imam), dengan syarat mereka mempunyai kekuatan (syaukah), ta`wil, dan pemimpin yang ditaati (mutha’) dalam kelompok tersebut.”

Berdasar pengertian tersebut, dapat dimengerti bahwa seseorang dapat disebut bughat bukan hanya apabila ia melanggar peraturan pemimpin yang sah, atau dalam konteks di sini, melanggar peraturan negara semata. Tetapi orang yang melanggar atau menolak imam, disertai dengan tiga syarat di dalamnya, yaitu; adanya kekuatan (syaukah), penafsiran (ta’wil) yang sesat atas Al-Qur’an dan hadis yang mereka jadikan dalil, serta mengangkat pemimpin lain di dalam sebuah negara (imam mutha’) selain pemimpin yang sah.

Terkait pensyaratan adanya kekuatan (syaukah) bagi orang yang disebut bughat, Asy-Syekh al-Khatib asy-Syarbini memberikan penjelasan dalam kitab Mughnil Muhtaj bahwasanya, kekuatan ini tidak bisa dimaknai dengan kekuatan untuk menyerang (offensive) semata. Tetapi beliau juga menggolongkan di dalamnya, sebuah kekuatan yang sifatnya bertahan (defensive). Dalam hal ini dicontohkan dengan didirikannya sebuah benteng (hishnun) sebagai basis pertahanan. Apabila ada pertanyaan apakah markas dapat dikiyaskan sebagai kekuatan pertahanan, belum dijumapai penjelasan lebih lanjut terkait hal ini.

Kemudian terkait adanya pensyaratan takwil yang rusak (ta’wil fasid) terhadap nash Al-Qur’an dan hadis, Al-Khatib asy-Syarbini juga menambahkan bahwa maksudnya ialah pentakwilan tersebut digunakan sebagai landasan keyakinannya akan kebolehan memberontak seorang pemimpin.

Masih mengutip penjelasan dalam kitab Mughnil Muhtaj, adanya pensyaratan orang yang ditaati (mutha’) maksudnya ialah seorang pemimpin yang mereka angkat selain pemimpin yang sah dari suatu negara. Hal ini sekaligus menjadi sebuah petunjuk akan adanya kekuatan (syaukah). Hampir senada dengan penjelasan tersebut, Syekh Zakariya al-Anshari juga mensyaratkan adanya orang yang diikuti atau ditaati, tetapi tidak secara lugas dengan pengangkatan seseorang yang dijadikan pemimpin atau imam.

Pelarangan pemberontakan sebenarnya bukan tanpa maksud. Karena di samping supaya dapat memelihara situasi dan kondisi negara yang aman dan tentram, dengan tidak adanya bughat, persatuan dan kesatuan warga negara pun akan terus terjaga. Seandainya dalam suatu negara terdabat sekelompok bughat, hal itu akan menjadi aral dalam proses pembangunan dan kemajuan negara, karena terlalu sibuk mengurusi pemberontak. Wallahu a’lam bis shawab.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...