Beranda Sajian Utama Memahami Tawaran Model Gerakan Islam Muhammad Iqbal, Seorang Mujaddid Islam Asia Selatan...

Memahami Tawaran Model Gerakan Islam Muhammad Iqbal, Seorang Mujaddid Islam Asia Selatan yang Patut Diperhitungkan

Harakah.id Muhammad Iqbal adalah satu dari sekian banyak tokoh pembaharu Islamdi abad modern-kontemporer. Pengalamannya di Pakistan mendorong Muhammad Iqbal untuk merumuskan satu tawaran konseptual bagaimana Islam seharusnya bergerak.

Muhammad Iqbal dikenal luas sebagai Bapak Spiritual Pakistan. Pidato kepresidenannya di Liga Muslim pada tahun 1930, telah membantu meluncurkan gerakan yang bertujuan untuk membagi Asia Selatan jajahan Inggris ke dalam dua Negara, Pakistan-Muslim dan India-Hindu yang sama-sama berdaulat. Di dunia politik, Iqbal dikenal juga sebagai “Kekuatan penggerak modernism Islam di Asia Selatan. Iqbal menancarkan kritik tajam terhadap kekakuan penafsiran keagamaan tradisional dan menyerukan suatu penekanan baru terhadap konsep pergerakan dalam penafsiran Islam.

Sebagai sebuah pergerakan cultural, Islam pada dasarnya menolak pandangan lama yang statis tentang alam semesta. Sebagai agama yang penuh dengan sikap toleransi yang tinggi yang bersifat menyatukan, Islam menghargai individu sebagaimana mestinya, dan menolak hubungan-darah sebagai aspek dasar dari persatuan manusia.

Iqbal mencontohkan salah satu contoh yang kontras dari pandangan Islam tadi. Agama Kristen yang sejak awalnya muncul sebagai tatanan yang monastic (gerejawi) telah dicoba oleh Konstantin (Kaisar Romawi, memerintah pada tahun 306-337) sebagai suatu sistem penyatuan. Kegagalan agama Kristen untuk berfungsi sebagai sistem tersebut mendorong Kaisar Julian (memerintah tahun 361-363) untuk kembali pada dewa-dewa lama Romawi yang ia coba berikan penafsiran-penafsiran filosofis. Seorang sejarawan modern tentang peradaban telah menggambarkan keadaan dunia yang beradab ketika Islam muncul dalam panggung sejarah.

Dan sebagai hasilnya, ternyata peradaban besar yang telah dibangun selama empat ribu tahun itu sudah mendekati kehancurannya, dan umat manusia sepertinya akan kembali kepada keadaan barbarian di mana setiap suku dan kelompok saling menyerang, dan hukum serta peraturan sudah tak dikenal. Aturan-aturan kesukuan lama pun sudah tak ada pengaruhnya lagi. Oleh karena itu, cara-cara kekaisaran lama tidak akan dapat berjalan lebih lama lagi. Aturan-aturan baru yang dibuat oleh Kristen telah menimbulkan perpecahan dan kehancuran yang menggantikan persatuan dan keteraturan. 

nucare-qurban

Maka, masih adakah kebudayaan yang dapat digunakan untuk menghantarkan manusia sekali lagi kepada persatuan dan untuk menyelamatkan peradaban? Menurut Iqbal, kebudayaan itu harus merupakan sesuatu yang baru, sebab aturan-aturan dan tata cara yang lama telah mati, dan untuk membangun kembali yang lain dari jenis yang sama merupakan pekerjaan yang akan memakan waktu berabad-abad. Iqbal menambahkan bahwa dunia ini sedang membutuhkan sebuah kebudayaan baru untuk mengambil alih tempat sebagai budaya kekaisaran dan sistem penyatuan yang didasarkan pada pertalian darah. Kehidupan dunia secara intuitif telah mengetahui kebutuhannya sendiri, dan pada situasi kritis menentukan arahnya sendiri.

Islam, sebagai sebuah Negara, menurut Iqbal, hanyalah suatu sarana praktis dalam menjadikan prinsip ini sebagai factor yang hidup di dalam kehidupan intelektual dan emosional manusia, Islam menuntut kesetiaan kepada Tuhan, bukan kepada kaisar. Karena Tuhan menjadi basis spiritual yang hakiki bagi semua kehidupan, kesetiaan kepada Tuhan sebenarnya sama dengan kesetiaan manusia kepada cota alaminya sendiri. Basis spiritual yang hakiki bagi semua kehidupan, sebagaimana dijelaskan dalam Islam, adalah abadi dan menyatakan dirinya dalam keragaman dan perubahan. Suatu masyarakat yang didasarkan konsepsi tentang realitas seperti itu harus menggabungkan, dalam kehidupannya, kategori-kategori yang tetap dan berubah.

Masyarakat itu harus memiliki prinsip-prinsip abadi untuk mengatur kehidupan kolektifnya;  karena keabadian itu memberi kita pijakan dalam dunia yang terus berubah. Akan tetapi, prinsip-prinsip yang abadi ketika dipahami untuk meniadakan semua kemungkinan perubahan, yang menurut al-Qur’an termasuk “tanda-tanda” terbesar dari Tuhan, cenderung untuk menghentikan apa yang pada esensinya bergerak secara alamiah. Kegagalan Eropa dalam ilmi-ilmu politik dan sosial mengilustrasikan prinsip yang pertama; kemandegan Islam selama kurang lebih 500 tahun terakhir melukiskan prinsip yang berikutnya. Jadi apakah prinsip pergerakan dalam Islam? Inilah yang dalam literature Islam dikenal sebagai ijtihad.

