fbpx
Beranda Keislaman Muamalah Memahami Definisi Bughat dalam Kitab Ulama Syafi’iyyah

Memahami Definisi Bughat dalam Kitab Ulama Syafi’iyyah

Harakah.idSecara bahasa, arti dari bughat sendiri ialah para pemberontak. Sebagai masyarakat yang umumnya mengikuti mazhab Syafi’i, hendaknya kita memahami definisi bughat dalam kitab kitab ulama Syafi’iyyah. Berikut adalah penjelasan terkait definisi dan kriteria orang yang yang masuk dalam kategori bughat.

- Advertisement -

Istilah bughat sepertinya bukan lagi menjadi istilah yang asing di telinga masyarakat muslim Indonesia. Secara umum, bughat banyak diartikan sebagai orang-orang yang memberontak negaranya. Karena memang secara bahasa, arti dari bughat sendiri ialah para pemberontak. Berikut adalah penjelasan terkait definisi dan kriteria orang yang yang masuk dalam kategori bughat.

Memberontak pemimpin atau imam bukanlah perilaku yang dapat dibenarkan oleh Islam. Terlebih apabila yang diberontak ialah pemimpin yang secara sah dipilih oleh rakyatnya, serta tidak terbukti menyelewengkan kekuasaannya.

Ketika memberikan definisi bughat, ulama Syafi’iyyah memberikan definisi yang tak jauh berbeda dengan yang dikemukakan oleh ulama fikih dari ketiga mazhab lainnya. Di antaranya ialah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Zakariya al-Anshari dalam kitab Fathul Wahhab bi Syarh Minhajit Thullab.

البُغَاةُ هُمْ مُخَالِفُو إِمَامٍ بِتَأْوِيْلٍ بَاطِلٍ ظَانًا وَشَوْكَةٍ لَهُمْ.

“Bughat adalah mereka yang menyalahi imam dengan pentakwilah yang batal dalam hal persangkaan dan adanya kekuatan bagi mereka”

Pengertian lebih rinci juga dapat dirujuk pada pendapat Imam An-Nawawi dalam kitab beliau yang berjudul Minhajut Thalibin.

البُغَاةُ هُمْ مُخَالِفُو الإِمَامِ بِخُرُوْجٍ عَلَيْهِ وَتَرْكِ الاِنْقِيَادِ لَهُ أَوْ مَنْعِ حَقٍّ تَوَجَّهَ عَلَيْهِمْ بِشَرْطِ شَوْكَةٍ لَهُمْ وَتَأْوِيْلٍ وَمُطَاعٍ فِيْهِمْ.

“Bughat adalah mereka yang menyalahi imam dengan jalan memberontak kepadanya, tidak menaatinya, atau mencegah hak yang yang seharusnya wajib mereka tunaikan (kepada imam), dengan syarat mereka mempunyai kekuatan (syaukah), ta`wil, dan pemimpin yang ditaati (mutha’) dalam kelompok tersebut.”

Berdasar pengertian tersebut, dapat dimengerti bahwa seseorang dapat disebut bughat bukan hanya apabila ia melanggar peraturan pemimpin yang sah, atau dalam konteks di sini, melanggar peraturan negara semata. Tetapi orang yang melanggar atau menolak imam, disertai dengan tiga syarat di dalamnya, yaitu; adanya kekuatan (syaukah), penafsiran (ta’wil) yang sesat atas Al-Qur’an dan hadis yang mereka jadikan dalil, serta mengangkat pemimpin lain di dalam sebuah negara (imam mutha’) selain pemimpin yang sah.

Terkait pensyaratan adanya kekuatan (syaukah) bagi orang yang disebut bughat, Asy-Syekh al-Khatib asy-Syarbini memberikan penjelasan dalam kitab Mughnil Muhtaj bahwasanya, kekuatan ini tidak bisa dimaknai dengan kekuatan untuk menyerang (offensive) semata. Tetapi beliau juga menggolongkan di dalamnya, sebuah kekuatan yang sifatnya bertahan (defensive). Dalam hal ini dicontohkan dengan didirikannya sebuah benteng (hishnun) sebagai basis pertahanan. Apabila ada pertanyaan apakah markas dapat dikiyaskan sebagai kekuatan pertahanan, belum dijumapai penjelasan lebih lanjut terkait hal ini.

Kemudian terkait adanya pensyaratan takwil yang rusak (ta’wil fasid) terhadap nash Al-Qur’an dan hadis, Al-Khatib asy-Syarbini juga menambahkan bahwa maksudnya ialah pentakwilan tersebut digunakan sebagai landasan keyakinannya akan kebolehan memberontak seorang pemimpin.

Masih mengutip penjelasan dalam kitab Mughnil Muhtaj, adanya pensyaratan orang yang ditaati (mutha’) maksudnya ialah seorang pemimpin yang mereka angkat selain pemimpin yang sah dari suatu negara. Hal ini sekaligus menjadi sebuah petunjuk akan adanya kekuatan (syaukah). Hampir senada dengan penjelasan tersebut, Syekh Zakariya al-Anshari juga mensyaratkan adanya orang yang diikuti atau ditaati, tetapi tidak secara lugas dengan pengangkatan seseorang yang dijadikan pemimpin atau imam.

Pelarangan pemberontakan sebenarnya bukan tanpa maksud. Karena di samping supaya dapat memelihara situasi dan kondisi negara yang aman dan tentram, dengan tidak adanya bughat, persatuan dan kesatuan warga negara pun akan terus terjaga. Seandainya dalam suatu negara terdabat sekelompok bughat, hal itu akan menjadi aral dalam proses pembangunan dan kemajuan negara, karena terlalu sibuk mengurusi pemberontak. Wallahu a’lam bis shawab.

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...