Beranda Khazanah Memahami Hakikat Islam Dapat Menjadi Cara Menangkal Ajaran Teroris

Memahami Hakikat Islam Dapat Menjadi Cara Menangkal Ajaran Teroris

Harakah.idKebodohan yang melekat di masyarakat Islam bisa menjadi lahan subur bagi tumbuhnya terorisme.

Menangkal ajaran teroris. Kebodohan dalam hal agama, yaitu tak memahami Islam dengan baik dan benar, akan menggiring ke lembah bencana. Betapa tidak, kebodohan yang ada pada seseorang akan menyeretnya berperilaku dan bersikap menyalahi agama Allah dan Rasul-Nya. Ia bisa menjadi penentang al-Haqq, meremehkan kebenaran.

Jika demikian adanya, inilah sumbu bagi tersulutnya kebinasaan. Allah mengingatkan hal ini dalam QS. An-Nur ayat 6, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”

Rasulullah bersabda, yang artinya: “Dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi siapapun yang menentang/menyelisihi perintahku.” (HR. Ahmad)

Mengapa menyelisihi perintah Rasul? Sebab, ia tidak berilmu tentang perintah dan bimbingan beliau.

Kebodohan yang melekat di masyarakat Islam bisa menjadi lahan subur bagi tumbuhnya terorisme. Kekurangpahaman sebagian kaum muslimin terhadap ajaran Islam yang sebenarnya bakal menjadi celah menyusupnya paham-paham sempalan.

Di antara sebab terseretnya manusia dalam pusaran paham sempalan adalah kebodohan dalam memaknai ayat atau hadits. Penafsiran terhadap satu ayat atau hadits tidak didasarkan pada kaidah baku sebagaimana dituntunkan oleh para ulama salaf, yaitu para sahabat Nabi sebagai generasi terbaik umat ini, dan para ulama yang mengikuti jejak mereka.

Di sisi lain, masyarakat muslim terlalu jauh dari bimbingan ilmu Islam sehingga tidak mampu memilah mana ajaran yang benar dan mana ajaran yang salah. Lengkaplah sudah dua sisi kebodohan. Dari satu sisi, pendakwah tidak tahu penafsiran yang benar tentang ayat atau hadits. Disisi lain, yang menerima dakwah juga tidak memiliki bekal untuk menyaring ajaran-ajaran yang tidak benar.

Radikalisme dan Terorisme Disebabkan Kebodohan Terhadap Ajaran Islam

Betapa banyak anak muda yang masih polos dijejali paham ekstrem dan radikal, dengan kehampaan ilmu agam yang ada pada mereka, dipiculah semangat berperang. Doktrin ekstrem dengan kemasan jihad disuntikkan kepada mereka, akhirnya, daya tempur melibas musuh meluap-luap. Siapa yang tidak sepaham dengan mereka dinyatakan sebagai musuh atau kaki tangan kaum kafir. Sikap ekstrem ini berujung pada pengkafiran serta tindakan teror.

Mereka rajin membaca al-Qur’an, tetapi tidak bisa memahami dengan benar ayat-ayat yang mereka baca. Akibatnya, apa yang mereka baca tak bisa menembus hati sehingga tidak bisa memahami dengan baik dan benar apa yang mereka baca, apalagi mengamalkannya. Secara bertahap mereka tergiring untuk keluar dari ketentuan-ketentuan islam yang indah. Mereka terjatuh pada penyimpangan dalam keadaan merasa yakin diatas kebenaran, yakin kalau sedang memperjuangkan islam.

Kondisi mereka tak ubahnya seperti yang disebutkan dalam firman Allah, QS. Al-Kahfi ayat 103-105

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا * أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا*

“Katakan, “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya, mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat Rabb mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.”

Seorang pakar tafsir terkemuka, Ibnu Katsir (w. 774 H), menyebutkan pendapat sahabat Ali bin Abi Thalib, dan Adh-Dhahhak bahwa ayat ini berlaku untuk kaum Khawarij, kemudian beliau menggarisbawahi bahwa ayat diatas bersifat lebih umum, yaitu mencakup Yahudi, Nasrani, Khawarij, dan semua pihak yang beribadah kepada Allah dengan cara yang salah, sementara dia meyakini berada diatas kebenaran dan amalannya diterima. Padahal dia dalam kondisi salah dan amalannya tertolak. (Tafsir Ibn Katsir)

Seberapa pentingkah membaca?

Terkadang kita mengaku beragama namun seringkali justru kita jauh meninggalkan ajaran agama kita, bahkan dalam hal yang sederhana yaitu perintah untuk rajin membaca kita abaikan perintah tersebut, akibatnya kebodohan merajalela dimana-mana.

Walaupun zaman semakin canggih, namun sayangnya, SDM banyak orang tidak semuanya ikut canggih, namun justru semakin tumpul akibat malas membaca.

Saat puncak kejayaan Islam dulu, sejarah mencatat karena umat islam saat itu menjalankan perintah agama secara baik dan utuh, termasuk dalam hal menjalankan perintah “bacalah”.

Al-Qur’an, selain sebagai kitab suci umat Islam, juga merupakan salah satu sumber utama dalam setiap disiplin keilmuan, menjawab problematika yang tengah dihadapi para pemikir-pemikir, baik dari pemikir Islam, maupun pemikir barat, mengapa tidak?

Hal itu karena perintah membaca terkandung dalam al-Qur’an yang mengandung konsep tentang aspek-aspek kehidupan termasuk di dalamnya adalah ilmu, sehingga wahyu menjadi satu-satunya sumber dan asas bagi aktivitas membaca dan menulis itu sendiri.

Dalam kondisi seperti itu, tradisi intelektual dalam sejarah peradaban islam dapat hidup dan berkembang secara dinamis. Hal itu menunjukkan bahwa jika saja kegiatan membaca sebagai implementasi dari perintah Iqra’ terlepas dari bimbingan Allah dan wahyu-Nya, maka tidak akan ada perkembangan intelektual dan ilmu secara signifikan, apalagi sebuah peradaban kokoh sebagaimana yang telah dicapai Islam.

Pentingnya Memahami Makna Islam

Islam dibawa oleh Nabi Muhammad untuk umat manusia sebagai petunjuk untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Inti dari ajaran agama ini adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan Shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan pergi Haji bila mampu. Semua hal itu lebih kita kenal dengan sebutan rukun Islam.

Sebelumnya disebutkan bahwa islam memiliki arti kepasrahan atau ketundukan secara total kepada Allah. Orang yang beragama islam berarti dirinya telah berpasrah dan tunduk patuh hanya kepada ajaran-ajaran agama islam.

Syaikh Abdul aziz bin Baz menjelaskan tentang makna islam yang artinya sebagai berikut

“Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat serta patuh kepada-Nya, dengan penuh ketundukan dan perendahan diri.”

Maka, makna Islam adalah menundukkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, memurnikan amalan hanya untuk-Nya, menaati perintah-perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Orang yang beragama islam juga disebut Muslim, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah hamba yang patuh terhadap Allah, tunduk dan taat kepada-Nya, dengan melakukan apa saja yang Allah perintakan dan meninggalkan apa saja yang Allah larang. Mari kita menangkal ajaran teroris.

Artikel berjudul “Memahami Hakikat Islam Dapat Menjadi Cara Menangkal Ajaran Terorisadalah kiriman dari Hanafi Yardha, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...