Kata ijtihad secara literal “mengerahkan kemampuan”. Dalam terminology hukum Islam ia berarti mengerahkan segala kemampuan dengan tujuan menghasilkan suatu penilaian yang independen dalam suatu masalah hukum. Muhammad Iqbal meyakini hal tersebut sesuai dengan ayat al-Qur’an yang artinya, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridlaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan Kami”. (Q.S. 29:69).

Secara lebih definitive digambarkan dalam sebuah hadits Nabi. Ketika Mu’adz (Ibn Jabal, wafat 627) dipilih sebagai pejabat di Yaman, diceritakan bahwa Nabi bertanya kepadanya  tentang bagaimana ia akan memutuskan perkara-perkara yang dihadapinya, “Saya akan memutuskan perkara itu berdasarkan Kitab Allah,” Kata Mu’adz. “Tetapi, jika dalam Kitab Allah tidak terdapat petunjuk bagimu?” “Maka aku akan berbuat berdasarkan contoh dari hadis-hadis Rasulullah.” “Tetapi, jika dalam hadis-hadis juga tidak ditemukan?” “Maka aku akan berusaha membuat penilaian sendiri”.

Hukum Islam tentunya selalu dikaitkan dengan al-Qur’an sebagai dasar sumber hukum utama dalam agama Islam. Iqbal  menjelaskan bahwa, ya, sumber utama hukum Islam adalah al-Qur’an. Akan tetapi, menurutnya, al-Qur’an bukanlah kitab undag-undang. Tujuan utamanya adalah untuk membangkitkan kesadaran manusia lebih tinggi tentang hubungannya dengan Tuhan dan Alam. Tidak diragukan bahwa al-Qur’an telah meletakkan beberapa acuan prinsip dan aturan umum, khususnya yang berhubungan dengan keluarga sebagai basis kehidupan sosial. Akan tetapi, mengapa aturan-aturan tersebut dijadikan bagian dari pewahyuan tentang tujuan akhir kehidupan manusia yang lebih tinggi?

Maka, hal penting yang harus dicatat berkaitan dengan hal ini, bagaimanapun juga, adalah pandangan al-Qur’an yang dinamis. Adalah jelas bahwa dengan cara pandang demikian, Kitab suci agama Islam itu tidak dapat bermusuhan dengan gagasan evolusi. Hanya saja, kita tidak boleh lupa bahwa kehidupan itu tidak berubah, tetapi tetap murni dan sederhana. Ia juga mengharuskan adanya konservasi terhadap elemen-elemennya. Sambil menikmati aktivitas kreatifnya dan selalu berusaha untuk memusatkan energy-energinya untuk menemukan pandangan hidup baru, manusia memiliki suatu perasaan yang tidak mudah untuk menampilkan pengungkapannya sendiri. 

Untuk itu Iqbal menyimpulkan bahwa baik dalam prinsip-prinsip dasar maupun dalam struktur sistem-sistem kita, sebagaimana kita jumpai sekarang, tidak ada sesuatupun untuk membenarkan sikap kita sekarang. Dilengkapi dengan pemikiran yang tersebar dan pengalaman yang segar, dunia Islam harus berani meneruskan upaya rekonstruksi para pendahulu mereka. Upaya rekonstruksi ini, bagaimanapun, memiliki aspek-aspek yang jauh lebih serius daripada sekadar penyesuaian diri dengan kondisi-kondisi kehidupan modern.

REKOMENDASI

Kapan Istilah Sufi dan Tasawuf Muncul Dalam Konteks Keilmuan Islam? Ini Sejarahnya…

Harakah.id - Sufi dan tasawuf, menurut Ibnu Khaldun, secara istilah memang belum dikenal secara luas di kalangan masyarakat Islam pada abad...

Islam Di Mata Barat; Media, Orientalisme dan Entitas Islam yang Termutilasi

Harakah.id - Orientalisme, Barat dan Islam adalah variabel kunci dari artikel yang Said tulis di tahun 1980 ini. Namun tampaknya apa...

Download Naskah Pidato Pengukuhan Dr [HC] KH. Afifuddin Muhajir; Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam...

Harakah.id - Pidato pengukuhan Doctor Honoris Causa KH. Afifuddin Muhajir ini penting untuk mengukuhkan posisi NKRI dalam timbangan syariat Islam.

Lewati 8 Kota di 7 Negara, Ini Rute Perjalanan Imam al-Bukhari Mencari Hadis

Harakah.id – Rute perjalanan Imam al-Bukhari mencari hadis bukan kaleng-kaleng. Delapan kota di tujuh negara dilewati oleh Imam al-Bukhari untuk mencari...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Harakah.id - Gerakan Habib Rizieq dan FPI-nya mendapat sorotan sejak lama. Para pemimpin Muslim di Indonesia tercatat pernah berseberangan dengannya. Inilah...